Custom Search
Link

Adbrite

Your Ad Here

Tuesday, August 15, 2006

TIDAK JADI BEDAH KANDUNG KEMIH

JH Alifulhaq

Awal Agustus 2006 lalu, di kantor saya ketemu teman sekantor yang baru saja dirawat di rumah sakit selama seminggu karena menderita maag, begitu menurut diagnosa dokter di rumah sakit tersebut.

Setelah maagnya diobati, teman ini merasakan kesakitan di pinggang dan di kandung kemihnya. Dokter menvonisnya, ada masalah dengan kandung kemihnya dan ada batu di saluran yang menuju kandung kemih. Vonis dijatuhkan setelah dokter meneliti hasil foto rengent, dan dia diharuskan segera masuk rumah sakit untuk dioperasi/dibedah.

Tetapi teman saya ini takut dibedah, dia tunjukkan pada saya hasil foto rengent nya, saya lihat dan teliti. Begitu saya tanyakan dia di bahagian mana dari organ tubuh dia dalam foto itu yang bermasalah, dia juga tidak bisa menunjukkan.

Teman saya tersebut sebentar-sebentar minum jamu mungkin untuk mengurangi rasa sakit atau sebagai obat agar tidak perlu dioperasi, tetapi rasa sakit tetap saja menyiksanya.

Dia tanya pendapat saya tentang penyakitnya, saya jawab sesuai yang saya ketahui. Saya tegaskan bahwa penyakitnya bukan seperti yang dikatakan dokter itu.
Dia juga tahu saya biasa mengobati orang tetapi tidak minta tolong pada saya. Mungkin dia tidak percaya pada model pengobatan seperti yang saya lakukan dan tidak bisa masuk nalarnya. Mungkin dia berpikir kalau saya mengobati orang dengan cara berdo’a pada Allah, dia seharusnya tidak akan menderita penyakit yang non medis karena dia sangat rajin ibadah pada Allah. Secara turun-temurun mereka adalah orang-orang yang rajin ibadah, tidak percaya pada dukun dan semacamnya.

Saya juga tidak mau mengajukan diri untuk menolongnya, takut dia salah terima. Tetapi saya kepikiran terus, ingat dia yang takut dibedah. Menurut pengalaman saya kalau kasus serupa dibedah, dia tidak akan bisa ditolong lagi, kalau tidak meninggal, dia akan sakit terus-menerus berkepanjangan sampai meninggal.
Hal inilah yang sangat menghawatirkan saya dan terus menghantui pikiran saya saat itu.

Sore hari masih hari yang sama, saya ketemu dia lagi waktu sama-sama ke masjid untuk shalat ashar. Habis shalat saat dia hendak kembali ke ruangan saya tahan dia di teras masjid. Saya menawarkan diri hanya untuk sekedar mengecek penyakitnya, ternyata dia mau.

Saya jabat tangannya kemudian saya terus memegangnya demikian sekitar tiga puluh detik, saya tanya apa yang dia rasakan. “ Saya mual, mau muntah “, kata dia. Saya suruh dia muntah di kamar mandi.

Setelah kembali dari kamar mandi, dia tidak merasakan sakit lagi, sakitnya hilang seketika, badannya yang panas juga sudah normal. Sakit di kandung kemih dan pinggang langsung sirna seketika.

Alhamdulilah dia tidak jadi dioperasi. Kalau dia tidak melanggar apa yang saya tetapkan dan tidak lalai melaksanakan apa yang saya minta, insyaallah tidak akan kambuh lagi.

MENJELAJAH ALAM JIN DAN SYETAN ( bagian 8 )

JH Alifulhaq

Bagi sebahagian masyarakat yang mendiami pulau Jawa, Nyi Roro Kidul adalah tokoh yang sangat dihormati dan ditakuti disamping tokoh yang dijadikan penolong, meskipun mereka tahu bahwa dia itu Ratu dari Kerajaan Syetan di laut Selatan pulau Jawa.

Kalangan dukun, paranormal dan mereka yang terlibat praktek mistik kebanyakan meminta bantuan Ratu ini.

Awal-awal saya mengobati orang saya sering bersama si sakit keluar-masuk istananya yang berada di dasar laut itu, bukan karena ingin kesana, tetapi proses pengobatan si sakit membawa saya kesana, karena penyakit yang diderita si sakit melibatkan Nyi Roro Kidul dan kerajaannya.

Kebanyakan penyelesaian akhir penyakit seseorang secara tuntas, disana tempatnya. Penyelesaiaan ini secara baik-baik atau bertempur. Saya selalu tawarkan pada Ratu dan kerajaannya agar mundur secara baik-baik, kalau tidak, artinya harus bertarung.

Ratu ini, namanya saja syetan, biar dia sepakat mundur secara baik-baik, nanti suatu waktu pasti akan menikam dari belakang dengan segala tipu muslihatnya yang canggih-canggih.

Orang-orang yang dipenjara dan disiksa di istana Nyi Roro Kidul

Pada artikel Menjelajah Alam Jin Dan Syetan ( bagian 6 ), saya paparkan, di istana Nyi Roro Kidul ada orang-orang yang dipenjara dan disiksa.

Setelah saya teliti, mereka itu adalah jiwa-jiwa orang yang kena santet dan sihir, karena dukun yang menyantet minta bantuan Nyi Roro Kidul. Ada juga jiwa orang-orang yang ingkar janji pada Nyi Roro Kidul. Misalnya seseorang yang telah minta tolong pada Ratu ini, tetapi orang tersebut tidak menunaikan persyaratan yang harus dipenuhinya. Pengingkaran baik sengaja maupun tidak sengaja, jiwanya akan disiksa disini.

Jiwa-jiwa yang disiksa dan dipenjara ini milik orang-orang yang masih hidup. Pemilik jiwa yang tersiksa ini bisanya sangat menderita. Penyakitnya berat dan sulit diobati, kecuali Allah menolongnya.

Setelah yang bersangkutan meninggal, jiwa yang disiksa dan dipenjara ini jadi milik Nyi Roro Kidul, biasanya dijadikan anggota balatentara atau hamba sahaya, tergantung kualitasnya.

Ada juga jiwa orang yang masih hidup menjadi pembantu Nyi Roro Kidul, baik sadar maupun tidak sadar. Kebanyakan orang-orang seperti ini punya ikatan yang kuat dengan Nyi Roro Kidul yang dibentuk lewat mantera-mantera, ritual-ritual tertentu yang intinya minta bantuan dan minta tolong Nyi Roro Kidul.

Mereka yang tinggi ilmu mistik atau punya kekuatan mistik yang baik dan telah menjalin ikatan yang akrab dengan Nyi Roro Kidul bisanya jiwa mereka menjadi andalan penting bagi kekuatan kerajaan syetan ini, baik selama yang bersangkutan masih hidup maupun sudah mati.

Jiwa orang-orang yang masih hidup ini dilibatkan dalam pertempuran dengan kerajaan jin atau kerajaan syetan lainnya atau dengan tokoh-tokoh kuat dikalangan manusia dan jin.
Yang bersangkutan ada yang tahu atau sadar dan ada pula yang tidak tahu dan tidak sadar dilibatkan, tetapi biasanaya mereka kesakitan kalau kalah bertarung, bisa sampai mati jadi tumbal Nyi Roro Kidul.

MENJELAJAH ALAM JIN DAN SYETAN (bagian 7 )

JH Alifulhaq
Beberapa bulan setelah saya mengobati si gadis, orang dari mana-mana berdatangan ke tempat saya minta tolong untuk diobati. Adakalanya mereka antri sampai pagi menunggu giliran. Dari sekian banyak kasus yang saya tangani, saya sering berhadapan dengan beberapa tokoh di alam itu.

Dua Kiyai dari daerah B
Setelah pertarungan melawan syetan si dukun dan sekutu-sekutunya bisa diselesaikan, biasanya akan muncul baking terkuat dukun di babak akhir pertarungan.

Yang sering saya temui pada babak akhir pertarungan dengan dukun daerah B adalah dua orang kiyai guru dan murid, serta Nyi Roro Kidul. Kedua kiyai ini cukup tangguh.

Pernah dalam suatu acara keluarga, saya ketemu orang-orang dari daerah B. Waktu itu saya penasaran, ingin tahu apa benar dua kiyai itu manusia dari daerah B atau jin. Kalau memang keduanya manusia, apakah masih hidup atau sudah mati.

Saya ajak ngobrol salah seorang diantara mereka, saya tanyakan tentang kedua kiyai tersebut. Ciri keduanya saya jelaskan seperti yang sering terlihat oleh penderita sakit yang saya obati di alam jin dan syetan.
Malah dia seperti mau salah paham, dianggapnya saya mau menguji dia dengan anggapan bahwa saya pernah bertemu muka dengan kedua kiyai tersebut, karena cirri-ciri dan gambaran yang saya berikan sangat cocok dan dia kenal dengan kedua kiyai tersebut. Setelah saya jelaskan bahwa saya tahu keduanya di alam jin dan syetan, dia makin heran.

Menurut dia, kedua kiyai itu jarang muncul di depan publik. Kalaupun muncul, hanya di kalangan terbatas pada acara semacam ritual agama sekali atau dua kali setahun. Dan dia mengakui kedua kiyai itu punya kehebatan, tetapi jarang diketahui masyarakat umum.

Setelah sekian lama saya sering menjumpai kasus serupa, akhirnya saya paham kenapa syetan dua kiyai ini sering muncul. Rupanya dukun dari daerah B itu banyak mengamalkan apa yang diajarkan oleh kedua kiyai ini untuk pagar pelindung diri mereka

Sunday, August 13, 2006

BEDAH KASUS PEMUDA GILA

JH Alifulhaq

Saya tidak tahu apa diagnosa dokter atau psiater terhadap penyakit yang di derita si pemuda. Dari obat penenang/obat tidur yang diberikan kepada si pemuda dan terapi lainnya yang dilakukan pihak medis, dugaan saya, mereka menganggap si pemuda menderita stress atau depressi. Kalau benar dugaan saya ini tentu selama dua tahun lebih itu pihak psiater berupaya membongkar persoalan-persoalan pada diri dan lingkungan pemuda sampai membuat dia sakit seperti itu. Persoalan-persoalan sejak dia usia sangat dini tentunya, kayaknya tidak ditemukan juga, karena nyatanya tidak sembuh-sembuh juga.

Bisikan-bisikan dan omongan-omongan itu tetap ada meskipun telah minum obat penenang/obat tidur atau distroom kepalanya. Pemuda itu mengaku setelah minum obat tidur itu, dia tidur, tetapi begitu bangun dari tidur bisikan-bisikan dan omongan-omongan itu muncul lagi.
Dari bukti ini saya yakin bahwa pemuda itu tidak menderita stress atau depressi.

Kalau kiyai, ustadz, dukun, para normal dan sebangsanya pasti menganggap pemuda itu dirasuki syetan, jin, roh jahat dan sebangsanya. Yang merasuki anak muda ini harus dikeluarkan agar dia sembuh. Cara mengeluarkan bisa dengan jalan kekerasan atau jalan damai dengan tawar-menawar dan bujukan-bujukan pada yang merasuki si penderita. Tetapi semuanya gagal total karena nyatanya si pemuda tidak sembuh-sembuh juga.
Mungkin mereka memandang persoalan si pemuda terlalu sederhana, yang merasuk itu dianggap sesuatu yang terpisah dari si pemuda, tinggal dikeluarkan atau dicomot, beres urusannya. Untuk kasus tertentu se sederhana itu memang akan berhasil dengan baik, tetapi semua gangguan jiwa atau gila persoalannya tidak se sederhana itu.

Pengobatan sin she sebagaimana pengobatan Cina kuno umumnya, mungkin melihat gangguan yang terjadi pada diri si pemuda ini akibat tidak seimbangnya antara energi panas ( Yang ) dan energi dingin ( Yin ) dalam diri si pemuda. Energi panas dalam diri pemuda berlebihan, harus diturunkan sampai pada tingkat keseimabangan dengan Yin. Tetapi kenyataannaya tidak juga membawa perubahan apa-apa pada diri si pemuda.

Begitu berhadapan dengan pemuda ini, kesimpulan pertama saya adalah terjadi konflik/disintegrasi dalam jiwa si pemuda. Konflik ini begitu nyata muncul dalam jiwanya karena bisikan-bisikan dan omongan-omongan di kepala, kuping dan dada bertentangan satu sama lain.

Kemudian saya harus mencari apa penyebab konflik/disintegrasi itu. Dari pengakuan jujur si pemuda, bagi saya sangat jelas, dia tidak mengenali jiwanya sendiri. Mungkin sudah sejak lama baik sadar maupun tidak sadar dia menganggap apapun yang berbisik tadi adalah jiwanya sendiri atau dirinya sendiri sehingga dia pupuk dan pelihara terus. Dia tidak menyangka sama sekali perkembangannya sampai jadi seburuk itu. Tetapi sudah terlanjur, dia tidak bisa mengatasinya lagi karena yang berbisik tadi sudah mendominasi dan menjajah jiwanya.

Setelah dia mengaku merasa enak berada di tempat saya, bisikan-bisikan dan omongan-omongan di kepala, telinga dan dada melemah, kadang-kadang hilang sama sekali. Fakta ini bagi saya menunjukkan bahwa konflik yang terjadi dalam jiwa si pemuda kombinasi antara faktor eksternal dan internal.

Kalau hanya karena faktor eksternal, bisikan-bisikan itu sudah hilang sama sekali begitu dia ada dihadapan saya.

Faktor eksternal itu datang dari luar diri si pemuda berupa syetan dan jin yang mengikatkan dirinya pada jiwa pemuda kemudian menjajahnya. Begitu berhadapan dengan saya, syetan atau jin itu takut sehingga pengaruhnya pada si pemuda berkurang. Mereka takut karena mereka tahu bahwa hirarki atau tingkatan mereka berada dibawah saya. Hal ini akan saya bahas pada bahagian akhir artikel ini.

Kenyataan bahwa bisikan-bisikan masih ada meskipun lemah, ini menunjukkan adanya faktor internal. Untungnya faktor internal ini belum terlalu kuat. Kalau faktor internal ini sudah sangat kuat akibat salah mengenal jiwanya, akan sangat sulit disembuhkan, mungkin tidak bisa lagi disembuhkan.

Memang kebanyakan manusia tidak mampu mengenal jiwanya sendiri secara benar dan tepat, sehingga membawa berbagai akibat dan penderitaan pada dirinya.

Dari hasil pengamatan dan pemahaman saya saat itu, saya sampai pada kesimpulan akhir diagnosis kasus si pemuda bahwa terjadi kolaborasi dan ikatan yang cukup kuat antara syetan atau jin dari luar dirinya dengan bahagian jiwa si pemuda tempat mereka bercokol dan membangun kekuatan dan kekuasaan untuk menjajah seluruh bahagian jiwa si pemuda.

Dengan hasil diagnosa seperti itu saya bisa menetapkan langkah yang diambil untuk penyembuhannya sebagai terapi, menghilangkan sama sekali bisikan-bisikan dan omongan-omongan di kepala, telinga dan dadanya secara permanen.

Untuk menghilangkan faktor eksternal, tinggal saja mengusir syetan dan jin yang telah menjajah jiwanya. Tetapi itu tidak cukup. Kalau faktor internal tidak diselesaikan, setiap saat jin dan syetan itu akan bisa kembali bercokol disitu.
Saya bimbing dan bantu si pemuda untuk menyelesaikan faktor internalnya. Penyelesaian faktor internal dan eksternal berjalan simultan sehingga persoalannya cepat tuntas, tentu saja dengan tekhnik dan metode baik yang bisa dilihat, didengar dan diketahui, atau yang tidak bisa ditangkap atau disaksikan oleh orang lain karena proses itu terjadi di alam jin dan syetan.

Sekarang saya bahas masalah hirarki. Bila anda membaca semua artikel-artikel saya yang berjudul MENJELAJAH ALAM JIN DAN SYETAN di topik PENJELAJAHAN MERAIH BUKTI di categories, mungkin anda akan punya gambaran tentang ini.

Interaksi di dalam alam jin dan syetan senantiasa didasarkan atas hirarki atau tingkatan. Siapa yang paling berkuasa di suatu kelompok, dialah yang menempati hirarki yang tertinggi di kelompok ini.

Hirarki ini tidak ditentukan lewat promosi, warisan keturunan, dukungan atau sogokan seperti yang terjadi di masyarakat manusia.
Misalnya begini, posisi raja di kerajaan jin atau syetan sangat sentral. Begitu rajanya seorang kalah atau ditawan, kerajaan ini tidak ada lagi.

Di alam itu secara otomatis mereka sudah tahu posisi masing-masing begitu ketemu satu sama lain dalam hirarki tadi. Posisi dalam hirarki ini ditentukan oleh kemampuan setiap individu dalam keseharian.

Sebenarnya pemegang kekuasaan tertinggi dan berada di peringkat hirarki tertinggi di bumi ini adalah manusia. Adam mendapatkan dengan gampang sebagai karunia dari Allah Taala, tanpa ikhtiar, tanpa perantaraan makhluk lain seperti malaikat. Malaikat dan iblis diperintahkan oleh Allah sujud pada Adam yang telah diangkat jadi khalifah di bumi, pemegang otoritas dan kekuasaan tertinggi di bumi.

Adam mendapat karunia ini lewat ilmu yang diajarkan sendiri oleh Allah padanya, tidak diajarkan pada makhluk lainnya seperti malaikat, iblis dan jin.. Pengajaran ini tidak lewat perantara malaikat. Jadi berada di hirarki tertinggi karena ilmu, bukan karena kekuatan.

Begitu juga dengan Nabi Sulaiman, dia berada di hirarki yang sangat tinggi di alam jin dan syetan karena Allah mengajarkan ilmu dan hikmah padanya.

Tetapi Adam teledor dan tergelincir, posisinya sempat direbut syetan, begitu juga Sulaiman sempat teledor juga sampai posisinya direbut syetan.

Kenapa Adam teledor dan tergelincir, dia tidak punya kemauan yang kuat unrtuk mematuhi perintah Allah.

Setiap diri manusia punya potensi untuk menempati hirarki tertinggi di alam jin dan syetan. Tetapi kebanyakan manusia tidak mengenal jiwanya sendiri. Manusia lupa pada jiwanya sendiri, begitu kata Allah.
Dalam hal ini manusia ibarat orang yang punya senjata yang sangat canggih yang bisa melumpuhkan apa saja dan siapapun di alam jin dan syetan. Tetapi kebanyakan manusia tidak tahu menahu potensinya, kalaupun ada yang tahu, tidak mengerti dimana atau dibahagian mana adanya dan bagaimana menggunakannya.

Untuk meraih peringkat yang tinggi di alam jin dan syetan seorang anak manusia harus berikhtiar dan berjuang menunjukkan kemampuannya. Dia harus buktikan bahwa dia paham tentang potensi yang dimilikinya termasuk cara menggunakannya. Dia kenal secara benar dan tepat jiwanya sendiri dan dia bisa membedakan yang bukan jiwanya. Dia juga memahami seluk beluk alam jin dan syetan termasuk interaksinya satu sama lain terutama dengan jiwa manusia.

Satu hal yang perlu di ketahui, jin yang cerdik akan lebih gampang mendapat kekuatan dan kekuasaan. Jin atau manusia yang memiliki kekuatan yang baik belum tentu bisa berkuasa. Bisa saja dia gampang ditipu sehingga kekuatannya tidak bisa dia manfaatkan, malah dimanfaatkan oleh penipunya ( kasus ini yang banyak sekali terjadi ). Alam jin dan syetan sangat kaya dengan tipu muslihat, jin dan syetan terkenal sebagai penipu-penipu sangat ulung, pembohong dan sombong.
Kembali pada persoalan pemuda tadi, kenapa syetan yang ada di dalam diri si pemuda takut pada saya, karena mereka tidak hanya sekedar tahu posisinya, tetapi yang sangat penting mereka sangat tahu tentang reputasi saya di alam itu. Mereka tahu saya pernah bertarung melawan siapa, cara saya bertarung bagaimana, dan hasilnya bagaimana.

Di alam jin dan syetan, kejadian apapun di suatu tempat cepat sekali diketahui oleh jin dan syetan di tempat lain di bumi dan di langit.

Begitu berhadapan dengan saya, apakah mereka mau melawan dalam arti dengan cara yang licik. Kalau berhadapan langsung mereka tahu itu tidak mungkin.

PENGAKUAN PEMUDA GILA

JH Alifulhaq

Seorang pemuda tamatan SMA menderita gangguan jiwa sudah parah cukup lama, dua tahun lebih. Dia sudah tidak mau kemana-mana, hanya tinggal dalam kamar. Diajak berobat juga sudah tidak mau.
Di rumah sering mengamuk, barang yang ditemui dihancurkan. Bahkan ibu dan nenek yang sangat disayanginya dihajar juga.

Seringkali kalau nenek atau ibunya yang mengantar nasi ke kamarnya, nasi dan piringnya dipukulkan pada wajah orang yang disayanginya ini.

Keluarganya pernah melamar seorang gadis untuk dia dengan acara dan prosesi yang sangat meriah, mereka pikir dengan cara ini si pemuda akan sembuh, tetapi si pemuda tidak mau kawin, malah sakitnya tambah parah.

Suatu malam ada keluarga dekat mereka bertamu kesitu, bercerita tentang penyakitnya yang sembuh seketika saat berobat ke tempat saya.
Si pemuda mendengar penuturan ini dari kamarnya, langsung dia minta diantar ke tempat saya.

Begitu berhadapan dengan saya, si pemuda menyatakan keheranannya sendiri, kenapa tiba-tiba dia mau datang ke tempat saya, karena dia sudah lama menolak untuk diobati., yang diakuinya hanya membuatnya tambah sakit.

Berobat ke dokter dan psiater sudah tidak terhitung jumlah kunjungan dan biaya yang dikeluarkan, sempat masuk asrama ( istilah dia untuk rumah sakit jiwa ), di stroom kepalanya selama tiga minggu, tetapi dia tambah menderita.

Begitu juga dengan pengobatan alternatif. Ada berita tentang orang pintar, kiyai, ustadz, dukun, para normal dan sebagainya yang bisa mengobati dan menyembuhkan orang, dia langsung dibawa keluarganya kesana. Hasilnya tambah parah.

Berobat ke sin she ( pengobatan Cina ) juga tidak ada hasilnya..

Disaksikan oleh semua anggota keluarga yang mengantar, dia bicara jujur pada saya : “ Orang mengatakan saya gila, tetapi mereka tidak paham apa yang terjadi pada diri saya. Di kepala ada bisikan dan ngomong, di telinga dan di dada juga ada. Apa yang dikatakan ketiganya bertentangan satu sama lain. Saya jadi bingung Om, mana yang harus didengar dan diikuti, saya kesal, marah dan mengamuk, tidak tahan lagi. Bisikan dan omongan itu tidak pernah berhenti dan tidak pernah bisa dihentikan..

Dia merasa heran, begitu ada di rumah saya, bisikan-bisikan itu melemah, kadang-kadang hilang. Dia sadar kalau bisikan-bisikan dan omongan-omongan itu hilang, pasti dia sembuh, seperti dia rasakan saat itu.

Dia minta tolong saya untuk menghilangkan bisikan-bisikan dan omongan-omongan itu. Kemudian dia menjalani terapi dengan baik selama beberapa menit seperti yang saya minta, hasilnya dia merasa bebas sama sekali dari bisikan-bisikan itu. Dia kelihatan sangat senang dan bahagia.
Saya ingatkan, kalau bisikan-bisikan dan omongan itu muncul kembali setelah kembali ke rumahnya, dia harus kembali ke saya tiga hari lagi pukul 23.00, membawa perlengkapan mandi seperti handuk dan sebagainya.
Waktu itu saya pikir, syetan yang ada dalam diri pemuda itu sangat kuat, kalau tidak mau keluar juga, saya harus menerapkan cara yang lebih keras.

Memang bisikan-bisikan dan omongan-omongan di kepala, telinga dan dada masih ada, tetapi tidak begitu kuat lagi setelah beberapa lama dia kembali ke rumah, tetapi sudah tidak ngamuk lagi.

Tiga hari kemudian dia datang seperti yang saya minta. Saya mandikan dia tengah malam pakai air biasa yang saya doakan ( tidak ada tambahan apa-apa seperti kembang dan sebagainya ) tepat pada pukul 00.00. Dia menggigil kedinginan sewaktu saya mandikan, tetapi hasilnya, dia merasakan otaknya jadi jernih, begitu juga dadanya terasa enteng, tidak berat lagi. Bisikan dan omongan hilang sama sekali, dia merasa sembuh total.

Beberapa hari kemudian keluarga pemuda menjemput saya untuk melihat rumah mereka. Sayapun kesana dan beberapa hal saya sampaikan untuk dibenahi.

Tiga bulan setelah itu si pemuda datang ke rumah saya naik sepeda motor sendirian dan memberi tahu saya bahwa dia sudah bekerja. Dia menyatakan kangen dan ingin sering datang ke rumah saya kalau diizinkan, karena menurut pengakuannya dia merasa tenang dan damai begitu berada di rumah saya.

Kasus ini saya jadikan bahan pembahasan dalam topik BEDAH KASUS di blog ini.

Saturday, August 12, 2006

SEBAIKNYA SAINS KEDOKTERAN BERDAMAI DENGAN AL QUR’AN AGAR TIDAK STAGNAN DAN MANDUL

JH Alifulhaq

Banyak kasus kesehatan yang menimpa sejumlah anak manusia tidak bisa dijawab/diselesaikan oleh sains kedokteran termasuk psikologi.

Ada anggapan sejumlah ilmuwan, sains telah memasuki usia senja dan mengalami stagnan, termasuk sains kedokteran. ( silahkan baca artikel yang berjudul Sains Dan Kehidupan dib log ini )

Seharusnya persoalan ini tidak terjadi kalau dasar berpijak cabang ilmu ini berada di tempat dan posisi yang tepat. Sains kedokteran memandang segala proses dan gejala yang terjadi dalam tubuh manusia sebagai proses fisis belaka dan penanganannyapun didasarkan pada pemahaman tersebut.
Padahal proses itu tidak mungkin terjadi kalau tidak ada kehidupan yang menggerakkannya.

Memang kalangan ilmuwan di bidang ini mengakui ada kehidupan dibalik itu, tetapi kehidupan yang mereka maksud, tidak jelas gambarannya, hanya meraba-raba.

Psikologi mencoba meraba-raba tentang kehidupan ini dalam mempelajari jiwa, tetapi bidang ilmu yang ini tidak jelas juga pemahamannya tentang jiwa yang dipelajarinya.
Jiwa yang menjadikan manusia hidup.

Psikologi hanya mempelajari jiwa dari sisi gejala, dorongan-dorongan dan perilaku yang menjadi out put dari aktivitas jiwa. Sementara jiwa sebagai inti persoalan setiap diri manusia, tidak tersentuh dalam arti tidak dipelajari.

Kalau saja sains kedokteran termasuk psikologi berdamai dengan Al Qur’an dan Al Hadith, banyak persoalan kesehatan manusia yang selama ini tidak bisa diselesaikan oleh kedokteran dan psikologi, bisa diselesaikan dengan baik.

Al Qur’an secara jelas mengajarkan kita tentang manusia, dan bahagian-bahagian pokok setiap diri. Manusia terdiri dari jasad/tubuh ( al jasad ), jiwa ( an nafs ) dan ruh ( ar ruh ).

Al Jasad
Tubuh atau al jasad sudah cukup jelas, yaitu sosok atau materi yang tertangkap oleh panca indera.

Jiwa
Pemahaman tentang jiwa ( an nafs ) yang kita tangkap dalam Al Qur’an dan Al Hadith adalah suatu sosok yang hidup, punya otoritas sendiri, bisa mandiri atau bisa terikat dalam suatu ikatan dengan jiwa lainnya atau sosok lain serta bisa terikat atau lepas dari jasad.
Setiap diri manusia terdiri dari banyak sekali jiwa yang terikat satu sama lain sebagai suatu ikatan yang kuat.

Persoalan yang cukup sulit adalah mengenal dan memahami jiwa ini seperti apa yang diajarkan oleh Allah Taala dalam Al Qur’an dan lewat Rasulullah saw.
Mengenal jiwa ( an nafs ) ini tidak bisa hanya dari yang kita baca dan kita dengar saja, tetapi harus dalam bentuk amaliah.
Ini sesuai dengan sifat dasar ilmu-ilmu dalam Islam yang sifatnya ilmu amaliah. Seseoragng tidak akan mendapatkan pemahaman yang benar tentang sesuatu ilmu dalam Al Qur’an tanpa proses pengamalan yang benar pula.
Misalnya tentang jiwa ( an nafs ), tidak mungkin kita tahu seluk-beluknya tanpa mengenalnya.

Untuk mengenal jiwa ( an nafs ) kita sendiri butuh proses panjang melalui tahap-tahap yang runut seperti yang diajarkan oleh Allah dalam Al Qur’an. Bisa-bisa yang kita sangka jiwa sendiri, padahal bukan, karena salah mengenal, sehingga menimbulkan berbagai akibat berupa gangguan penyakit yang sulit disembuhkan. Dari banyak kasus salah mengenal jiwa ini yang saya tangani, butuh waktu yang cukup lama untuk menyelesaikannya.

Kasus yang banyak saya temukan, penderita mengira jiwanya sendiri yang dia turuti, padahal itu syetan atau jiwa lain yang mendominasi dan menjajah jiwanya.

Mengenali jiwa sendiri secara benar dan tepat merupakan modal dasar bagi siapapun yang ingin mengobati orang.
Salah mengenal jiwa sendiri membawa persoalan rumit bagi dirinya dan orang yang diobatinya.

Kasus-kasus salah mengenal jiwa sendiri yang sudah sangat jauh mendalam dan berlarut-larut, tidak bisa disembuhkan lagi.

Untuk mengenal jiwa sendiri secara benar dan tepat, seseorang butuh bimbingan orang-orang yang paham cara-cara dan tahap-tahapnya secara runut jalan kearah pengenalan jiwa sendiri dalam bentuk praktek ( amaliah ). Kalau mau mencoba sendiri bisa saja, tetapi kemungkin untuk nyasarnya sangat besar.

Biasanya orang-orang yang telah mengenal jiwanya secara benar dan tepat, mereka bisa mengatasi persoalan kesehatan diri, kesehatan keluarga dan orang lain, sepanjang dia tahu cara memanfaatkan pengetahuannya itu.
Mereka juga bisa mengenal dan memilah-milah jiwa-jiwa yang bercokol dan mempengaruhi dirinya.

Orang-orang seperti ini punya kemampuan yang baik untuk membersihakan jiwanya seperti yang diperintah oleh Allah Taala.

Kalau ingin mengetahui jiwa dalam bentuk amaliah/praktek, saya sarankan anda membaca semua artikel yang saya posting di blog ini ( http://www.terapi-alif.blogspot.com ), mudah-mudahan bisa membantu.

Ar Ruh
Masalah ruh ( ar ruh ) tidak berani saya bicarakan secara terbuka disini, karena itu urusan Allah, hanya sedikit yang diajarkanNya.
Kalaupun saya bicarakan yang sedikit itu, paling-paling dalam lingkungan yang sangat terbatas.

Tetapi dengan memahami jiwa secara benar dan tepat, sudah cukup untuk menyelesaikan kasus-kasus kesehatan dan bisa menjawab berbagai persoalan yang belum terjawab selama ini.

Melihat Sendiri Penyebab Penyakit

JH Alifulhaq
Kebanyakan penderita yang menjalani penyembuhan dengan Terapi Alif bisa melihat sendiri apa penyebab penyakitnya. Misalnya kalau dia kena santet atau sihir dan semacamnya penderita bisa melihat sendiri dengan jelas siapa yang menyantetnya. Penyantetnya melakukan sendiri atau menyuruh orang lain, dukun misalnya. Penderita juga akan melihat siapa dukunnya, dimana rumahnya, bagaimana cara menyantetnya, menggunakan media apa dan dibayar berapa untuk itu. Informasi lainnya bisa diketahui sendiri oleh penderita kenapa dia disantet. Penyebab lainnya misalnya penyakit keturunan dan kekuatan apapun yang dicarinya sendiri untuk pagar diri, bela diri, pengasih, susuk dan sebagainya bisa juga dilihat penderita secara jelas.

Nama Alif

JH Alifulhaq
Mengobati orang bagi saya adalah jalan pembukitan akan pemahaman dan keyakinan tentang Ketuhanan yang saya geluti sejak usia sangat dini. Jadi kemampuan mengobati orang tidak saya peroleh dari wangsit atau berguru khusus tentang pengobatan baik pada dukun maupun pada kiyai, tabib atau ustadz. Saya lakukan pengobatan atas pemahaman yang diajarkan oleh Allah dan rasulNya dalam AlQur’an dan Al Hadits tentang Allah, malaikat, manusia, iblis, syaitan, jin dan lainnya, terutama manusia dan interaksinya di alam jiwa.
Allah Yang Maha Agung menciptakan setiap diri manusia dari satu jiwa dengan karakter masing – masing yang ditetapkanNya. Hanya satu yang sama dari setiap jiwa yang diciptakan itu adalah pengakuannya bahwa Allah adalah Rabbnya tempat mereka berserah diri.
Konsep Terapi Alif adalah upaya mengembalikan jiwa penderita pada patron yang telah ditetapkan oleh Sang Pencipta saat diciptakan, terlepas dari dia beragama Islam atau bukan. Jiwa yang diciptakan oleh Allah ini senantiasa mendapat ilham dua hal yaitu kefasikan dan ketaqwaan. Kalau dia mengikuti ilham kefasikan, maka dia berada di sisi syaitan yang seharusnya menjadi musuhnya. Apabila dia mengikuti ilham ketaqwaan maka dia berada di jalan Tuhan yang menciptakannya.
Kata alif diambil dari bahasa Arab yang berarti pertama atau utama. Terapi Alif berpatokan pada proyeksi jiwa pertama yang diciptakan. Jadi terapi alif adalah upaya pengembalian pada kemurnian jiwa yang diciptakan pertama kali untuk setiap diri dengan sifat dan karakter masing-masing. Dia inilah yang kembali kepada Sang Pencipta dan mempertanggungjawabkan segala sesuatu yang melekat pada dirinya sebagai wujud amal perbuatannya selama hidup di dunia. Apakah dia ingkar janji pada Penciptanya atau tidak itulah persoalan pokoknya.
Jadi Terapi Alif bukan sekedar mengobati penyakit, tetapi pada hakekatnya adalah jalan menuju pemurnian jiwa/pembersihan jiwa yang akan dirasakan oleh siapapun yang menjalaninya. Begitulah yang dirasakan oleh mereka yang pernah menjalani Terapi Alif, dan terus memelihara diri dari penyimpangan-penyimpangan yang menyebabkan disintegrasi dalam dirinya.

Taruhan Nyawa

JH Alifulhaq
Membaca tulisan ini mungkin terkesan bahwa penyembuhan dengan Terapi Alif sangat sederhana dan gampang. Bagi saya yang melakukan penyembuhan, terjadi pertarungan yang menentukan di alam jiwa untuk menghadapi perlawanan kekuatan atau apapun bentuk penyebab gangguan penyakit pada pasien. Saya pernah mengalami sakit parah beberapa kali dan pernah juga merasakan hampir mati. Seringkali anggota keluarga juga diserang oleh kekuatan yang datang dari pasien yang sedang diobati. Adakalanya, pasien sudah sembuh total, tetapi urusan saya dengan kekuatan penyebab penyakit pasien masih panjang, bisa berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, malah ada yang sampai tahunan terus bertarung melawannya dengan taruhan nyawa. Mungkin anda bertanya mengapa tidak pakai pagar yang sangat populer pada pengobatan alternatif. Pemahaman saya yang mendasari Terapi Alif bahwa setiap diri manusia dan seluruh mahluk yang ada, dijaga dan dipelihara oleh Allah Rabbul’alamin sesuai yang ditegaskanNya sendiri dalam Al Qur’an. Memelihara dan menjaga setiap diri adalah hanya haq Allah, saya tidak akan berani dan tidak akan mau melampui haq Allah. Pengalaman saya mengobati orang menunjukkan kasus penyakit yang berat dan rumit kebanyakan akibat pagar-pagar semacam itu. Adapun penderitaan yang saya alami adalah ujian bagi keimanan saya dan begitulah ketetapan Allah, seperti yang dijelaskan dalam Al Qur’an, tidak cukup kamu mengatakan kami beriman, kamu akan diuji.

Percaya Tetapi Tidak Mengakui

Percaya tetapi tidak mengakui
Menghadapi dokter yang datang minta tolong, kadang-kadang menggelikan. Mereka percaya bahwa saya bisa mengobati dirinya atau keluarganya sampai sembuh, makanya datang pada saya. Tetapi pasien mereka yang tidak sembuh-sembuh atau tidak bisa tuntas dalam penyembuhannya tidak pernah dibawa kepada saya.
Ada seorang dokter kepala sebuah Puskesmas di Jakarta kabur dari rumah sakit yang telah merawatnya selama delapan hari. Kabur dalam arti bahwa dia belum dibolehkan pulang karena masih sakit dan tambah parah sakitnya. Kaburnya, langsung datang ke saya. Tubuhnya dibalut pakaian tebal berlapis-lapis dan tidak berani menyentuh air karena merasa sangat dingin dan menggigil. Saya obati, dia sembuh total saat itu juga. Dokter yang bersangkutan sebelumnya pernah datang ke saya dengan kasus, beser ( setiap sepuluh menit dia pipis ). Dia sudah janji dengan sebuah rumah sakit terkenal di Jakarta, tiga hari lagi akan dibedah kandung kemihnya untuk mengangkat semacam polip penyebab penyakit dengan biaya jutaan rupiah. Penderitaannya sudah bertahun-tahun dan selama itu menenggak obat-obat secara rutin yang diakuinya mahal-mahal. Dengan Terapi Alif dia sembuh saat itu juga dan tidak jadi operasi dengan biaya jutaan rupiah.
Yang datang minta tolong pada saya ada juga kiyai dan segolongannya yang membuka praktek pengobatan serta konsultasi dan ada juga paranormal yang menderita penyakit yang tidak bisa disembuhkan oleh diri mereka sendiri dan medis.
Kebanyakan yang datang pada saya adalah mereka yang hampir putus asa akibat penyakit yang tidak bisa disembuhkan oleh dokter dan pengobatan alternatif, telah terkuras harta dan tenaga dalam berbagai bentuk pengobatan yang tidak membuahkan hasil apa-apa, malah dalam sejumlah kasus, penyakitnya menjadi tambah parah.

Kerjasama

JH Alifulhaq
Kasus-kasus yang saya ungkapkan dalam tulisan ini bukan untuk memojokkan bidang kedokteran atau profesi kedokteran, tetapi untuk membuka mata dan pikiran kita semua tentang realita yang ada dan persoalan yang sebenarnya agar penderita khususnya dan masyarakat umumnya tidak menjadi korban salah diagnosa dan salah terapi mengakibatkan kerugian yang sangat besar berupa jiwa dan harta.
Dari pembicaraan saya dengan beberapa dokter yang datang dan minta tolong kepada saya, mereka bisa memahami mengapa sejumlah kasus tidak bisa sembuh oleh bidang medis/kedokteran, sementara dengan Terapi Alif bisa sembuh total karena berbeda dasar pemahamannya sehingga berbeda juga cara penanganannya seperti saya jelaskan di bahagian depan tulisan ini. Saya tawarkan jalan yang terbaik adalah kerjasama antara kedokteran dengan Terapi Alif baik dalam aplikasi penyembuhan maupun pengembangan ilmu agar semua kasus penyakit dalam masyarakat bisa ditangani secara tepat dan benar, dalam arti hasilnya kesembuhan total. Saya yakin dengan kerjasama semacam ini perkembangan bidang pengobatan akan maju pesat kareana keduanya akan saling mengisi.
Tapi masalahnya, kebanyakan rekan-rekan yang menyandang profesi kedokteran merasa tabu dan suatu aib bila berhubungan dengan pengobatan alternatif yang terkesan sebagai praktek klenik.

Berdoa

JH Alifulhaq
Bagi penderita, menjalani penyembuhan dengan Terapi Alif yang utama diminta berdoa yang sederhana, tidak ada amalan lain seperti wirid, semedi, mandi kembang, jimat/izim dan sebagainya. Adapun penyakit yang disebabkan oleh perilaku penderita yang menyimpang dari keyakinannya ada hal lain yang harus dipenuhinya sebagai syari’at, tergantung kasusnya, tetapi hal ini jarang saya temui dalam mengobati penderita yang datang pada saya. Misalnya anak yang durhaka pada orangtua, sementara orangtuanya masih hidup, dia harus datang pada orangtuanya untuk minta ampun dan harus mendapat ampunan dari orangtua dengan ikhlas. Itu syarat mutlak untuk kesembuhan. Banyak lagi hal lainnya menyangkut kasus yang memerlukan persyaratan yang harus dipenuhi, tidak akan diterangkan semua disini karena sangat banyak.

Hubungan Jiwa Dan Jasad

Hubungan jiwa dan jasad
Jasad tubuh manusia ibarat sarang tempat jiwa terikat. Hubungan keduanya dijembatani oleh syaraf. Apabila ada konflik dalam jiwa maka terjadi error dan perintah yang disampaikan kepada syaraf untuk dieksekusi oleh jaringan tubuh akan error juga. Bisa saja si penderita merasakan sakit yang luar biasa pada organ tubuh tertentu, tetapi begitu di scan tidak ditemukan penyebabnya.
Bisa juga perintah yang error dari jiwa ini membuat organ tubuh jadi rusak atau tidak berfungsi lagi. Kasus semacam ini pernah dialami saudara sepupu saya sebelum saya menggeluti bidang penyembuhan. Dokter yang merawatnya di rumah sakit menyatakan dia gagal ginjal dua-duanya. Mau cuci darah secara rutin dan cangkok ginjal tidak mungkin karena sangat mahal, tidak mungkin mampu membiayainya. Kondisinya sangat parah, duduk bersandar saja hanya mampu beberapa menit, selebihnya berbaring. Dokter menyuruhnya pulang saja untuk menunggu hari-hari terakhirnya di rumah dengan tenang dan terus berdoa sebelum ajal menjemputnya. Tidak disangka setelah sebulan keluar dari rumah sakit, dia sembuh total kemudian kembali bertani.
Perintah error dari jiwa ini bisa juga membentuk citra semu dalam organ tubuh seseorang. Kasus semacam ini dialami kerabat dekat isteri saya. Dia berobat ke rumah sakit terkenal di Singapura. Hasil penyinaran dengan sinar X menunjukkan bahwa di empedunya ada batu yang cukup besar yang harus segera dikeluarkan dengan pembedahan secepatnya. Dokter ahli yang menangani memeriksa lebih teliti lagi si pasien sebelum dibedah, kumudian dilakukan penyinaran lagi dengan sinar X, batu empedu tidak tampak lagi, sehingga tidak jadi dibedah.
Kasus serupa pernah saya tangani juga. Seorang pasien koma sekitar seminggu di sebuah rumah sakit papan atas di Jakarta. Dari hasil scanning, terlihat ada tumor di otak pasien. Pihak rumah sakit membentuk tim dokter yang akan membedah pasien setelah pasien sadar dan agak kuat kondisi fisiknya. Saya mengobati penderita ini masih dalam keadaan koma. Beberapa hari berikutnya, penderita sadar dan kondisi fisiknya pulih. Tim dokter memeriksanya sebagai persiapan untuk pembedahan otak termasuk di scanning ulang. Tumor diotaknya tidak ditemukan lagi sehingga tidak jadi dibedah.
Dalam hubungan antara jiwa dan jasad, gangguan bisa juga akibat sebaliknya, misalnya organ tubuh sakit karena cedera, rusak, infeksi, terserang kuman penyakit, keracuanan dan sebagainya, tetap jiwa juga yang merasakan kesakitan. Kalau penyebabnya adalah murni fisik/jasmaniah, maka itu adalah urusan medis/kedokteran dan seharusnya bisa tuntas dalam pemnyebuhannya dengan tindakan medis yang tepat tentunya.

Sembuh Seketika Karena Kasus Sederhana

JH Alifulhaq
Dari judul artikel ini, sembuh seketika tentu banyak yang tidak percaya karena belum membuktikannya sendiri. Penyembuhan seketika bisa terjadi karena kasusnya sederhana, ibarat kotoran yang menempel tidak terlalu kuat, tidak merusak jaringan / sistem jiwa penderita. Begitu kotoran itu diangkat, penderita langsung sembuh total saat itu juga. Banyak juga kasus penyakit yang tidak bisa sembuh seketika karena cukup berat dan rumit, tetapi pada saat pengobatan pertama kali penderita sudah merasakan tanda-tanda kesembuhan, artinya penyakit yang dideritanya sudah mendapatkan pengobatan yang tepat. Tinggal dia menjalani terapi dengan tekun dan sabar, teragantung berat ringan kasusnya.

Penyakit Yang Tidak Bisa Disembuhkan

Penyakit yang tidak bisa disembuhkan
Apabila sistem jiwa yang sakit tadi diibaratkan adonan kue, kemudian adonan tersebut sudah matang jadi kue, maka tidak bisa lagi diurai, sehingga tidak bisa lagi disembuhkan dengan cara apapun. Biasanya kasus semacam ini merupakan ketetapan Allah Ta’ala berupa takdir karena dosa dan kesalahan yang bersangkutan. Pengalaman saya mengobati orang, penyebabnya antara lain penderita durhaka / dosa kepada orangtua, dia tidak minta ampun pada orangtuanya sebelum orangtuanya meninggal. Ada juga penyakit yang tidak bisa disembuhkan ini karena sistem dalam jaringan tubuhnya sudah rusak total, terutama jaringan syaraf baik oleh gangguan fisik maupun oleh konflik dalam dirinya dalam waktu yang cukup lama dan berlarut-larut.

Disintegrasi dan Konflik

JH Alifulhaq
Memahami disintegrasi dan konflik secara tepat dalam diri seseorang menjadi masalah mendasar dalam penyembuhan. Apa penyebab disintegrasi bagaimana terjadinya sehingga terjadi konflik yang menyebabkan sakit pada fisik dan jiwa. Dibahagian depan telah saya kemukakan bahwa dalam setiap diri individu terdiri dari banyak sekali jiwa yang terikat dalam suatu sistem / jaringan yang sangat rumit. Begitu ada aktivitas batin yang tidak selaras dengan sistem yang terbentuk oleh jiwa tadi, maka dengan sendirinya jiwa yang terbentuk oleh aktivitas batin tadi akan konflik dengan jiwa – jiwa yang membentuk sistem tadi baik sebahagian, maupun secara keseluruhan, tergantung bagaimana kuat, luas dan dalamnya pengaruh kegiatan batin individu yang bersangkutan. Kasus ini merupakan gangguan INTERNAL ( dari diri sendiri ).
Ada juga gangguan eksternal yang menyebabkan disintegrasi dan konflik misalnya kena santet , teluh, sihir dan semacamnya.
Kasusnya akan sangat rumit apabila gangguan / penyakit itu disebabkan oleh kombinasi antara gangguan internal dan gangguan eksternal. Apalagi kombinasi ini sudah menyatu dengan sistem jiwa yang ada, ibarat adonan kue, dimana tepung, gula, garam, telur, coklat dan sebagainya telah larut menjadi satu. Penyembuhan kasus semacam ini butuh waktu yang cukup lama, tidak bisa seketika, mungkin berhari – hari, beberapa minggu, berbulan – bulan, ada juga yang bisa setahun atau dua tahun. Sebab semua penyebab penyakit yang telah larut tadi, harus diurai kembali satu persatu misalnya, unsur gula, garam, telur, dan sebagainya yang menjadi masalah dalam adonan tadi harus diurai satu persatu. Karena jiwa yang sakit akibat kombinasi gangguan internal dan eksternal dicemari banyak sekali unsur.

Terapi Alif – Pengobatan Oriental ( Cina Kuno )

JH Alifulhaq
Pengobatan Cina kuno meyakini bahwa dibalik proses fisis organ tubuh manusia ada kekuatan yang identik dengan energi yaitu energi yin dan yang, penentu kehidupan seseorang. Terapi Alif memandang dibalik jasad ada jiwa. Jiwa bukan sekedar kekuatan atau energi tetapi suatu sosok yang hidup, punya otoritas sendiri dan tersusun dari bukan energi tetapi dari sesuatu yang sangat mendasar dan membuat jiwa jadi hidup. Energi bukanlah hal yang sangat penting bagi jiwa, karena jiwa yang telah sampai pada tingkatan kesempurnaan tidak bisa lagi dijejaki keberadaannya dengan ada tidaknya energi. Boleh dikatakan bahwa jiwa yang mendekati tingkat kesempurnaan tidak lagi memiliki unsur energi dalam dirinya sehingga sulit mendeteksi tentang keberadaannya, dia tidak terikat oleh ruang dan waktu, kecepatan geraknya belum ada parameter yang kita kenal mampu mengukur kecepatannya.
Tetapi memang diakui bahwa kebanyakan jiwa mengikat energi, sehingga dengan sedikit kepekaan bisa diketahui keberadaannya.

Terapi Alif – Psikologi

JH Alifulhaq
Bidang psikologi memandang jiwa sebagai gejala dan perilaku muara dari dorongan – dorongan dari dalam diri setiap individu.
Terapi Alif memandang bahwa jiwa adalah sesuatu yang hidup, punya otoritas sendiri, bisa mandiri atau terikat dalam suatu sistem yang membentuk kepribadian seseorang. Dasar pemahaman Terapi Alif, kepribadian adalah kumpulan banyak sekali jiwa yang terikat dalam suatu sistem berinteraksi satu sama lain dalam diri seseorang.
Penataan dalam alam jiwa inilah yang menjadi dasar pokok penyembuhan Terapi Alif. Apabila hanya jasad atau organ tubuh manusia yang diobati sementara jiwa yang merasakan sakit tidak ditata/diperbaiki, pasti penyembuhan tidak tuntas atau pengobatannya tidak akan membawa hasil. Sementara tubuh manusia / jasad / organ memiliki sistem pertahanan sendiri untuk menghadapi penyakit. Manakala terjadi disintegrasi dan konflik dalam jiwa yang membentuk pribadi seseorang, sistem pertahanan atau sistem kekebalan tubuh ini tidak bisa berperan. Jiwalah yang memerintah syaraf untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu. Ada satu contoh kasus menarik yang pernah saya tangani untuk menjelaskan hal ini.
Seorang pemuda calon dokter ( tiga bulan lagi dilantik jadi dokter ) datang ke saya dengan keluhan sakit di dada yang luar biasa selama setahun terakhir. Dia katakan, belakangan dorongan untuk bunuh diri semakin kuat karena putus asa atas penyakitnya yang tidak sembuh – sembuh. Dia telah mengobati dirinya, tidak kurang berbagai uji laboratorium dan tes lainnya untuk menemukan penyakitnya, tidak kunjung berhasil. Ke ahli psikologi klinis juga sudah, terakhir ke seorang profesor doktor bidang psikologi kondang di negeri ini dia lakukan. Kata profesor penyakitnya karena trauma sakit.
Resep yang diberikan oleh profesor sama dengan resep yang pernah dibikin untuk dirinya sendiri, tidak ada hasilnya juga.
Setelah mendengar diagnosa atas dasar konsep Terapi Alif tentang jiwa yang dibandingkan dengan pemahaman ilmu kedokteran dan psikologi, tampak ekspresi pemuda lebih banyak tidak percaya. Tetapi sesudah menjalani terapi beberapa menit saat itu, pemuda tersebut sembuh seketika tanpa merasakan lagi sakit dada yang diderita non stop selama setahun. Calon dokter itu hanya bergumam “Pantas banyak orang yang lari ke pengobatan alternatif”.

Terapi Alif – Kedokteran

JH Alifulhaq
Kodekteran memandang segala sesuatu dalam setiap diri manusia di titik beratkan pada proses fisis, sehingga kalau terjadi gangguan ditangani secara fisis pula baik dengan cara pemberian obat pada penderita maupun dengan cara pembedahan. Terapi Alif memandang bahwa dibalik proses fisis ada bahagian yang sangat penting dari manusia, yaitu jiwa.
Jiwa yang membuat manusia jadi hidup dan membuat setiap individu bisa hidup dan tumbuh. Jiwalah yang menentukan segalanya dari aktivitas setiap individu. Jiwa yang membuat individu manusia bisa merasakan sakit dan enak / sehat.
Kedokteran pada umumnya mengobati gejala sesuai dengan standar yang ada, dalam arti kalau tipus, gejalanya seperti ini, obatnya ini meskipun mereka belum menemukan kuman penyebab tipus. Apabila tidak sembuh juga baru diteliti lebih mendalam, apakah benar karena tipus atau bukan. Kalau tidak menemukan kuman tipus atau kuman tipusnya tidak mati setelah diberi obat antinya, dicari lagi tindakan medis apa yang harus dilakukan.
Ada pengalaman yang menarik mengenai kasus semacam ini. Seorang gadis kuliahan anak dokter spesialis senior di sebuah rumah sakit papan atas di Jakarta. Gadis tersebut sudah berbaring tiga minggu lebih di rumah sakit tempat bapaknya bertugas. Tim dokter yang menanganinya memastikan bahwa anak gadis itu kena tipus setelah dilakukan pengamatan dan penelitian yang mendalam dan detail, karena setiap sepuluh menit dipantau oleh tim dokter. Saya diminta tolong oleh teman dan keluarga dokter yang anaknya sakit. Dokter tersebut menjelaskan bahwa koleganya tim dokter yang menangani putrinya, menetapkan penderita harus cuci darah. Saya tegaskan pada dokter tersebut kalau tindakan itu diambil, anaknya tidak bisa ditolong lagi, pengalaman saya telah banyak membuktikan hal itu. Saya katakan juga, kenapa tim dokter ngotot bahwa penderita kena tipus padahal obat anti tipus yang mereka berikan tidak ada respon, apakah bukan hal yang mengada – ada mengambil tindakan medis yang belum jelas benar penyebab penyakitnya, akibatnya akan fatal. Saya tegaskan lupakan tipus. Sehari setelah kunjungan saya ke rumah sakit tersebut dokter senior yang bersangkutan lewat telepon bertanya tentang cara penyembuhan yang saya lakukan dengan diagnosa penyakit anaknya, diapun mantap tidak mengijinkan putrinya di cuci darah, hari berikutnya dia datang ke kantor saya minta air yang di doakan . Alhamdulillah, anak gadisnya selamat.

Sembuh Seketika

JH Alifulhaq
Suatu malam sebuah keluarga datang ketempat saya untuk suatu urusan, bukan untuk pengobatan, mereka adalah suami – istri dan dua anak yang sudah dewasa. Sang isteri bekerja disebuah harian terkemuka di Jakarta. Suami jalan terpincang dibantu tongkat, kaki kanannya sakit. Dia jelaskan secara runut tentang penyakitnya, sekitar delapan bulan sebelumnya betis kanannya sakit sekali sehabis main tennis, sampai dia pingsan. Menurut dokter, urat di betis kanannya putus, kemudian dibedah, sampai delapan bulan kemudian ke tempat saya, kakinya belum sembuh. Saya katakan padanya bahwa diagnosa dokter keliru. Saya yakinkan bahwa urat betisnya tidak putus, karena kalau uratnya putus , pasti dia sembuh setelah dibedah sekian lama.
Kemudian saya mendiagnosis penyakitnya tetapi dia setengah tidak percaya dengan diagnosis saya. Setelah saya minta dia lakukan sesuatu sebagai terapi, saat itu juga dia sembuh dan bisa jalan normal tanpa bantuan tongkat dan pulangnya dia sendiri yang bawa mobil, bukan anaknya lagi seperti sebelumnya.

Ratusan penderita yang sembuh seketika setelah saya tangani kebanyakan menganggap bahwa apa yang saya lakukan adalah suatu keajaiban, hanya sedikit yang bisa memahami diantaranya dokter yang berobat sendiri atau membawa keluarganya, tentu setelah mendengar hasil diagnosis dan hasil terapinya.

Diagnosa
Dalam kasus diatas saya berhasil mendiagnosis penyakit penderita setelah terungkap sejumlah hal penting dari hasil tanya jawab saya dengannya.
Saya jelaskan kepada penderita bahwa penyakitnya bukan disebabkan oleh urat yang putus, tetapi terjadi disintegrasi dalam dirinya sehingga menimbulkan konflik diantara bagian dalam dirinya. Akibatnya fungsi syaraf dan otot terganggu. Disintegrasi itu terjadi karena dia mengikuti olah raga latihan pernapasan suatu aliran. Apa yang dihasilkan dari latihan pernapasan itu, bertentangan dengan sistem yang telah ada dalam dirinya. Dalam kasus semacam ini, membedah otot, urat atau syaraf adalah pekerjaan yang sia – sia, malah sebaliknya menambah beban sakit si penderita.

Terapi
Terapi untuk penyembuhannya tinggal membuang biang kerok penyebab konflik secara tuntas, saat itu juga penderita lepas dari penyakitnya, langsung sembuh.
Meskipun proses terapinya berlangsung beberapa menit, namun cara mengangkat penyakitnya tidak sesederhana sebagaimana yang tampak di lahiriah, cukup rumit untuk dijelaskan secara verbal atau tulisan karena lebih banyak bersifat teknis praktis dalam alam yang masih dianggap abstrak oleh kebanyakan manusia. Seperti abstraknya konsep dimensi ruang-waktunya EINSTEIN bagi kebanyakan ahli fisika.
Untuk memudahkan pemahaman tentang terapi alif akan saya bandingkan dengan beberapa konsep pengobatan yang ada.

SEMBUH SEKETIKA DENGAN TERAPI ALIF

Oleh JH Alifulhaq

Ada anggapan yang umum di kalangan masyarakat bahwa penyembuhan dengan cara non medis dalam arti pengobatan alternatif adalah sesuatu yang luar biasa dan ajaib. Bahkan kalangan tertentu yang melakukan penyembuhan dengan cara berdoa, berzikir, wirid, bersemedi dan sebagainya yang berkaitan dengan Tuhan, mengklaim bahwa itu adalah mukjizat ( padahal mukjizat adalah karunia Allah hanya untuk para nabi ).
Sebenarnya kesembuhan dengan pengobatan tersebut bukanlah hal yang luar biasa, ajaib atau mukjizat, tetapi hal biasa bagi yang telah memahaminya. Hanya saja cabang ilmu yang mempelajari hal itu belum ada, sehingga belum bisa dipahami secara benar dan utuh. Mereka yang membuka praktek pengobatan alternatif kebanyakan tidak dapat memahami secara tepat, bagaimana sebenarnya proses penyembuhan itu terjadi. Kebanyakan mereka hanya mengira – ngira atau menduga – duga saja. Tidak mampu atau kurang tepat mendiagnosis penyakit si penderita, sehingga penyembuhannya terkesan kebetulan dan banyak tidak berhasil.

BAYI SAKIT-SAKITAN GARA-GARA ZIMAT

JH Alifulhaq

Sepasang suami-isteri membawa puteri mereka yang masih kecil ke tempat saya, minta tolong pada saya untuk diobati setelah keluar masuk rumah sakit berbulan-bulan.

Si suami seorang dosen di sebuah perguruan tinggi swasta. Bayinya baru berumur satu setengah tahun, keluar masuk rumah sakit selama empat bulan. Setelah dirawat di rumah sakit dua minggu, keluar seminggu, masuk lagi dirawat sekian lama. Kadang-kadang baru keluar dari rumah sakit sehari dua hari, dirawat lagi seminggu atau dua minggu. Begitu terus selama empat bulan.

Saya katakana pada suami-isteri itu, pasti ada sesuatu yang mereka pakai seperti zimat, izm atau semacamnya. Keduanya membenarkan.

Mereka mengaku waktu pulang kampung empat bulan lebih sebelumnya , keduanya minta tolong pada orang pintar ( ustadz ) agar mereka bisa mendapat rezeki yang banyak, kehidupan yang cepat menanjak.
Ustadz memberi mereka sesuatu terbungkus kain, untuk disimpan di suatu tempat di rumah kontrakan mereka.

Saya minta si suami mengambil bungkusan itu, sementara isteri dan putrinya menunggu di rumah saya. Mereka menyatakan rela bungkusan itu dimusnahkan asalkan putrinya sembuh.

Saya musnahkan bungkusan itu dengan membakarnya, si bayi saya beri air minum yang telah saya do’akan, saat itu juga bayi tersebut sembuh, panas badannya langsung turun, kembali normal.

KIYAI TAKUT MATI

JH Alifulhaq

Seorang teman minta izin untuk membawa seorang kiyai ke tempat saya. Dia memang sering bolak-balik membawa orang sakit ke tempat saya untuk diobati.
Kadang-kadang tiga kali sehari dia bawa keluarga, teman dan kenalan untuk diobati di tempat saya.

Dia ceritakan, kiyai itu masih kerabat dekat suaminya dan memang kiyai cukup terkenal di kalangan tertentu, sering menolong orang dalam berbagai masalah, termasuk penyembuhan.

Saya katakan pada teman itu, apa tidak salah membawa dia pada saya. Kiyai tersebut telah mengobati orang selama puluhan tahun dan pernah mukim selama belasan tahun di Mekkah untuk memperdalam ilmu agama, sementara saya ini anak kemarin sore.
Teman ini kukuh dengan keyakinannya bahwa saya bisa mengobati kiyai itu. Keyakinan itu didasarkan atas kenyataan bahwa setiap orang yang dia bawa semuanya sembuh dengan gampang.

Dia merasa kasihan pada kiyai itu, karena di rumahnya tidak bangun-bangun, dudukpun tidak kuat, sakitnya berat. Yang sangat dia khawatirkan, kiyai tersebut takut mati dan menurut dia harus ditolong.

Saya tidak bisa menolak lagi, akhirnya saya iyakan saja.

Saya bersama keluarga hampir selesai shalat magrib ketika mereka tiba. Si kiyai dimintanya duduk sendirian di ruang tamu, sementara dia langsung ke belakang untuk wudhu.

Tiba-tiba saya dengar kiyai teriak ketakutan. Habis shalat langsung saya dekati kiyai itu dan menanyakan apa yang terjadi. Saya lihat dia ketakutan, kedua kakinya diangkat keatas kursi. Malah dia balik tanya saya sambil menunjuk ke kucing jantan yang ada di teras rumah: “ Kucing itu jin apa kucing biasa “. Saya yakinkan : “ Bukan jin “.
“ Kenapa menerkam kaki saya “, tanyanya lagi masih dengan perasaan takut dan tidak percaya dengan penjelasan saya.
Saya jadi geli, kemudian saya terangkan bahwa kucing itu milik kami, bukan jin, kucing biasa. Yang diterkamnya bukan kaki kiyai, tetapi cecak yang ada dekat kaki kiyai. Cecak itu bersembunyi dibawah kursi mengintai nyamuk yang menggigit kaki kiyai.
Setelah penjejelasan itu baru dia merasa lega, tetapi orang tua itu terlihat merasa malu.

Teman yang mengantar tadi heran melihat kiyai bisa shalat berdiri di rumah saya, sementara di rumahnya sendiri hanya bisa shalat duduk.

Setelah duduk berhadapan dengan kiyai, saya tidak tega menanyakan dan menjelaskan tentang penyakitnya dihadapan orang lain, karena saya hormati dia. Saya hanya membacakan beberapa ayat Al Qur’an.
Tiba-tiba kiyai itu bicara :” Anak muda ini tahu penyakit saya “.
Teman yang mengantar melongo keheranan, bagaimana bisa terjadi kiyai bicara seperti itu, padahal saya belum menerangkan dan menjelaskan tentang penyakitnya.

Kiyaipun menjalani terapi seperti yang saya minya dengan sungguh-sungguh, berdo’a dengan khusu’, minum air yang saya do’akan. Dia langsung merasa enak.

Beberapa hari kemudian, kiyai minta diantar lagi ke tempat saya. Kali ini dia bawa catatan, minta petunjuk pada saya, ayat-ayat mana lagi yang perlu dia dalami. Saya berikan beberapa ayat Al Qur’an lagi. Saya larang dia untuk membuat rajahan, zimat, izm dan melarang mengisi cincin dan segala macam benda dengan kekuatan apapun. Tetapi dia mendebat saya bahwa apa yang dia lakukan itu atas dasar apa yang dipelajarinya dari kitab ( dia tidak sebutkan judulnya ) yang dia beli sangat mahal di Mekkah.

Tetapi dia jadi melongo begitu saya tebak bagian-bagian yang mendasar isi kitabnnya.
Saya tegaskan pada dia, bakar kitab itu, termasuk zimat dan izm yang ada di rumahnya.
Untuk memperkuat permintaan tadi, saya menafsir dan menta’wil salah satu ayat surah Al Fatihah.

Mengingat saya tidak bisa bahasa Arab, saya minta kiyai tersebut menegur dan meluruskan kalau saya salah dalam menafsir dan menta’wil. Malah dia menjawab : “ Anak muda ini yang pantas jadi kiyai, saya malu jadi kiyai “.

Setelah mendngar penjelasan saya, dia mengaku teringat gurunya sewaktu dia belajar di Masjidil Haram di Mekkah. Ternyata gurunya itu paman saya, saudara sepupu bapak saya. Memang paman saya itu mukim di Mekkah sejak muda. Setelah selesai belajar pada salah seorang syeh di Masjidil Haram, dia atas restu syehnya membuka kelompok pengajaran seperti syehnya di Masjidil Haram, muridnya dari berbagai bangsa termasuk dari Arab Saudi.

Kiyai tadi sering menelpon saya minta dido’akan terus, sampai akhirnya dia sembuh.

SAINS DAN KEHIDUPAN

JH Alifulhaq
Artikel di Harian Kompas, Sabtu 24 Juni 2006 halaman 14 kolom Humaniora tentang Sains Dan Kehidupan dengan judul REALITAS BUKAN DITELITI, TETAPI DIPRODUKSI, sangat menarik sebagai bahan telaah bagi setiap diri untuk menggapai kembali kesadaran dalam arti pencerahan yang terkubur oleh hingar-bingarnya keseharian kita.
Seharusnya sains tidak akan stagnan dan mandul bila ilmuwan konsisten dengan sikap dalam memandang bahwa segala apa yang ada di alam semesta ini baik materi maupun gejala dan fenomena tidak ada yang berdiri sendiri, sekecil dan sehalus apapun merupakan bahagian dari semesta yang begitu luas. Ilmuwan pun umumnya memandang gejala dan fenomena dalam lingkup terbatas yang dibelenggu oleh dimensi ruang dan waktu.
Sebenarnya Einstein telah mendobrak dinding ruang dan waktu yang senantiasa memenjara sains dan mengasingkannya dari khazanah realita kajiannya dengan konsep ruang-waktu, suatu dimensi yang tidak lagi terkungkung dalam ruang dan waktu. Tetapi kebanyakan ahli fisika tidak bisa menerimanya dan menganggapnya metafisika.
Begitu juga dengan sains kedokteran yang hanya memandang gejala dan fenomena pada setiap diri manusia hanya sebatas pada apa yang ditangkap oleh panca indera. Padahal kehidupan yang bertahta dalam setiap diri dan menjadikan manusia bisa hidup, tidak bisa ditangkap oleh panca indera. Kehidupan dalam setiap diri tidak berdiri sendiri, tetapi menjadi bahagian dari semesta yang sangat luas ini. Dan alam semesta yang luas ini ada yang mengaturnya yaitu Sang Khaliq Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu dan menciptakan alam semesta dengan seluruh makhluknya. Ini relevan dengan apa yang saya sajikan dalam blog http://www.terapi-alif.blogspot.com

TIDAK MATI GARA-GARA JIMAT

JH Alifulhaq

Suami seorang keluarga dekat saya kerja di sebuah bank pemerintah di Jakarta. Pada suatu kesempatan mereka ketemu saya di suatu acara hajatan keluarga. Dia mengeluh sakit macam-macam.

Saya ajak mereka sekeluarga ke rumah saya. Si suami menempati peringkat cukup tinggi di suatu cabang ilmu bela-diri dan punya kemampuan yang bagus dalam hal ilmu tenaga dalam.
Saya minta dia melepas semua yang berkaitan dengan tenaga dalam itu kalau mau sembuh.
Dia mau melepaskan, kemudian atas petunjuk saya dia lepas satu-satu yang menjadi bahagian dari terapi. Setelah itu dia merasa sehat dan normal, merasa enak, tidak lagi merasakan sakit seperti sebelumnya.

Tetapi menurut pengakuannya, masih ada satu lagi zimat yang disimpan di rumahnya, biasanya diikat dipinggang seperti sabuk. Sudah lama tidak dipakainya, hanya disimpan di lemari.

Saya wanti-wanti minta agar zimat itu segera dibawa ke saya untuk dimusnahkan. Dan begitu sampai di rumah, zimat itu langsung dikeluarkan dari rumah, jangan ada dalam rumah.

Selama setahun saya tunggu dia tidak datang-datang membawa jimat itu, malah yang datang pemberitahuan dia ada di rumah sakit dalam keadaan koma, setelah jatuh di kamar mandi karena stroke.

Saya pergi besuk, memang dia koma. Menurut isterinya, tim dokter mau membedah otaknya, tetapi dibatalkan sendiri oleh tim dokter karena dinilai percuma saja tidak bisa menyembuhkan pendarahan otak yang terlalu parah.

Ada sekitar seminggu dia koma begitu. Seorang dokter di rumah sakit tersebut bilang pada isterinya bahwa dari segi medis sebenarnya suaminya sudah mati. Dokter itu menyarankan isterinya untuk minta tolong orang pintar karena diyakini olehnya bahwa si sakit punya pegangan semacam zimat atau ilmu yang bersifat kebatinan.

Si isteri langsung menelpon saya dan memberi tahu apa yang dikatakan oleh dokter. Saya ingatkan dia tentang zimat yang dijanjikan untuk dibawa ke tempat saya setahun sebelumnya.

Saya ke rumah sakit, si isteri pulang ke rumahnya mengambil zimat tersebut.

Saya bakar zimat itu dibelakang rumah sakit, rupanya pada saat yang sama si sakit menghembuskan napas yang terakhir, Si sakit sudah meninggal saat saya kembali kesitu

SUARA HILANG KARENA SUSUK

JH Alifulhaq

Seorang wanita keturunan Cina, agamanya Kristen, datang pada saya untuk minta tolong.
Wanita ini suaranya hilang. Dia sudah bolak-balik ke dokter spesialis THT dan sin she. Malah dokter bilang padanya, suaranya bisa hilang permanen.

Dia ketakutan setengah mati, pemngobatan yang dia lakukan sebelumnya tidak membuahkan hasil, malah uangnya telah banyak habis untuk pengobatan.

Tetapi dia merasa aneh, begitu dia ada di rumah saya, suaranya muncul lagi.

Dari Tanya jawab dengan saya terungkap, dia pernah pasang susuk di keningnya, beberapa tahun sebelumnya, sewaktu ikut teman-temannya ke suatu daerah di Jawa Barat.

Saya tegaskan, kalau mau sembuh susuknya harus dicabut. Diapun setuju dan minta tolong saya untuk mencabutnya. Saya penuhi permintaannya. Hanya dua kali ke tempat saya untuk menjalani terapi, diapun sembuh total.

DZIKIR YANG MENYEBABKAN SAKIT JIWA

JH Alifulhaq

Suatu hari saya ditelepon kakak perempuan saya, mengharuskan saya pulang kampung karena ibu sakit keras, tidak bisa bangun, tidak biasanya seperti itu sakitnya meskipun beliau sudah tua.

Saya pulang, saya obati ibu dengan cara yang sangat khusus menurut pemahaman dan pengetahuan saya.

Sehari setelah saya obati, ibu bisa bangun berdiri, dengan bahagia dan bangga beliau berbisik pada saya menyatakan terasa tubuhnya sangat ringan seperti melayang setelah saya obati sehingga bisa bangun dan jalan.

Suatu ketika setelah itu, tengah saya duduk sendirian di ruang tamu rumah kakak saya di kampung, saudara sepupu saya dari pihak ibu datang menjenguk saya, sendirian dia datang.
Saya tanyakan tentang penyakit yang dideritanya cukup lama, seperti yang pernah diceritakan oleh keluarga.

Dia mengaku menderita penyakit yang sangat aneh. Kalau di rumah dia selalu mencurigai isterinya main serong dengan laki-laki lain. Siapa saja yang lewat di depan rumahnya yang pinggir jalan besar itu dicemburuinya, apakah yang jalan kaki atau naik kendaraan. Semua laki-laki yang lewat itu dituduhnya menggoda isterinya, sehingga makian ke isterinya merupakan lagu wajib setiap saat di rumah. Untung isterinya sabar dan memahami suaminya sakit.

Dia juga tidak berani ketemu orang dan dianggapnya semua orang memusuhinya. Apalagi ngumpul dengan orang banyak tidak pernah dia lakukan selama sakit, padahal dia orangnya sangat ramah dan supel.

Kalau mau ke suatu tempat, ke rumah saudara misalnya, dia akan mutar-mutar jauh dulu untuk menghindari musuh yang siap mencegatnya, itu menurut perasaan dia. Jarang keluar rumah dia jadinya.

Dia telah menderita gangguan tersebut selama lima tahun lebih. Tadinya dia kepala sekolah SD, dipensiunkan ( pensiun muda ) karena penyakitnya itu.

Berobat ke dokter sudah sering sampai bosan, termasuk ke psiater dan sempat masuk ke rumah sakit jiwa cukup lama, tetapi tidak sembuh-sembuh juga.
Naik haji juga dia sudah jalani atas saran keluarga, mungkin penyakitnya bisa sembuh, ,tetapi tetap tidak ada hasilnya. Berobat ke orang pintar, sama saja tidak ada hasil apa-apa.

Pernah suatu hari seorang teman sangat akrabnya, datang menjenguknya dan mengobatinya. Temannya ini bisa mengobati orang yang sakit seperti itu dan mengatakan bahwa dia diganggu jin yang sangat kuat.
Tetapi sepuluh hari setelah mengobati dia, temannya itu meninggal tanpa sebab yang jelas.

Dari Tanya jawab dengan saya dia mengaku mengamalkan dzikir. Saya tanya apa dzikirnya, dia menjawab Allahuu. Dia juga mengaku secara jujur, dzikir itu tidak diniatkan untuk apa-apa, kecuali untuk mendekatkan diri pada Allah.

Sejenak saya bingung, karena dari penuturan dan pengakuannya tidak ada yang salah. Dia juga menyatakan tidak ada lagi amalan lainnya.

Tiba-tiba saya seperti mendapat ilham/petunjuk, saya tanyakan bagaimana dia melakukan dzikir itu, saya minta dia praktekkan. Saya pastikan pada dia, cara mengamalkan dzikir itu yang bermasalah.

Saya minta dia menjalani terapi, beberapa menit lamanya. Begitu selesai dia merasakan pikirannya langsung jernih dan yakin dirinya telah sembuh.

Saya ingatkan, dua atau tiga hari lagi pengganggu yang baru saja diusir akan coba masuk lagi dan saya tekankan agar terus berjuang dengan berdo’a seperti yang saya ajarkan.

Benar pada malam ketiga setelah pengobatan itu, syetan yang mengganggunya mau masuk lagi sewaktu dia tidur, dia terbangun dan terus berdo’a, kemudian shalat.

Alhamdulillah, setelah itu syetan tersebut tidak pernah datanbg mengganggu dia sampai saat ini.

Tuesday, August 08, 2006

The Alif Therapy – Oriental Medication (Ancient Chinese Medication)

The ancient Chinese medicine believe that behind a physic process of a human body there’s a power identical with energy which is called the yin and the yang, the decisive of someone’s life. The alif therapy glimpsed there’s a soul behind a body. Soul is not just a power or energy, soul is a living thing, it has its own authority and not piled by energies but it’s piled by something fundamental and makes it alive. The energy isn’t that important for souls, because soul had arrived to a perfect stage, it makes the soul no longer tracked whether by energy or not. We could say that there’s no longer energy in a soul who close to a perfect stage, so the existence of this kind of soul hard to detect. Why? Because it’s now no longer bound with dimension and time, there are no known parameters to measure it speed.
But it’s admitted that most of souls tighten energy, so with a little sensibility it could be tracked.

The Alif Therapy - Psychology

Psychological science took a glimpse of a soul as symptoms and behavior estuary of the stimulus inside an individual.

The alif therapy took a glimpse that a soul is a living thing, something with its own authority, it could be independent, or could be tight in a system that blend someone personality. The basic comprehension of alif therapy is personality was made from plenty of soul which tightens in a system interaction between each other inside someone.

The main treatment of the alif therapy is the arrangement inside a soul realm. If we only treat human bodies and organs while their painful soul left as unarranged/unfixed, the treatment wont completed or won’t bring any desired result. Human bodies/organism/organs have it own immunity to against the diseases. So, when there’s a disintegration or conflict in a soul that blend someone personality, this immunity system can’t work or can’t do its part well enough. It is the soul then who takes the order now and its order the neuron to do or not to do something. I have an interesting case example to explain this.

A young man who will become a doctor (three month later he will take his vow) came to me with a complaining, he feels pain in his chest for the last year. He told me that lately, the stimulus to suicide getting stronger inside him because he actually hopeless for his uncured disease. He try to treat him self, he had done so many laboratory test and others to finds out about his disease, but it never work out. He had went to a clinical psychology expert, and the last one, he went to a very famous professor in psychology in Indonesia. The professor said his disease is caused by trauma of the disease it self. The recipe given by the professor exactly the same as he already made and gave to him self before, but still there’s no result.

When he was hearing diagnose based on the alif therapy concept, especially about the soul compare to knowledge in medical and psychological science, from his face, I know the young man doesn’t believe in it at all. But after he had the therapy for a couple of minutes, the young man cured instantly, he doesn’t feel any pain in his chest like he had for the last year. Finally, the doctor candidate only mumbling, “No wonder there’s a lot of people turns around to the alternative medicine.”

The Alif Therapy - Medical

Medical science consider every part in a human being by main pointed the physical process only, when there’s something malfunctioned they cure it with physical treatment whether by giving some medicine or by surgery. The alif therapy always looks behind the physical process there’s the most important part of human being, a soul.
It is the soul who makes human live and makes every mortal growth. It is the soul who ensures every activities of a human being. It is the soul who makes a mortal felt pain, healthy, good, or bad.
Generally, medical science cure symptom by only by standard treatment which already available, by mean if the disease was looks alike with the typhus symptoms, they will use standard medication for typhus to cure it, even though they know they haven’t find any typhus bacteria. If the given medication doesn’t work, then they will go to a deeper review and analyst, if it’s truly typhus or not. Again, if they didn’t find any typhus bacteria or if they found the bacteria still exist even if they gave the antitoxin, they will ponder more medical action to do.
I had an interesting experience about this. A college girl whose happened to be a daughter of a senior doctor in a very famous hospital in Jakarta. The girl was laid for more than three weeks in the hospital where her father works. After detail examination and research supervised by the team of doctor who chosen give her the best treatment, they make sure that she’s had a typhus and advice that she need blood washing right away. Her family and her father came to me for a help, his father told me the about his work colleagues advice. I told him if he agrees to the treatment then his daughter life could be in great danger, and there’s no way to help her. I told him all about my experiences with other people before.
I also told him, why the doctors seem so eager told him that her daughter having typhus, while the antitoxin they gave her not even responding. I ask him, don’t he think that they just make it up by advice him to agree to such a medical treatment while they don’t even know the exact cause of the disease, how fatal it would be id he allow them to do that. I told him to forget about the typhus.
Just a day after I visited her daughter in the hospital, that senior doctor called me and asking about what exactly my diagnosis and the therapy I gave to her daughter now that she’s feeling much better, and he also told me that he reject the advice to give his daughter blood washing. The next day, he went to my office and asked for prayed water. Thanks God, his daughter cured.

Cure Instantly

One night, a family visited me for a business matter, not for therapy, they were husband-wife and two grownup kids. The wife works for the most popular newspaper Indonesia. Her husband walks with a crock, because his right legs were in pain. Finally, beside talked about our business, he also told me about his leg. Eight month ago, after played tennis, suddenly he felt a very strong pain in his leg, so strong I even made him unconscious. The doctors said, his right leg muscle was broken, and in order to fix the problem, they need to do a surgery. He followed the doctor’s advice, but after eight month, he’s here, sits in front of me with the same condition. I convince him that the doctors had a wrong diagnostic, because if it’s true his muscle was broken, the surgery supposed to cure him.
Then I diagnosed his disease, but he doesn’t believe me. I asked him to do a therapy; he cured instantly and walks normally without a crock. And you know what? He even drove his own car when they get back home (before, he sons did!).
Hundred of people cure instantly after I told them to do some therapy, most of them think about what I did as a miracle, only a few of them understood about the diagnosis and the therapy result I told them (mostly doctors who came for a therapy, or brought their family for a therapy).

Diagnosis
In the case mention above, I successfully diagnosed the disease after revealed some important thing that I need to know about him self by asking some questions. I explained to him that his disease wasn’t cost by any broken muscle, there’s disintegration inside, and so it has made a conflict between few parts within him. The conflict has made the neuron and muscle not function normally. This disintegration happened because he joins a group of a martial exercise to increase his inhaler ability.

Therapy
The right therapy for him was to permanently dump the main cost of his disease, by the time the therapy finished, the disease off from him, cured instantly!!
Even though the therapy process only happened in few minutes, but how I pull out and dump the diseases not as simple as it was seen outside. It’s very complicate to verbally explain, even in writing, because most of the techniques done practically in others side of life which is abstract for most of human being, just as abstracts as time dimension theory by EINSTEIN for the physicians.

To make you easily understand the alif therapy, I will make a comparison with other medications that already exist.

Cure Instantly With The Alif Therapy

There's a public opinion that non medic healing or we used to named "alternative medication" is something extra ordinary as a miracle. There's even certain healer who claims that they power of healing as a prophecy gift. They simply claims that because they used prays, meditation or any other methods that related to God. (Of course we all know that prophecy thing only given by God to the prophets)

For those who understand, this alternative medication as mention is not something extra ordinary, miracle, nor a prophecy gift, it’s something ordinary. But so far, since there's no knowledge or science studied about it, for most people it can't be described or even worse, it can't be fully understand in the right way. Most of the healer doesn’t understand precisely how the healing process works is. Most of them could only diagnose the patient by predicted or guessing, and this could make them miss-diagnosed few cases sometimes. That’s why the healing process looks like coincidence and mostly it doesn't even works.

Palming Allah’s Track to Gain Evidences

For me, life is a never ending search. In my early childhood years I often asked about Allah, talk to Him, and asked for evidences in His existence and His jurisdiction. It’s still funny to remember how I was asking Him like this, when it was raining heavily and I can’t go home, “Allah, it is You who pour the rain. Please stop the rain so I can go home”. Strangely the rain stopped, and I was so happy because of it. Later on I did it more often, but I didn’t brave enough to tell it to anyone, afraid that they might think of me as someone going crazy.

It’s been decades of my life journey in searching for evidences with Al-Qur’an and Al-Hadist as my perceptions, and it brings me to this therapy without even arranged or wittingly. I never learn or aspired to do something in this field. Most of them who had my therapy were cure instantly, and I even thought about it as a mystical power in the very beginning.

Most of the people I helped were those who cannot be cured by medical treatment, physiological, oriental medication (ancient Chinese), other alternative medications, and etc. I has my rise and my fall when I’m palming this road to follow Allah tracks, sometimes I got ill and nearly get killed, and so was my family.

After intensively in this treatment for decades, Allah open His knowledge, He gave me comprehension that this treatment as the evidences about the truth that He thought us by Al-Qur’an and His prophet Muhammad, SAW. Finally, I understand the concepts, the methods, and the techniques of the treatment that I called The Alif Therapy. It’s no longer something mystic for me, but it’s understandable and acceptable with logical thinking as a new science. This article titled “Cure Instantly with the Alif Therapy” is the first part of my searching for the last 50 years until now.

Sunday, August 06, 2006

Menjelajah Alam Jin Dan Syetan ( bagian 6 )

Setelah selesai mengobati si gadis, saya tidak lagi berurusan dengan pengobatan sampai beberapa bulan setelah itu karena saya banyak kesibukan. Tetapi keberhasilan mengobati si gadis tersebar dari mulut ke mulut, orang-orangpun mulai berdatangan setelah waktu saya agak longgar minta tolong diobati penyakitnya, malah ada yang dari jauh-jauh. Pernah juga waktu itu ada yang ngantri sampai pagi.
Menjelajah alam jin dan syetan awalnya tidak sengaja seperti pernah saya tulis, saya sendiri tidak paham kenapa si sakit bisa melihat alam itu dan menjelajahnya dengan kawalan saya. Belakangan baru saya tahu bahwa hal itu berkaitan sangat erat dengan pengobatan yang bersangkutan.

Syetan-syetan yang mengganggu harus ditundukkan dengan cara apapun agar tidak bisa mengganggu lagi.
Lewat penglihatan si sakit, Allah Taala mengajarkan saya banyak hal tentang alam jin dan syetan, terutama yang berkaitan langsung dengan pengobatan. Lewat media ini saya juga jadi tahu cara kerja sihir dan santet sebenarnya. Tipuan-tipuan dan trik-trik yang hebat di alam itupun saya jadi tahu lika-likunya.

Tipuan-tipuan yang telah banyak menjerumuskan orang-orang shaleh sejak jaman dulu sebelum Rasulullah diutus sampai sesudahnya, juga saya tahu dan paham cara jin dan syetan melakukannya.

Kadang-kadang orang sakit yang mau sembuh yang bisa melihat alam jin dan syetan, mereka minta piknik menjelajah alam itu yang penuh pesona dengan daya pukau yang sangat kuat tapi kaya tipu muslihat. Saya bolehkan dan selalu dalam pengawasan saya, asal jangan sampai ngeluyur sesuka sendiri dan memberitahu hendak kemana dan mau melihat apa. Apakah kerajaan yang ada di langit, di gunung, di laut, dasar laut atau dibawah permukaan bumi. Apa yang dia lihat, yang dia rasakan dan dia lakukan harus beri tahu saya semuanya secara detail. Kalau tidak, dia bisa masuk perangkap tipuan ataupun diculik walaupun akhirnya bisa diatasi akan tetapi butuh waktu dan tenaga.
Kebanyakan mereka yang sudah sembuh total tidak bisa melihat lagi alam itu.

Tidak sengaja bertandang ke istana Nyi Roro Kidul Di Dasar Laut.
Seorang teman datang minta tolong pada saya untuk mengobati penyakitnya. Keluhannya macam-macam dainataranya sakit pinggang yang sudah bertahun-tahun.
Setelah diterapi, dia bisa lihat alam jin dan syetan, dia lihat sendiri apa penyebab penyakitnya. Rupanya dia disantet oleh bekas isteri yang telah diceraikannya dengan bantuan sejumlah dukun.

Di alam itu dia melihat saya bertarung menyelesaikan satu-satu dukun yang terlibat dalam urusannya, sampai terakhir bertarung di gua pinggir pantai, bawahnya air laut, di langit-langitnya batu cadas. Disitu pelarian terakhir syetan yang berwujud kalong setelah kejar-kejaran dimana-mana. Satu pemimpinnya diantara begitu banyak kalong. Setelah pemimpinnya dihajar habis, yang lainpun hancur dan hilang.

Setelah kalong ini diselesaikan teman yang sakit ini melihat dirinya dan saya berada di suatu pantai berpasir. Disitu ada rumah dari papan. Saya ajak dia memeriksa rumah itu dan masuk, pasti ada kaitannya dengan penyakit dia.

Di tengah rumah itu ada tangga ke bawah. Tiba-tiba disitu ada tiga wanita cantik, satu pakai semacam mahkota, dua lainnya tidak. Begitu ditanya siapa mereka, yang bermahkota hanya menunjuk suatu arah, kemudian kelihatan oleh teman saya ini ombak laut yang tinggi bergulung-gulung. Belakangan baru saya tahu bahwa itu lambang bagi Nyi Roro Kidul dan kerajaannya, siapapun yang melihat lambang itu baik di dalam mimpi, waktu sadar atau terbayang dibenaknya, itu menunjukkan yang bersangkutan ada urusan dengan Nyi Roro Kidul.

Waktu itu saya bingung, tanya-jawab dengan mereka membuat saya tambah bingung. Kata si teman ini yang bermahkota itu memberi tahu namanya ( lupa saya karena sudah lama ), tetapi tidak memberi tahu apa maksud kemunculan mereka, apa arti laut yang bergelombang tadi, tidak juga diberitahu.

Akhirnya dia mengajak kami turun tangga cukup lama, beberapa putaran kebawah. Di ujung tangga paling bawah adalah dasar laut. Kami diajak berjalan melewati semacam terowongan dari kaca yang memanjang diatas dasar laut.

Saya tidak tahu karena tidak bisa melihat, rupanya tiga wanita tadi menunggu kami yang berlambat-lambat. Teman saya yang bisa lihat ini sebentar-sebentar berhenti untuk memandang penuh kekaguman pada berbagai macam mahluk yang hidup di dasar laut.

Terowongan itu cukup panjang, agak lama kami menempuhnya. Dari terowongan itu teman saya melihat istana yang sangat megah dengan atap berbentuk kubah.

Sampai di ujung terowongan, petugas membukakan pintu buat kami. Setelah melewati beberapa pintu yang semuanya di jaga, semua wanita penjaganya, kami sampai di ruang aula yang luas. Disitu sudah menunggu seorang wanita cantik, anggun, menawan dan berwibawa. Tiga wanita yang mengantar kami sujud memberi hormat pada wanita tadi, kami disambut oleh dia.

Dari gambaran yang diceritakan teman saya yang melihat, saya menduga-duga, siapa wanita ini.

Saya tanya siapa dia, namanya disebut, saya tidak ingat lagi, yang saya ingat nama panggilan yang sangat terkenal itu, Nyi Roro Kidul. Saya kaget dan penasaran, tidak disangka dan tidak direncanakan kami sampai di tempat yang begitu terkenal di kalangan masyarakat Indonesia, terutama yang mendiami pulau Jawa.

Saya ditawarkan mau langsung ke singgasana atau mau lihat-lihat istana dulu. Saya bilang lihat-lihat dulu.

Keluar dari ruang aula itu kami diajak ke suatu taman yang isinya tumbuhan laut yang indah-indah terkumpul semua disitu. Tidak habis-habisnya teman saya mengungkapkan kekagumannya.

Habis dari situ kami diajak ke taman yang isinya binatang laut yang indah dan menarik, semua dihimpun disitu. Saya sudah tidak ingat lagi apa komentar teman saya waktu itu.

Setelah itu kami diajak ke taman yang isinya mutiara semuanya. Segala bentuk, ukuran dan warna semua ada disitu dan banyak sekali, masih dalam cangkangnya ( kulitnya ). Teman saya sangat takjub dan ngiler melihat harta kekayaan yang melimpah itu, kemudian bilang pada saya setengah berbisik : “: Boleh nggak minta satu biji saja”. Saya langsung jawab dengan tegas : “ Jangan macam-macam “. Diapun tidak berani lagi minta macam-macam.

Dari situ kami dibawa ke ruang penjara dan ruang penyiksaan. Teman saya melihat banyak sekali orang yang dipenjara dan disiksa disitu laki-laki dan perempuan. Saya tidak mau banyak tanya, takut salah dan menimbulkan persoalan karena saya belum begitu mengerti seluk-beluk alam jinh dan syetan. Lama setelah itu baru saya tahu, siapa-siapa yang disiksa dan dipenjara disitu.

Kemudian kami diajak ke ruangan yang isinya permata-permata berupa mata manusia, banyak sekali. Setelah itu pindah lagi ke ruangan lain juga berisi permata dari batu-batu yang indah-indah dan mahal dengan macam bentuk dan warna. Teman saya eterus saja takjub dan ngiler, tetapi tidak berani lagi minta.

Selanjutnya kami diajak ke kamar tidur pribadi si Nyai yang sangat indah. Ruang riasnyapun di tunjukkan.

Terakhir kami diajak ke ruang semedi tempat dia bersemedi. Di ruang itu ada semacam kaca cermin, dari situ kita bisa lihat keadaan di segala penjuru, dimanapun tempat itu. Teman saya sempat mencobanya.

Setelah itu kami diaajak ke ruang tempat singgasananya dia. Nyi Roro Kidul mempersilahkan kami duduk di kursi semacam singgasana juga disamping singgasana dia. Letak singgasana itu agak tinggi, tampaknya semua penghuni istana, perempuan semuanya kumpul disitu duduk bersimpuh dihadapan kami.

Diatas meja di depan kami sudah tersedia buah-buahan seperti apel dan anggur, disamping minuman di gelas.
Teman saya tiba-tiba saja mau minum air diatas meja itu karena dia merasa haus luar biasa. Kalau tidak diizinkan rasanya dia akan mati kehausan. Mulanya saya takut juga, takut terjadi apa-apa dengan dia karena saya buta sama sekali tentang tempat itu. Saya kasihan, saya izinkan. Diapun merasa terobati hausnya, kemudian minta makan buah yang diatas meja. Saya bilang padanya, makan saja apel, satu biji saja.
Dia menikmati apel itu, menurut pengakuannya waktu itu lebih enak dari apel biasa yang kita makan.
Saya segan tanya-tanya kenapa kami sampai kesitu, apa artinya semua itu. Belakangan baru saya paham, sakitnya teman saya ada andil yang sangat dominan dari Nyi Roro Kidul yang mendukung dukun-dukun yang saya hajar sebelumnya. Rupanya kunjungan kami kesitu, tanpa kami ketahui sebenarnya untuk melepas penyakit teman saya itu.

Teman itu bisik-bisik pada saya, dia lihat Nyi Roro Kidul seperti jatuh cinta pada saya.

Saya langsung tegaskan pada dia, jangan macam-macam dan jangan bikin persoalan, sangat berbahaya akibatnya.

Saya pamit, kemudian diantar oleh Nyi Roro Kidul ke pintu keluar istana, tetapi bukan pintu tempat kami masuk. Pintu keluar itu langsung menuju permukaan laut dekat pantai. Kamipun pulang, teman saya sembuh sejak saat itu.

Pada kesempatan lain dengan pelihat lainnya, saya sempat diajak di istana dia yang lain, jauh dari situ tersembunyi jauh di dasar samudera yang dalam. Menurut pengakuan Nyi Roro Kidul, istana itu berada di samudera Pasifik.

Istananya tidak besar, tetapi sangat indah. Yang menonjol disitu kamar tidur yang indah dan kolam tempat mandi di tengah taman yang indah. Di kolam ada air mancurnya.

Menurut pengakuan Nyi Roro Kidul waktu itu, dia selalu sendiri datang kesitu kalau ingin menyendiri, tidak ada yang tahu tempat itu dan tidak pernah mengajak siapapun. Hanya kami yang diajak kesitu.

Awalnya tidak pertengkaran antara saya dengan Nyi Roro Kidul hubungan dengan saya baik-baik saja dalam arti tidak ada permusuhan dan ketegangan diantara kami. Rupanya urusan santet-santet menyantet, jimat, susuk dan semacamnya hampir selalu melibatkan dia. Setiap saya mengobati orang sakit, seringkali akhirnya berhadapan dengan dia karena dia kuncinya. Saya minta baik-baik pada dia agar menyingkir dari kasus yang tengah saya tangani, dia mengiyakan dan mau mengalah. Tetapi rupanya dia sering menipu saya, menusuk dari belakang. Katanya sudah melepaskan penyakit yang diderita oleh orang yang saya tolong, tetapi di kesempatan lain dibelakang saya, dia masukkan lagi penyakit itu. Saya marah dibohongi seperti itu, dia juga tidak mau kalah membela kepentingannya sendiri. Akhirnya saya sering bertarung dengan dia, menghajar dia habis-habisan. Kadang-kadang dia menangis minta maaf atau bersujud tetapi lain kali diulangi lagi menusuk dari belakang. Meskipun dia tahu bahwa dia pasti kalah melawan saya, tetapi tetap saja tidak pernah kapok, sama seperti syetan lainnya. Begitulah mereka, jangan gampang percaya

Menjelajah Alam Jin Dan Syetan ( bagian 5 )

Saya harus kembali mengobati si gadis, keadaannya kalau kena serangan makin parah sering pingsan, kadang nafasnya tersendat sekarat. Syetan yang menyerangnya makin banyak. Muncul syetan-syetan dari dukun-dukun lain selain si Abah A dan konconya.
Saya harus menghadapi dengan sabar dan tabah tanpa sempat istirahat lagi.

Isteri pejabat tinggi kesambet
Suatu siang Omnya si gadis yang pejabat tinggi datang bersama isterinya menengok si gadis yang sakit. Menurut cerita keluarga si gadis, isteri Om nya ini merupakan kerabat dekat tokoh sufi terkenal di Jawa Barat, sehingga pagar yang dibekali oleh sufi itu untuk menjaga diri si ibu ini sangat kuat. Pagar itu untuk melindungi diri dari gangguan syetan dan jin.

Begitu sampai di rumah itu, isteri pejabat ini kentara sekali sinis pada saya yang menunggui si gadis agar tidak diserang. Hanya sebentar mereka disitu.

Isteri pejabat itu terus menasehati si gadis dengan kata-kata seperti ini : “ Ingat yang satu itu saja, jangan percaya yang lain, tidak ada yang bisa ganggu “.
Kata-kata itu diucapkan sambil melirik sinis pada saya. Sebenarnya hati saya tidak enak waktu itu, sudah menolong orang mati-matian tanpa imbalan apapun, malah dihina seperti itu. Ingin saya terbang meninggalkan tempat itu.
Saya mohon pada Allah agar diri saya diberi kesabaran dan ketabahan menghadapi cobaan itu.

Saya hanya diam saja dan menunduk waktu itu, terserah Allah.
Begitu pamit, diulangi lagi kata-kata tadi, lebih tegas lagi dengan sikap seperti menghina saya.

Begitu dia bersama suaminya keluar rumah mau pulang, baru sampai di pintu pagar, tiba-tiba isteri pejabat itu kesurupan. Dia menangis atau tertawa, tidak jelas. Kata orang dia kesambet.

Si gadis juga teriak-teriak kesakitan karena serangan mendadak. Pejabat menggotong isterinya dibantu kakaknya ( bapaknya si gadis ) ke teras rumah, sementara ibunya si gadis mengambil tikar, digelar di teras, kemudian isteri pejabat dibaringkan disitu.

Saya tetap sibuk menolong si gadis, sementara bapak si gadis dengan panik langsung pergi mencari paranormal yang pernah mengobati si gadis.

Isteri pejabat itu masih terlentang di teras sambil menangis dan tertawa yang bercampur aduk. Suaminya membisik-bisikkan sesuatu di telinganya, tidak juga membuatnya sadar.

Ibunya si gadis minta tolong saya agar isterinya pejabat itu yang ditolong dulu. Awalnya saya tidak hiraukan karena mengkhawatirkan keadaan si gadis kalau ditinggal. Saya juga tidak mau menolongnya karena dia telah merendahkan saya sebelumnya. Si gadis juga terus teriak kesakitan karena kena hajar.

Setelah kejadian itu berlangsung sekitar sepuluh menit, ibunya si gadis sambil menangis minta saya berulangkali untuk menolong isteri pejabat itu, terpaksa saya tolong juga akhirnya.

Beberapa menit kemudian setelah saya obati, si ibu itu sadar, kemudian saya minta mereka langsung pulang, jangan masuk lagi ke rumah, mereka mematuhi.

Rumah ustadzah jadi sangat menyeramkan
Setelah kejadian itu, tetangga yang biasanya ramai datang mendengarkan laporan pandangan mata jiwa si gadis tidak berani lagi datang, mungkin takut kesambet seperti isteri pejabat tadi.

Besoknya pejabat dan isterinya langsung pergi ke tokoh sufi di Jawa Barat yang cukup jauh jaraknya dari Jakarta. Mereka merasa heran, mengapa isteri pejabat itu yang punya pagar diri sangat kuat itu bisa diganggu jin dan syetan. Mereka yakin, syetan dan jin yang mengganggu si gadis sangat kuat, kalau tidak, kenapa bisa menembus pagar yang sangat kuat, begitu jalan pikiran mereka.

Saya sendiri bingung karena tidak tahu menahu urusan pagar begitu. Rumah si gadis terasa menyeramkan, kedengaran suara macam-macam terus menerus yang tidak jelas sumbernya. Rasanya juga sudah lain bila berada disitu.

Si gadis dibawa mengungsi ke rumah saya, tetapi seluruh anggota keluarga ikut ngungsi juga ke rumah saya. Tidak ada yang berani tidur di rumah mereka, termasuk bapak dan saudara laki-laki si gadis yang sudah dewasa.
Kalau ada keperluan untuk mengambil pakaian ganti misalnya, mereka masuk ke rumah siang hari, tidak berani sendirian, harus ditemani. Sebulan mereka mengungsi di rumah saya.

Saya mulai memikirkan strategi untuk menyelesaikan persoalan ini. Yang dihadapi makin banyak dan kuat-kuat.
Akhirnya saya putuskan, mendatangi mereka satu-satu di sarangnya masing-masing, tidak menunggu mereka datang menyerang.

Awalnya saya ajak si gadis mendatangi tokoh yang di gunung Semeru. Di alam itu si gadis melihat dirinya dan saya terbang kearah puncak gunung. Disitu ada semacam pondok pertapaan, didalamnya tokoh yang sadis dan menyeramkan ini sedang bersemedi. Dia kaget melihat kehadiran kami. Saya juga tidak mau basa-basi dan panjang lebar, langsung menghajarnya sampai tidak bangun-bangun dan hancur, termasuk pondoknya dimusnahkan.
Dia muncul lagi berulangkali, saya tidak beri ampun terus menghajarnya, sampai yang tersisa asapnya yang naik keatas.

Begitu juga dengan konco Abah A lainnya, saya datangi satu-satu di sarang mereka masing-masing bersama si gadis. Saya hajar seperti yang saya lakukan pada tokoh di gunung Semeru tadi.

Giliran berikutnya Abah A. Menurut si gadis, Abah A ini dukun, pernah datang ke rumah mereka sebagai peminta-peminta. Mereka sempat beri makan dan uang karena kasihan melihat kakek-kakek serenta itu mengitari komplek untuk minta-minta. Sorot mata si kakek ini sangat tajam dan menakutkan, begitu penuturan mereka yang melihatnya termasuk si gadis. Abah A yang dilihat si gadis di alam jin dan syetan adalah kakek tadi.

Tempat abah ini banyak, ada di pondok di daerah persawahan, kebun dan rumah juga ada di beberapa tempat, di gua juga ada. Saya tidak peduli, saya datangi semuanya menghancurkannya dengan tempat-tempatnya sekalian.

Setelah dihajar dengan cara seperti itu, kekuatan syetan si Abah A cs tidak begitu kuat lagi, serangannya pada si gadis tidak begitu terasa lagi.

Sementara pejabat dan isterinya sudah kembali dari tokoh sufi, lewat saudaranya mengirim air do’a di botol yang katanya langsugng dari tokoh sufi itu. Si gadis minum air itu, diusapkan juga di kepala dan dahinya.
Mulanya cukup manjur, syetan yang mengganggu si gadis teriak kepanasan kalau kena air itu. Tetapi lama-lama tidak mempan lagi.

Beberapa hari kemudian tokoh sufi itu mengirim orang untuk mengeluarkan barang sihir yang ada di rumah si gadis. Menurut orang yang melihatnya, caranya pakai bakar kemenyan segala dan didapat lagi bungkusan kain putih yang berisi silet, paku, jarum dan lain-lain, begitu cerita yang menyaksikannya. Keluarga si gadis dimintai uang cukup banyak untuk beli kambing jantan yang besar sebagai kurban.

Setelah itu keadaan si gadis tidak berubah, pekerjaan saya jadi lebih berat dengan munculnya syetan dukun dari Jakarta, Sumatera dan Bogor dengan cara dan gaya masing-masing. Mereka ini sangat sulit dikalahkan.

Saya terus berdo’a dan minta petunjuk. Kalau sudah terdesak, mereka berlindung pada syetan berupa sesuatu terbungkus kain putih, ada kepala dan matanya. Syetan ini yang menjadi tameng mereka dan syetan ini tidak mempan dihajar. Saya merasa lelah jadinya.
Lebih dari seminggu begitu terus. Saya terus berdo’a mohon petunjuk pada Allah.

Suatu sore menjelang magrib, ketika saya duduk di kamar kerja sambil berdo’a, dalam keadaan setengah tidur, sesuatu yang putih tiba-tiba menghajar saya. Tidak sakit tapi sangat mengagetkan.

Saya terus berpikir, apa sebenarnya yang menghajar saya, kemudian saya kaitkan dengan syetan putih yang dilihat si gadis.

Seharian saya berpikir, akhirnya saya seperti dapat ilham dan petunjuk bahwa yang putih itu sebenarnya jimat milik bapaknya si gadis.
Memang benar, setelah jimat itu dikembalikan kepada paranormal yang meminjamkannya, termasuk yang dipegang si gadis, ibunya dan saudaranya dikembalikan semua, tidak muncul lagi syetan putih tempat syetan dukun tadi berlindung. Syetan-syetan dari dukun yang tampak terus saya hajar tanpa ampun.

Kemudian saya berpikir lagi, kalau barang-barang semacam itu jadi penghalang, berarti benda-benda pusaka yang ada di rumah si gadis harus disingkirkan juga karena mungkin menjadi salah satu penghalang. Sayapun minta benda-benda pusaka itu disingkirkan dari rumah, mereka pindahkan ke rumah saudara mereka.

Memang benar ada pengaruhnya, syetan-syetan itu dengan gampang kena hajar.

Syetan-syetan dukun lain tidak begitu berarti lagi, tinggal syetan pasangan suami-isteri si nenek dan si kakek tokoh ilmu hitam dari Bogor. Melawan mereka berdua cukup lama. Tempatnya pindah dimana-mana, banyak sekali. Wujudnya juga berubah-ubah berupa binatang antara lain kelelawar dan burung gagak.

Burung gagak diatap rumah saya.
Saat seru-serunya pertarungan melawan dukun daerah Bogor ini, tetangga sebelah rumah yang keluar rumah sebelum subuh, melihat seekor burung gagak bertengger diatas atap rumah saya. Sampai siang burung itu masih bertengger disitu.
Burung gagak tersebut mungkin terbang kesitu tengah malam, dan sangat mengherankan burung gagak bisa terbang malam-malam, padahal dia bukan jenis burung malam.

Menurut kepercayaan banyak orang, apabila di atap rumah yang ada orang sakit kena sihir atau santet dihinggapi burung gagak, disitu ada kematian, kalau bukan si sakit yang mati, yang mengobatinya yang mati.

Saya tidak hiraukan burung gagak itu, tidak saya usir. Saya tidak ingin menghubung-hubungkan kepercayaan orang-orang seperti tadi, saya takut pada Allah, saya pasrah padaNya. Mau sakit, mau mati, itu hak Dia membuat saya sakit atau mati, itu saja yang saya pegang. Saya juga takut musyrik kalau saya percaya tahyul tadi. Alhamdulilah tidak terjadi apa-apa dengan si gadis dan saya sekeluarga.

Setelah selesai si kakek dan si nenek yang di Bogor ini, muncul yang paling akhir, syetan yang terus menawan di gadis, tidak mau dilepasnya sama sekali. Dilawan juga tidak mempan.

Ketika saya tanya si gadis siapa dia, rupanya itu syetan ustadz dari Bogor, guru mereka sekeluarga yang mengajarkan dzikir dan wirid.

Menurut penuturan ibunya si gadis yang ustadzah, suatu waktu si ustadz datang ke rumah mereka minta uang. Ketika ibunya si gadis mengatakan tidak punya uang, ustadz itu langsung membantahnya bahwa di lemari mereka di kamar ada uang tujuh ratus lima puluh ribu rupiah. Ibunya si gadis terperangah, kok tahu ada uang di lemari jumlah memang sebanyak itu, terpaksa uang itu dikasih ke ustadz.

Saya terus berpikir mencari cara untuk menuntaskan persoalan si gadis. Berhari-hari syetannya si ustadz ini tidak tersentuh sedikitpun oleh serangan yang saya lakukan, sementara si gadis tidak dilepaskan sekejappun. Saya berdo’a dan minta petunjuk pada Allah. Waktu itu saya berpikir, kemungkinannya syetan itu tidak bisa kena serangan karena selalu bersama si gadis. Saya kemukakan pada si gadis hal ini.

Begitu dicoba, si gadis harus melepaskan diri dari syetan si ustadz di alam itu , tetapi sangat sulit. Tetapi begitu saya suruh dia berdo’a sesuai saya tunjukkan, diapun lepas, syetan itu saya hajar tanpa ampun. Sayapun menggempur dan mengejarnya sampai ke sarang-sarangnya yang bertebaran di berbagai tempat. Sarang-sarangnya juga dihancurkan sama sekali. Setelah itu si gadis aman, sembuh total, pengobatan yang melelahkan itu selesai.;
Seri berikutnya ( bagian 6 ), TIDAK SENGAJA BERTANDANG KE ISTANA NYI RORO KIDUL DI DASAR LAUT.

Menjelajah Alam Jin Dan Syetan ( bagian 4 )

Badan saya terasa sakit setelah mengobati si gadis selama seminggu. Saya tidak sempat berpikir mendalam dan merenung karena tidak ada kesempatan.
Saat saya shalat, makan dan di kamar mandi tidak bisa lama-lama karena seringkali saat seperti itu si gadis dihajar syetan si Abah A dan teman-temannya sampai pingsan dan sekarat, hampir-hampir napasnya berhenti. Saya khawatir kalau terlambat sedikit si gadis tidak tertolong. Saya tidak tega melihatnya.

Bapaknya beberapa kali menangis melihat penderitaan putrinya, padahal sejak remaja sampai setua itu tidak pernah menangis meskipun pada saat orangtuanya meninggal.

Praktis selama seminggu boleh dikatakan saya tidak tidur, hanya pulas beberapa menit di kursi kemudian terbangun lagi. Hal yang terus membingungkan saya, kok mereka tidak mati atau lemah padahal menurut penglihatan si gadis, mereka dihajar sampai hancur berantakan. Mereka terus muncul setiap saat dengan kondisi dan kekuatan utuh menyakiti si gadis.

Waktu itu saya berpikir, apa mungkin bisa mengalahkan mereka secara tuntas dalam arti si gadis sembuh total.
Biasanya begitu mereka kalah atau kabur setelah bertarung dengan saya, si gadis tidak merasakan sakit sedikitpun, keadaannya biasa saja seperti orang sehat.

Ancaman yang mengguncang hati dan perasaan.
Saya ingat waktu itu pukul 20.00 setelah seminggu saya obati si gadis. Si Abah A bersama teman-temannya marah besar pada saya yang selalu menghalangi hajat mereka untuk membunuh si gadis. Saat itu si gadis baru saja sekarat karena digorok lehernya dengan golok oleh syetan si Abah A. Saya datang tepat pada waktunya untuk menolong si gadis sehingga si Abah A gagal malaksanakan hajat jahatnya.

Si gadis sadar setelah ditolong, melihat ke si Abah A dan ketiga tamannya yang masih ada dihadapannya. “ Abah mau bicara Om “, begitu kata si gadis pada saya. Kemudian dia lanjutkan :” Om disuruh pilih, mau bicara langsung atau lewat perantaraan saya “.

Setelah Tanya-jawab lewat perantaraan si gadis, baru saya paham maksudnya, kalau bicara langsung, syetan si Abah A masuk ke diri si gadis dan bicara langsung dengan saya. Kalau lewat perantaraan si gadis, si Abah A bicara pada si gadis kemudian si gadis menyampaikan pada saya apa yang dikatakan si Abah A.

Kemudian saya sepakat dengan syetannya si Abah A, bicara langsung dengan syarat tidak boleh main curang dalam arti dia tidak menghajar si gadis saat dia ada dalam dirinya.

Si Abah A bicara pada saya seperti seorang kakek yang sangat bijaksana dan sangat sabar kepada seseorang yang tingkatnya jauh dibawah dia, menganggap saya seperti anak kecil sehingga saya dipanggil Ujang.

Pertama kali dia memperkenalkan diri sebagai tokoh tua yang baik dan penuh pengertian, tetapi dia menyatakan tidak mampu menahan ketiga temannya yang ganas. Saya hanya ingat salah satu diantara teman yang diperkenalkan itu, tokoh dari puncak Gunung Semeru yang sangat haus darah, minumnya darah manusia, makanannya organ tubuh manusia dan saat itu sedang kelaparan.

Kata si Abah A, teman-temannya sudah tidak sabar untuk menghabisi saya, tetapi ditahan oleh dia, mau dirundingkan dulu dengan saya.

Si Abah A berkata pada saya : “ Ujang masih muda, punya kedudukan bagus di kantor, isteri sangat cantik dan muda, anak-anaknya pintar-pintar dan manis-manis masih kecil. Kalau Ujang mati, siapa yang urus mereka, siapa yang kasih makan mereka. Ujang nggak kasihan sama mereka. Sebaiknya Ujang jangan ikut campur lagi dalam urusan Abah ini “.

Semua yang ada di rumah dan ikut mendengarkan jadi diam, seperti bergidik ngeri dan seram, menatap saya dengan perasaan khawatir. Untung isteri dan anak saya tidak ada disitu.

Saya masih diam, belum menjawab. Hati dan perasaan saya terguncang hebat, karena apa yang dikatakan si Abah A kena benar pada diri saya. Kalau saya mati, tidak mungkin orang yang saya tolong mati-matian dengan taruhan nyawa ini bisa dan mau mengurus dan menghidupi anak-isteri saya.

Waktu itu isteri saya belum punya penghasilan apa-apa, karena dia hanya ibu rumahtangga dan kebutuhan keluarga hanya mengandalkan penghasilan saya.
Buat saya, itu benar-benar sulit, kalaupun mati artinya mati konyol.

Si Abah A mendesak : “ Bagaimana Jang “.

Orang-orang yang ada disitu memandang saya dengan tatapan tidak tega dan penuh khawatir. Apalagi keluarga si gadis merasa tidak enak waktu itu. Saya masih diam mempertimbangkan. Terbayang wajah isteri dan anak-anak yang sangat saya sayangi dan manjakan. Hati saya tergetar, betapa berat pilihan ini, betapa berat cobaan ini. Dibenak saya menggaung pertanyaan, “ akankah isteri dan anak-anak saya menyesali saya sepanjang hayat mereka kalau saya mati konyol karena menolong orang lain, sementara mereka jadi korban “.

Si Abah A terus mendesak : “ Bagaimana Jang, mundur apa terus.”

Tiba-tiba seperti ilham yang menyadarkan saya bahwa kehidupan ini pemberian Allah dan pengobatan yang tengah saya lakukan ini adalah ketetapan Allah, tanpa saya minta tanpa saya cita-citakan sebelumnya. Saya harus kembalikan semuanya pada Dia, terserah apa ketetapannya kali ini.

Akhirnya saya jawab dengan tegas : “ Saya tawakkal pada Allah, saya terus, apapun yang terjadi “.

Si Abah berkata dengan sabar dan bijaksana : “ Begini Jang. Abah kasih waktu untuk berpikir, jangan buru-buru. Jam dua nanti Abah datang lagi bersama teman-teman.”

Si Abah A keluar dari si gadis, bersamaan dengan itu si gadis sadar, sehat walafiat, tidak ada keluhan apapun. Si gadis cerita, memang ketiga teman si Abah A itu seram dan sadis serta sangat menakutkan.

Si Abah A keluar dari si gadis jam sembilan kurang. Menunggu jam dua dini hari waktu sangat menyiksa bagi saya. Rumah itu terasa seperti tempat yang sangat menyeramkan dan mengerikan. Siapapun yang ada disitu tidak ada yang mengeluarkan suara keras masing-masing larut dalam suasana ketakutan yang mendalam.
Menatap wajah mereka satu-satu membuat saya makin tidak enak, wajah-wajah yang penuh ketakutan dan ngeri, terutama keluarga si gadis. Ada juga yang sampai meneteskan air mata.

Mereka tidak ada yang berani bicara dan menegur saya yang tengah larut dalam suasana hati pasrah dan bicara pada Allah. Saya telah memilih garis nasib saya sendiri dari sekian pilihan yang dibentangkan oleh Allah dihadapanku. Saya yakinkan diri saya, pilihan saya tadi karena Allah, pasti Dia menolong saya seperti yang telah dilakukanNya sejak saya kecil.

Sekitar sejam kemudian, muncul seorang ibu tetangga jauh ustadzah, tetapi sering mengikuti pengajiannya. Ibu itu mengajak serta seorang pemuda lajang, usianya dibawah saya. Rupanya pemuda itu anak pesantren, paham dan bisa mengusir syetan.

Kami berdua berunding bagaimana menghadapi si Abah dan ketiga temannya. Walaupun pemuda itu lebih tahu dari saya tentang cara melawan jin dan syetan, dia rendah hati dan sopan. Pendapat saya diturutinya. Apa-apa yang akan dilakukannya dia Tanya saya dulu.

Pemuda menentukan garis batas yang melintang di depan si gadis sambil komat-kamit membaca sesuatu, saya tidak dengar. Menurut dia, kalau si Abah A cs datang, dihajarnya setelah melewati garis batas itu. Saya iyakan saja. Si gadis juga diingatkan kalau mereka melewati garis batas itu, cepat kasih tahu kami.

Setelah kehadiran pemuda ini, suasana tidak lagi setegang sebelumnya.
Saya tidak paham sama sekali, bagaimana cara pemuda ini bertarung, apa saja yang dibacanya dan gunanya apa, saya merasa tidak enak untuk menanyakannya.

Waktu terasa begitu lama berjalan menunggu jam 02.00. Makin dekat ke batas waktu, suasana kembali mencekam. Saya larut dalam do’a dan dzikir, pemuda itu juga begitu, dia terus komat-kamit. Keluarga si gadis tidak terkecuali, mereka kelihatan sangat sungguh-sungguh dalam do’a dan dzikir.

Sebentar-sebentar kami menoleh ke jam dinding yang tergantung menghitung waktu yang tersisa. Dada saya mulai berdebar, jantung mulai berdetak kencang. Tiba-tiba saja saya terserang perasaan tidak tenang. Meskipun terus berdo’a, tidak bisa juga menenangkan diri. Tapi saya kuatkan diri dan berjanji dalam diri akan bertarung mati-matian, apakah mereka yang hancur, atau saya yang mati.

Tepat jam 02.00 si gadis melaporkan bahwa si Abah A cs telah datang. Si Abah A bertanya lewat si gadis, apakah saya mau bicara langsung atau pakai perantara si gadis.
Waktu itu saya pikir saya harus hati-hati dan keputusan yang diambil harus tepat, salah sedikit bisa fatal, karena keadaan genting seperti itu. Agak lama saya pertimbangkan baik buruknya kedua pilihan itu.

Akhirnya saya putuskan bicara dengan perantaraan si gadis saja. Kalau langsung berarti si Abah A masuk ke diri si gadis, bisa-bisa si gadis disandera dan merajalela menyiksa si gadis.

Si Abah A Tanya keputusan saya, terus atau mundur. Saya tegaskan saya tidak berubah pendirian, saya persilahkan dia mulai.

Si Abah mencoba menteror saya lagi untuk melemahkan saya dengan , mengingatkan isteri dan anak-anak saya di rumah, apa tidak sayang pada mereka.

Tapi saya sudah tidak sabar dan sudah tidak peduli karena saya ingin segera lepas dari suasana hati, perasaan dan pikiran yang sangat tidak enak akibat terror si Abah A.

Si Abah A minta saya yang mulai, alasannya dia yang tua dan lebih tinggi tingkatannya tidak pantas menyerang duluan anak ingusan seperti saya.

Saya jawab, dia yang menginginkan pertarungan ini, dia yang harus memulai. Pertimbangan saya, kalau kami yang memulai, berarti mereka tidak sempat melewati garis batas yang telah ditetapkan oleh pemuda tadi, berarti saya melanggar kesepakatan dengan si pemuda karena ini bahagian dari strategi untuk mengalahkan mereka.

Saat bolak-balik tawar-menawar itu salah seorang konco si Abah A tidak sabar langsung maju menyerang. Melewati garis batas tadi. Si gadis langsung teriak memberitahu kami.
Pemuda yang sejak tadi konsentrasi penuh menunggu moment ini, langsung mendorong kedua telapak tangannya yang terbuka kedepan seperti mengerahkan pukulan jarak jauh.

Si gadis melapor, syetan yang kena hajar itu jatuh terguling dan kondisinya sangat parah. Si gadis sangat semangat menyampaikan laporan apa yang dilihatnya.

Si Abah A rupanya marah-marah dan terus bertanya siapa lagi yang ikut campur. Kami tidak menghiraukannya, kami terus menggempur mereka secara berbareng.
Si gadis melihat terjadi pertarungan mati-matian antara kami dengan si Abah cs. Mereka tidak melarikan diri seperti biasa. Tidak terlalu lama pertarungan ini, mereka jatuh bergelimpangan, tidak bangun-bangun kemudian hilang dari penglihatan si gadis. Untuk sementara kami semua bernapas lega.

Pihak keluarga si gadis merasa tidak enak terus membebani saya. Setelah berunding dengan ibu tetangga jauh tadi, mereka sepakat membawa si gadis ke seorang kiyai terkenal di Jakarta yang menjadi langganan ibu itu.
Habis shalat subuh kami ramai-ramai mengantar si gadis kesana, menunggu berjam-jam disana. Rupanya hari itu hari libur kiyai itu, tidak terima tamu, kiyai tidur, istirahat setelah berhari-hari meladeni tamu yang sangat banyak.

Si ibu tetangga jauh tadi mencoba membujuk isteri kiyai agar bisa ketemu kiyai sebentar saja, tidak bisa juga meskipun permintaan itu disertai tangisan si ibu.

Akhirnya si gadis dibawa ke tempat Pak Haji, tidak jauh dari situ, orang disekitar situ juga yang kasih tahu. Pak Haji itu mengobati orang juga, tetapi tidak sepopuler kiyai tadi.

Cara Pak Haji mengobati, bagi saya sangat unik dan menarik. Satu gelas air putih diletakkan diatas meja jauh di depannya, satu air putih lagi diletakkan diatas meja di depan si gadis. Pak Haji menatap tajam gelas di depannya, bergantian dengan menatap gelas di depan si gadis.

Saya kagum pada Pak Haji itu. Setelah dia menatap, baru mengungkapkan apa-apa yang diketahuinya tentang apa saja yang ada pada si gadis dan keluarganya. Apa yang diungkapkannya, semua benar, tidak sedikitpun yang salah. Dia bilang si gadis dan keluarganya mengamalkan wirid tanpa kepala, maksudnya wirid yang tidak didahului dengan membaca Al Fatihah, mereka juga pakai jimat dan di rumah si gadis ada benda pusaka.
Pak Haji berjanji ke rumah si gadis besoknya dan memang dia datang..

Saya jadi lega, tidur seharian untuk memulihkan kondisi. Saya pikir sudah tidak ada masalah lagi, Pak Haji itu bisa menuntaskannya.
Tetapi kenyataannya, bertolak belakang dengan perkiraan saya. Sehari setelah Pak Haji ke situ, si gadis dihajar lagi oleh syetan, teriak-teriak kesakitan lagi sampai pingsan.

Sayapun dipanggil dan dimintai tolong lagi. Rupanya porsoalan sakitnya si gadis lebih berat dan rumit dari sebelumnya, sampai-sampai isteri pejabat Omnya si gadis kesambet waktu menjenguk si gadis, rumah si ustadzah jadi seram dan angker, si gadis bersama seluruh keluarga mengungsi ke tempat saya

Menjelajah Alam Jin Dan Syetan ( bagian 3 )

Sampai dengan berakhirnya kasus seperti saya paparkan pada seri artikel ini ( bagian 2 ) sebelumnya, saya tidak berani dan tidak mau mengobati orang lain selain dari lingkungan keluarga sendiri. Masalahnya saya belum tahu persis kenapa yang sakit bisa sembuh setelah saya obati, bagaimana bekerjanya pengobatan ini, bagaimana proses terusirnya syetan dan jin dari diri seseorang, bagaimana proses kalahnya syetan dan jin setelah saya berdo'a dan mengerahkan kekuatan.

Saya juga tidak tahu bagaimana cara jin dan syetan membuat orang jadi sakit, bagaimana cara kerja sihir dan santet sehingga bisa mencelakakan orang. Pertanyaan-pertanyaan itu terus menghantui saya. Ada yang saya tahu sedikit dari penuturan orang dan dibaca, tetapi bagi saya masih belum jelas.

Tetapi saya mengerti sedikit tentang kedokteran karena sewaktu kuliah bergaul dengan teman-teman mahasiswa kedokteran, sama-sama di organisasi kemahasiswaan. Setelah bekerja juga banyak bergaul dengan dokter disamping saya baca buku tentang medis.

Psikologi juga saya tertarik dan paham, karena waktu kuliah ada mata kuliah psikologi dan baca buku tentang psikologi. Tetapi bagi saya, psikologi itu suatu ilmu yang tidak jelas dasar berpijaknya, hanya meraba-raba. Sarjana psikologi yang mengajar mata kuliah psikologi tidak bisa menjawab banyak pertanyaan saya. Dalam buku-buku psikologi yang saya baca termasuk bukunya Sigmund Freud, tidak saya dapatkan apa yang saya cari.

Dalam perjalanan hidup saya berikutnya, banyak kasus kejiwaan tidak bisa diselesaikan oleh psiater, kenapa saya bisa selesaikan dengan baik dan tuntas.
Hal ini menambah keyakinan saya bahwa dasar berpijak psikologi itu tidak jelas.

Meskipun saya telah berketetapan sangat kukuh tidak akan mengobati orang lain, tetapi saya tidak bisa berbuat apa-apa setelah Allah menetapkan apa yang dikehendakiNya.

Heboh, putri ustadzah kesurupan
Waktu itu saya sangat sibuk. Saya ada pekerjaan sambilan diluar kantor, karena di kantor belum ada kegiatan, dan pekerjaan itu baru separuhnya selesai.
Tiba-tiba isteri mengajak saya untuk menengok putri ustadzah yang sakit. Awalnya saya keberatan karena saya memang sedang sibuk sampai-sampai tidurpun jarang.
Tetapi saya tidak tega melihat ekspresi kecewa di wajahnya. Ustadzah ini guru ngajinya dan dia hormat padanya. Hal lain saya khawatirkan, dia telah janji pada ustadzah, saya yang akan mengobati puterinya, pengakuannya dia tidak menjanjikan itu.

Akhirnya saya mau dengan perjanjian, saya tidak akan mengobati.

Kasus putri ustadzah ini memang aneh. Gadis itu perutnya buncit seperti orang hamil.
Menurut pihak keluarga, setelah dibedah oleh dokter, isi perut si gadis berupa cairan hitam seperti comberan sebanyak dua atau tiga liter ( saya lupa ).

Setelah dioperasi, gadis itu merasakan sakit yang tiba-tiba saja datangnya, hilangnya juga tiba-tiba. Rasa sakit biasanya timbul sekitar magrib dan matahari terbit. Bapaknya si gadis kembali pada dokter yang mengoperasi putrinya, minta dicek lagi, takut ada yang salah. Dokter datang ke rumah si gadis memeriksanya. Dokter menyatakan tidak ada masalah dengan medis, malah disuruh cari orang pintar untuk menyelesaikan masalah non-medisnya.

Pergilah bapak si gadis ke salah seorang paranormal yang menjadi langganan tetap kalangan atas di Jakarta ( pejabat tinggi ). Paranormal itu telah mengobatinya beberapa kali, malah dia sudah menggali lantai ubin dalam rumah ustadzah itu di beberapa tempat yang konon ada jarum, paku, silet, rambut dan sebagainya tertanam disitu, sudah dikeluarkan. Tetapi si gadis tidak sembuh-sembuh.

Habis shalat magrib saya bersama isteri berkunjung ke rumah ustadzah itu. Si gadis sedangf bercengkerama dengan adik-adik dan ibunya di ruang tamu. Diapun ikut menyambut kami yang datang. Sekitar sepuluh menit setelah dia masuk ke kamarnya dari ruang tamu, penyakitnya kambuh.

Saat itu saya benar-benar berada dalam kebimbangan yang luar biasa antara mengobati si gadis dan tidak. Kalau tidak saya obati, saya takut pada Allah yang telah melimpahkan segala sesuatu yang tak ternilai pada diri saya dan kemampuan mengobati, saya yakin sebagai karunia Allah. Bagaimana saya mempertanggung-jawabkannya dihadapan Allah di akherat nanti.

Akhirnya saya putuskan mengobatinya. Saya berdo'a sambil memegang dahi si gadis, tidak ada reaksi, si gadis tetap mengerang kesakitan. Saya lakukan lagi, tidak juga membuahkan hasil. Setelah saya ulangi kali ketiga, tiba-tiba dari mulut si gadis keluar suara kakek-kakek sangat tua dengan logat bahasa Banten, yang intinya minta minum karena lelah dan haus habis dari perjalanan jauh. Kontan seisi rumah itu, saudara dan kedua orangtua si gadis membentak dan menyampaikan sumpah-serapah kepada si kakek yang menyebut dirinya Abah A.

Rumah jadi sangat gaduh, ribut dan tidak keruan. Tetangga berdatangan. Suasana tambah ramai dan berisik. Dalam rumah sampai teras depan dan jalan depan rumah penuh oleh tetangga.
Perkiraan saya ada dua hal yang membuatnya begitu heboh.
1. Ustadzah ibunya si gadis pada pengajian mingguan ibu-ibu di komplek perumahan itu
sering mengatakan dengan keyakinan penuh bahwa jin dan syetan tidak mungkin dan
tidak bisa mengganggu orang-orang yang rajin ibadah seperti shalat, puasa, berdzikir
dan sebagainya.
2. Mereka bertanya-tanya apa iya Pak JH yang tampang dan gayanya antara seniman dan
preman itu bisa mengobati orang.

Mengenai hal kedua ini diakui oleh bapaknya si gadis. Malam itu sekitar tengah malam waktu saya istirahat sebentar, bapaknya si gadis minta maaf pada saya, karena waktu saya mau mengobati si gadis, dalam hatinya berkata, masa tampang kayak gini bisa mengobati anak saya. Paranormal hebat dan terkenal saja nggak bisa.

Suasana di rumah itu tambah ribut dan berisik saja. Orang-orang di komplek perumahan itu berdatangan.

Rupanya syetan yang masuk ke si gadis kesal juga dibentak dan dicaci-maki, diapun mengancam akan masuk ke yang membentak dan yang mencaci makinya. Ancaman ini sangat ampuh, mereka diam ketakutan.

Si Abah A menanyakan barangnya, maksudnya yang digali oleh paranormal, dia minta dikembalikan. Dia juga menanyakan bapaknya si gadis yang hendak dibunuhnya. Si Abah A mengatakan saya mengganggu dia dan menanyakan siapa saya yang berani ikut campur urusannya. Saya tidak jawab karena tidak tahu harus jawab apa. Saya sendiri bingung, bagaimana menghadapi situasi ini, kenapa si gadis kesurupan setelah saya obati.

Saya terus berdo'a dan berpikir. Kesimpulan saya tidak ada jalan lain kecuali mencoba pengalaman yang secuil, bertarung dengan berdo'a dan mengerahkan kekuatan. Sudah kepalang tanggung, apa yang terjadi, terjadilah, begitu yang ada di benak saya waktu itu.

Laporan pandangan mata jiwa dari alam jin dan syetan
Beberapa kali upaya ini membuahkan hasil. Si gadis jadi sadar, tetapi dia bisa melihat jelas alam jin dan syetan. Dia melihat syetan yang mengaku si Abah A dari Banten itu bersama tiga konconya yang seram-seram. Saya makin heran dan bingung, apa yang telah saya lakukan sehingga membuat si gadis bisa melihat alam jin dan syetan. Jujur, saya tidak tahu sama sekali waktu itu, tambah bingung dan penasaran saya.

Suasana jadi tambah menarik karena yang hadir bisa mengetahui apa yang terjadi di alam jin dan syetan lewat laporan si gadis. Dia melihat saya dibantu paranormal yang pernah mengobatinya, bertarung melawan keempat orang itu. Pertarungan seperti perkelahian biasa, memukul, menonjok dan menangkis, adakalanya dengan pukulan jarak jauh dengan cahaya yang memancar dari kedua telapak tangan yang terbuka ke depan. Begitu si gadis melihat saya jatuh di alam itu, dia menangis khawatir menyuruh saya cepat bangun dan mohon agar saya jangan sampai jatuh. Dia juga teriak kesakitan kalau kena serangan.

Rupanya di rumah saya sendiri terjadi hal yang menyeramkan. Anak-anak kami yang masih kecil mendengar suara-suara yang menyeramkan. Untung mereka tidak takut.

Sayapun terus berkonsentrasi dalam pertarungan, baju sampai basah kuyup. Si gadis melihat saya menghajar syetan-syetan itu dengan sinar putih, kadang-kadang bergantian dengan sinar biru dan ungu. Saya mulai memahami sedikit tentang pengerahan kekuatan dari diri saya dan wajudnya di alam jin dan syetan serta akibat-akibat yang ditimbulkannya. Saya jadi semangat.

Setelah pertarungan berlangsung sekitar dua jam, keempat syetan itu kalah dan melarikan diri.

Sampai pada tahap ini saya sangat senang dan bahagia, bersyukur pada Allah Taala. Beberapa hal mulai terbuka bagi saya. Saya mulai belajar mengatur pengerahan kekuatan yang efektif dan efisien. Sesuatu yang saya kerahkan dari dalam diri saya, kelihatan jelas oleh si gadis dan dilaporkan secara detail, termasuk akibgat-akibat yang ditimbulkannya.
Apa yang saya rasakan di fisik, kelihatan jelas oleh si gadis, misalnya saya kena senjata di alam itu saya merasakan sedikit di tubuh saya. Meskipun saya lelah dan capek, tetapi saya tetap semangat mendapati kenyataan seperti itu.

Saya bilang pada gadis, kita kejar terus mereka yang melarikan diri itu, sementara paranormal yang pernah mengobati si gadis tidak mau ikutan lagi.

Si gadis melihat dirinya terbang bersama saya menuju sebuah gua. Saya ingatkan si gadis selalu ambil posisi dibelakang saya agar tidak kena serangan.
Saya mulai tidak takut dan tidak canggung, malah mulai marasa asyik pada hal baru yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya.

Penonton makin asyik mendengarkannya, tambah ramai mereka.
Setelah sampai di depan gua, saya minta si gadis meneliti secara cermat apa yang ada di sekitar gua dan di dalam gua dan melaporkannya secara detail. Di sekitar gua tidak ada apa-apa yang membahayakan, tetapi dia tidak bisa melihat jelas kedalam gua yang samar-samar.

Saya putuskan masuk ke gua, kemudian kami melangkah masuk dengan hati-hati. Saya wanti-wanti pada si gadis, cepat laporkan apa yang terjadi dan apa yang dilihatnya.

Si gadis melihat dalam gua yang agak gelap dan samar-samar itu, si Abah A bersama tiga temannya menghadapi dupa yang tengah membara. Si gadis mencium bau asap kemenyan yang tajam, membuatnya merasa takut dan seram.

Tiba-tiba bara api dari dupa itu dilemparkan oleh mereka kearah kami, si gadis melaporkan cepat-cepat dengan perasaan sangat takut. Kemudian dia melihat saya menangkis serangan itu dengan kedua telapak tangan yang terbuka kedepan, kemuidan bara-bara yang dilempar tadi kembali ke mereka sendiri dan menghajar mereka. Keempatnya melolong kesakitan, si gadis tertawa, pendengar dan penontonpun ikut tertawa. Keempat syetan itu menghilang dari panglihatan si gadis. Kamipun istirahat sejenak karena tidak ada serangan dari mereka.

Pertarungan seperti ini terus terjadi, membuat saya tidak sempat tidur selama seminggu. Kalaupun tidur hanya beberapa menit saat duduk. Si gadis terus di hajar sampai pingsan dan sekarat.

Yang sangat mengherankan saya waktu itu, syetan-syetan itu tidak mati-mati, tidak juga lemah setelah dihajar babak-belur dan dihancurkan. Mereka juga tidak kapok-kapok.

Ustadzah sekeluarga sering membaca ayatul Kursi keras-keras kemudian ditiupkan pada si gadis.

Suatu waktu syetan yang ada dalam diri si gadis membentak mereka dengan mengatakan : " Gua lebih fasih baca ayatul Kursi daripada lu lu. Masa mau ngusir gua dengan ayatul Kursi ".

Setelah berlangsung seminggu pengobatan itu, datanglah ancaman dari syetan di dalam diri si gadis yang mengguncang hati dan perasaan saya. Insyaallah, ini yang akan diangkat dalam seri berikutnya

Menjelajah Alam Jin Dan Syetan ( bagian 2 )

Membaca artikel ini bagian 1, mungkin anda bertanya, apa iya segampang itu seseorang bisa mengusir syetan dan jin.
Saya juga terus bertanya begitu setelah kejadian-kejadian yang saya tulis di bagian 1. Ada apa dalam diri saya. Apa ada yang aneh atau sesuatu yang istimewa. Tetapi saya merasa biasa-biasa saja, tidak ada yang aneh dan ajaib.

Saya menelusuri kembali jalan hidup saya sejak kecil, mengingat kembali apa yang bisa diingat.
Menurut almarhumah ibunda saya tercinta, waktu kecil saya banyak sekali tanya, susah menjawabnya. Beliau buta-huruf tidak bisa baca-tulis karena tidak pernah sama sekali sekolah dan juga tidak bisa bahasa Indonesia.
Pertanyaan-pertanyaan saya pada beliau kebanyakan menyangkut Allah. Beliau merasa capek menjawab kalau saya sudah mulai tanya dan banyak diantara sekian pertanyaan terus bermuara pada Allah.

Masa kecil saya tiap hari mendengarkan bapak saya almarhum membaca kitab-kitab agama Islam. Memang beliau membaca kencang, mungkin maksudnya agar kami yang ada di rumah dan halaman mendengarkan. Dan itu menjadi acara rutin beliau dari siang sampai sore sejak saya belum dilahirkan.
Almarhum bapak saya juga tidak pernah sekolah, tetapi beliau bisa baca-tulis huruf Arab, menjadi guru ngaji disamping profesinya sebagai petani dan pedagang. Beliau dianggap ulama di desa kami. Apa-apa yang saya dengar dari bapak sangat membekas di hati dan pikiran saya.

Saya kenal Allah waktu kecil terutama dari pengajaran bapak. Saya ingat waktu kecil sering menyebut nama Allah dan bicara padaNya. Kadang-kadang mengadu dan banyak tanya padaNya.

Kalimat-kalimat dzikir untuk mendekatkan diri pada Allah yang diajarkan bapak, sering saya lafazdkan baik di mulut maupun dihati secara berulang-ulang bila saya ingat dan setiap ada kesempatan. Bapak menerangkan pahala dan kegunaan kalimat-kalimat itu bagi siapapun yang mengamalkan dengan dzikir. Saya terobsesi sangat kuat oleh hal ini waktu itu.

Kalau terhalang hujan saat mau pulang ke rumah habis bermain, saya suka bicara pada Allah seperti ini :" Ya Allah, Engkau yang menurunkan hujan. Kalau memang benar, sekarang aku mau pulang ke rumah, aku mohon hentikan dulu hujannya agar aku tidak basah". Tiba-tiba hujan berhenti, sayapun pulang. Saya tidak pernah cerita hal ini pada siapapun, termasuk kepada orangtua dan saudara-saudara saya. Berulangkali saya lakukan hal itu.

Waktu-waktu seperti itu saya senang sekali karena Allah menjawab pertanyaan saya dengan cara seperti itu.Seringkali hati dan perasaan saya larut, hanyut, haru dan luluh padaNya oleh berbagai sebab. Saya makin percaya padaNya, tambah semangat memanggil dan bertanya padaNya.

Sehabis main layangan di lapangan sore hari, saya suka tidur terlentang di rumput menatap langit biru cerah dan sering bertanya dalam hati, ada apa diatas langit itu : " Ya Allah aku ingin tahu ada apa. Aku ingin seperti Malaikat dan jadikan aku seperti Malaikat yang bisa terbang kemana-mana, bisa melihat apa yang ada di langit ". Bapak saya banyak membacakan tentang langit dan Malaikat dari kitab-kitabnya. Obsesi ingin jadi seperti Malaikat yang bisa terbang sangat kuat sampai saya menginjak usia remaja.

Keingin tahuan dan mendapatkan pembuktian tentang apa yang saya pahami, terus mendera saya sampai saat ini.

Mungkin itu semua yang membuat saya dengan gampang bisa mengusir syetan pada kejadian pertama, Wallahu Aa'lam.

Anda bisa bayangkan betapa haru dan luluhnya hati dan perasaan saya pada Allah setelah kejadian pertama itu. Sering dalam kesendirian, saya mengharu-biru tidak keruan karena apa yang saya yakini tentang Dia sejak saya kecil, benar adanya. Dia tunjukkan buktinya pada diri saya. Subhanallah.

Pertarungan pertama.
Setelah pindah ke Jakarta saya pikir tidak akan berurusan lagi dengan jin dan syetan. Waktu itu saya sangat sibuk dan tidak ada hari libur. Pulang kantor larut malam, malah kadang-kadang pagi, kemudian berangkat lagi pagi-pagi sekali, malah adakalanya sebelum subuh sudah jalan. Saya juga sering keluar kota waktu itu sekitar tiga atau empat kali sebulan, bisa beberapa hari sekali pergi.

Tetapi Allah Taala menentukan lain. Rumah kontrakan yang kami tempati ternyata ada syetan penunggunya, belakangan baru kami ketahui dari tetangga saat pindah ke rumah sendiri.

Puteri kami yang pertama masih kecil ( TK ) menderita sakit aneh, mukanya sangat pucat dan kurus seperti mayat hidup. Dibawa ke tempat bermain anak-anak dia ikut bermain tetapi tidak ada ekspresi apa-apa di wajah dan tingkahnya. Setelah bolak-balik ke dokter anak tiga kali tidak sembuh juga, baru saya sadar bahwa dia diganggu syetan, saya obati sendiri, langsung sembuh.

Ditengah kesibukan saya seperti itu, muncul lagi kasus yang menimpa keluarga sangat dekat kami. Dia gadis N, kenal dekat dengan seorang pemuda A asal luar pulau Jawa. Setelah kasus itu selesai, baru saya ketahui bahwa pemuda A sebenarnya seorang yang punya kemampuan hebat dalam bidang spiritual dan sering menyendiri di pulau yang tidak berpenghuni di kampungnya. Konon gurunya almarhum tinggal di pulau itu.

Pemuda A ini sudah berkunjung ke rumah saudara-saudara kami di Jakarta dan sekitarnya, tetapi begitu diajak ke rumah saya oleh N, dia menolak.

Entah karena bangga atau sombong, N mengatakan pada pemuda A bahwa dia dan orang-orang sekampung dengan kami tidak bisa kena sihir dan santet, padahal dia tidak mengerti apa-apa tentang ini.

Pemuda A rupanya terusik egonya, dicobanya N. Dengan sangat mudah N kena sihir pemuda A teman dekatnya itu. Tiap malam N tidak bisa tidur ( saat itu dia tidak tinggal di rumah kami ) karena sering mendengar pemuda itu memanggil-manggilnya dari luar rumah.

Malam-malam N sering membukakan pintu buat pemuda A yang datang katanya, tetapi pemuda A tidak ada, malam telah larut dan sepi. Seringkali juga dia ingin mendatangi pemuda A di rumah kontrakannya di tengah malam, tetapi N dicegah oleh saudara kami tempat dia nginap.

Badan jadi kurus, muka pucat, tidak ada gairah hidup, tidak ada ekpsresi di wajahnya, blank sama sekali begitulah keadaan N waktu itu. Orang tua N sangat khawatir melihatnya.

Begitu saya obati, N teriak dan menangis. Yang tampak di penglihatannya adalah makhluk-makhluk yang menyeramkan. Beberapa hari saya obati tidak bisa sembuh total. Malah dari mulut N keluar kata : " Kakak tidak mungkin bisa menyembuhkan saya ". Tetapi saya tidak hiraukan.

Saya merasakan hal-hal yang aneh pada diri saya, begitu juga dengan isteri saya dan yakin itu hasil perbuatan si pemuda A.

Suatu malam setelah pengobatan itu, saya bermimpi berjalan di pantai, suatu perkampungan nelayan ( belakangan saya ketahui, itu kampungnya pemuda A ). Saya ketemu tulang kerangka manusia masih utuh tergeletak di pasir. Tiba-tiba tulang kerangka manusia tadi jadi hidup, dia bangun menghadang jalan saya, dari lubang tempat matanya memancar cahaya sangat terang dan kuat langsung menyerang saya. Secara refleks saya menangkis serangan itu dengan kedua telapak tangan saya sambil mengerahkan tenaga hendak menyerang balik dia. Mimpi terputus sampai disitu.

Setelah bangun saya jadi jengkel pada pemuda A. N sebenarnya suka pada dia. Kalau memang dia suka juga sama N, kenapa dia mempermainkan dan menyiksa N berbulan-bulan lamanya. Saya anggap pemuda itu keterlaluan dan jahat. Melihat keadaan N, mungkin dia mau bikin N jadi gila atau menderita terus-menerus sampai mati pelan-pelan.

Saya rasakan setanya terus membayangi saya dan mencari kesempatan untuk menyerang. Kemudian saya bilang pada syetan-syetannya yang saya rasakan kehadirannya : " Saya kasih waktu kamu tiga hari untuk datang minta maaf secara lahiriah pada N dan aku. Kalau tidak, aku akan menghabisi kalian ". Saya tidak peduli apakah pesan saya sampai ke lahiriahnya atau tidak.

Dalam hati saya bertekad akan menghancurkan mereka meskipun saya belum punya pengalaman bertarung. Saya mengingat-ingat lagi mimpi itu sampai detail-detailnya, sehingga saya yakin, Allah Taala telah mengajarkan hal penting kepada saya untuk menghadapi kejahatan pemuda A.

Saat-saat menunggu tiga hari tidak mengenakkan bagi saya. Syetan pemuda A terus menyerang, saya hanya menahannya, tidak ingin saya melanggar janji, saya takut pada Allah.

Begitu lewat waktu tiga hari, saya langsung menyerang mereka habis-habisan sebisa saya secara terus menerus, mengerahkan kekuatan seperti diajarkan oleh Allah dalam mimpi.
Terbayang di benak saya kekuatan jahat pemuda A bersama syetannya hancur lebur dan terbakar.

Tetapi anehnya masih saja terasa kehadiran syetannya meskipun tidak begitu kuat seperti sebelumnya.

Beberapa hari setelah itu N ketemu pemuda A dan menyebut nama saya, pemuda A sangat kaget, langsung pergi tanpa alasan. Sebenarnya saya pernah ketemu pemuda A selintas waktu saya berkunjung ke rumah saudara di Jakarta, seharusnya dia tidak kaget karena telah kenalan dengan saya.

Sejak pamit setelah kaget, pemuda A tidak pernah muncul lagi, tidak pernah lagi ketemu N. Saudara-saudara kandungnya yang serumah dengan dia tidak tahu juga kemana perginya, di kampungnya juga tidak ada dan tidak ada kabar berita, hilang begitu saja selama setahun.

Tetapi gangguan pada isteri saya terus datang terutama saat saya tidak ada di rumah. Kebetulan setelah kejadian itu saya keluar kota selama sebulan. Isteri saya merasa seperti ada angin dingin yang menerpa tubuhnya setiap malam, membuatnya menggigil dan sakit.

Seorang keluarga dekat kami yang bisa melihat alam jin dan syetan mengatakan bahwa dia tahu saya baru saja terlibat perang besar dan menggemparkan di alam jin dan syetan. Saya merasa heran kok dia tahu padahal dia tidak tahu saya mengobati N karena baru datang dari Jawa Timur tempat dia kuliah. Penjelasan dia, jangankan kejadian sebesar itu, kejadian kecil-kecil saja cepat tersebar di alam itu.

Setelah setahun berlalu, N diberi tahu oleh adik pemuda A tempat keberadaan kakaknya. N bersama adiknya tadi datang menengok pemuda A. Ternyata selama setahun dia menghilang dia terdampar dan menumpang di rumah seorang penduduk di kampung terpencil pinggiran Jakarta.

Begitu ketemu N, pemuda A kaget dan menyesalkan kenapa N yang datang menjenguknya.
Sebenarnya pemuda A seorang terpelajar sudah sajana S1, tetapi keadaannya saat itu sangat memprihatinkan bagi N, seperti orang bingung tidak menentu dan tidak keruan, kerjanya setiap hari membantu yang punya rumah berkebun.

N kasihan melihatnya, disuruhnya pulang kampung dan diberinya uang untuk ongkos pulang. Setelah berada di kampung selama seminggu, pemuda A meninggal tanpa menderita sakit.

Saya pikir itulah balasan dari Allah karena Allah Taala menegaskan dalam Al Qur'an, siapa yang berbuat kejahatan akan dibalas dengan kejahatan.

Setelah kejadian tadi, pertanyaan dalam hati dan pikiran saya tambah banyak. Tapi Alhamdulilah, pertanyaan-pertanyaan tadi dan pertanyaan sebelumnya sedikit demi sedikit terjawab dan tersingkap sejumlah hal yang ingin saya ketahui lewat kasus-kasus yang saya tangani berikutnya, diantaranya yang saya angkat dalam bagian 3 seri artikel ini yaitu HEBOH, PUTRI USTADZAH KESURUPAN dan LAPORAN PANDANGAN MATA JIWA DARI ALAM JIN DAN SYETAN

Menjelajah Alam Jin Dan Syetan ( bagian 1 )

Saya ingin terus berbagi pengalaman unik yang begitu banyak dalam mengembangkan dan aplikasi pengobatan alternatif yang akhirnya saya beri nama TERAPI ALIF.
Sementara kasus-kasus menarik yang saya tangani insyallah akan saya tulis terus sebagai jurnal di MP ini disamping artikel berseri seperti judul diatas, mudah2an Allah Taala memberi saya kesempatan, kekuatan dan kemampuan untuk memaparkan pengalaman yang begitu banyak dan unik selama puluhan tahun perjalanan hidup saya, agar siapapun yang mebacanya bisa memahami secara benar tentang persoalan dirinya dengan lingkungannya terutama yang berkaitan dengan jiwa dan interaksinya dengan alam jin dan setan. Tujuannya tidak lain supaya kita tidak gampang tertipu dan terjerumus dalam lembah kegelapan akibat penipuan yang dilakukan oleh jin, syetan, iblis dan manusia yang mengambil keuntungan dengan cara menyesatkan,

Membaca buku " Dialog Dengan Jin " yang sempat populer di masyarakat Indonesia saya merasa geli dengan kebohongan yang dicampur adukkan dengan kebenaran tentang alam jin dalam buku itu. Saya ingat awal-awal penjelajahan di alam jin dan syetan, saya sering dibohongi dan dikibuli bahkan ditipu dengan cara yang sangat canggih karena memang saya belum tahu dan tidak mengerti seluk-beluk dan keadaan sesungguhnya alam itu.
Penipuan itu bisa terjadi disamping karena ketidak tahuan saya, juga disebabkan oleh kelemahan saya sendiri yang sering iba pada jin dan syetan yang menyatakan tobat sambil menangis dan berlutut minta ampun dan menyatakan tunduk sepenuhnya pada saya.
Ada juga yang datang sebagai hamba yang dekat disisi Allah seperti Wali, Sufi serta semacamnya yang menyatakan membantu saya sebagai sesama hamba Allah. Mulanya saya sangat respek pada mereka, tetapi kenyataan selanjutnya mereka adalah musuh dalam selimut yang sangat sangat menyulitkan saya sampai-sampai mencelakakan saya.

Alam jin dan syetan penuh pesona dengan daya pukau yang luar biasa. Tidak heranlah bagi mereka yang telah menyatu dengan alam ini tidak ingin lepas darinya. Ada yang bisa menikmati alam itu seperti menikmati alam lahiriah, merasakan enaknya makan dan minum, pemandangan-pemandangan yang menakjubkan, merasakan sensasi kenikmatan yang dahsyat hubungan dengan lawan jenis sebagai realita sesungguhnya bagi mereka. Malah banyak juga yang bisa menghadirkan/mewujudkan keingingannya dalam alam lahiriah dengan bantuan jin dan syetan tentunya. Tetapi akhir dari perjalanan mereka ini sangat menyedihkan karena mereka jadi tumbal jin, setan dan iblis, jiwa mereka terus mengabdi pada jin, syetan dan iblis sampai akhir zaman.

Tapi alhamdulilah, Allah Taala menolong saya membongkar kebohongan dan penipuan itu, mungkin karena awalnya saya tidak sengaja menjelajah alam jin dan syetan. Saya hanya dihadapkan begitu saja saat mengobati orang sakit yang datang minta tolong pada saya.

Untuk itu saya sarankan, apabila anda ingin memahami secara lebih baik artikel berseri " Menjelajah Alam Jin Dan Syetan " ini, sebaiknya baca dulu semua artikel yang pernah saya post di blog ( Terapi Alif ) ini karena keduanya saling terkait satu sama lain dan saling melengkapi.

Pengalaman pertama.
Pengenalan saya dengan pengobatan ini dimulai secara tidak sengaja setelah saya mulai menempati ruangan kosong dibelakang kantor sebagai tempat tinggal bersama keluarga sewaktu saya bertugas di daerah kelahiran saya sendiri. Bangunan kantor merupakan bangunan tua peninggalan zaman Belanda, konon ruangan yang saya tinggali pernah dipakai oleh tentara Jepang sebagai tempat penahanan sementara dan tempat penyiksaan.

Teman-teman kantor menyampaikan peringatan orang-orang yang pernah tinggal di ruangan itu, beberapa bayi meninggal karena ganguan syetan penghuni ruangan itu. Saya tidak peduli dan dianggap keras kepala, malah saya menjawab dengan kelakar, jin dan syetan takut pada saya.

Kamis sore kami pindah kesitu, saya, isteri dan si kecil bayi perempuan kami yang lucu umur setahun anak pertama. Tepat jam 21.00 tiba-tiba si kecil menangis histeris tanpa sebab. Dia terus menangis tanpa bisa dibujuk dan dihentikan dan berlangsung cukup lama, setengah jam lebih sampai dia kejang-kejang, keluar lendir yang sangat banyak dari hidung dan mulutnya.
Awalnya saya kira masuk angin, tapi digosok pakai minyak kayu putih, masih terus menangis. Baru saya ingat kata-kata teman kantor, membuat saya dan isteri panik dan takut. Bisa-bisa si kecil yang lucu buah hati kami jadi korban syetan penghuni ruangan itu. Saya merasa sungguh menyesal kenapa tidak belajar cara mengusir syetan, mana tetangga jauh-jauh untuk minta tolong, karena begitulah lingkungan perkantoran, saya buta sama sekali tentang pengobatan semacam itu.

Saya semakin panik, akankah anak saya mati konyol di depan mata kepala saya sendiri tanpa saya mampu berbuat apa-apa. Hampir-hampir saya putus asa, rasanya seperti terpuruk, luluh tanpa daya dan merasa sangat bodoh dan dungu.

Tiba-tiba terlintas di pikiran dan hati saya untuk berbuat sesuatu, saya pegang tangan dan kepala si kecil di gendongan ibunya, kemudian dengan menangis dalam hati se dalam-dalamnya dengan perasaan yang tercabik-cabik tak keruan, memohon dengan sangat...sangat....sangat pada Allah agar anak saya ditolong dan mengusir syetan yang mengganggunya. Aneh dan alhamdulilah, sejenak kemudian anak saya terdiam dan langsung tidur.

Belakangan baru sadar bahwa itulah pelajaran pertama dari Allah buat saya, bagaimana cara mengusir syetan dan jin.

Kejadian selanjutnya di tempat yang sama, beberapa siswi SMA yang ikut tinggal bersama kami disitu sakit diganggu syetan dan kena santet. Dengan cara berdo'a seperti semula sambil saya pegang dahinya, yang sakit sembuh seketika.

Tetapi kasus berikutnya tidak segampang itu lagi, puteri kami kembali diganggu.
Sebelum dia jatuh sakit, malamnya saya melihat dalam mimpi anak kami bermain dengan dua anak perempuan sebaya dengannya di loteng ruangan tempat tinggal kami. Begitu saya panggil dia agar datang kepada saya, tiba-tiba seorang perempuan cantik muncul dan mencegahnya, tetapi saya tidak terima, tetap ngotot minta anak saya kembali ke saya. Si perempuan kesal, dijambaknya puteri kami kemudian diangkatnya sampai menggantung hendak dilemparkannya ke bawah lantai ruangan itu. Saya marah besar pada perempuan itu, kemudian saya sambil merentang kedua tangan mengancam hendak menghancurkannya. Mimpinya putus sampai disitu.

Besok siangnya puteri kami sakit lagi. Tadinya saya tidak menyadari ada hubungan antara mimpi saya dengan sakitnya si kecil. Setelah tiga hari tidak sembuh-sembuh meskipun sudah dibawa kedokter, baru saya ingat mimpi tadi.

Habis shalat magrib, saya obati si kecil seperti biasa, berdoa sambil memegang kepalanya. Aneh, kali ini dia menangis sambil minta ampun pada saya. Tapi dia belum sembuh juga. Saya ulangi lagi beberapa kali besoknya dengan cara yang sama, tidak mempan juga.

Saya ingat-ingat kembali mimpi saya secara lebih detail sambil berharap ada pelajaran dan petunjuk disitu. Ternyata memang benar, belakangan baru saya paham bahwa itu adalah pelajaran tahap berikutnya dari Allah tentang cara mengusir syetan dan jin dari diri seseorang. Cara mengusirnya tidak cukup dengan do'a saja, tetapi harus ada upaya lebih dari itu mengerahkan kekuatan. Begitu saya lakukan, si kecilpun langsung sembuh. Perjalanan dan pengalaman saya selanjutnya, Allah Taala mengajarkan tahap berikutnya bahwa melawan jin dan syetan yang menjadi tentaranya iblis tidak cukup dengan do'a dan pengerahan kekuatan karena iblis menggunakan kekuasaan Allah seperti yang diterangkan sendiri oleh Allah Yang Maha Agung dalam Al Qur'an.

Pada bagian 2 artikel Menjelajah Alam Jin dan Syetan insyallah saya akan membeberkan pertarungan pertama saya di alam jin dan syetan

Si Ibu Sering Disetubuhi Syetan

Suatu malam saya diminta tolong teman dekat untuk menengok temannya yang sakit parah di daerah pinggiran Jakarta.
Ternyata memang yang ditengok sangat parah, hanya bisa berbaring, tangan dan kaki bengkak, perut mengembung, ujung tangan dan ujung kaki menghitam hangus, cirinya seperti keracunan obat.
Delapan bulan sebelumnya dia masuk ke rumah sakit dengan gagah dalam aerti pergi sendiri. Keluhannya ringan, sakit perut. Pihak rumah sakit menyatakan liver, sehingga tidak boleh pulang, langsung dirawat.
Selama empat bulan dirawat rumah sakit ini bukannya sembuh, malah tambah parah.
Diapun pindah lagi ke rumah sakit lain. Di rumah sakit yang baru ini dia dinyatakan sakit syaraf, tetapi selama empat bulan dirawat keadaan malah tambah parah lagi.
Akhirnya dia dipulangkan ke rumahnya karena pihak rumah sakit rupanya tidak mampu lagi.
Akhirnya dia meninggal juga karena sejumlah organ dalam tubuhnya rusak berat akibat keracunan obat yang diminumnya selama delapan bulan tanpa henti. Konyolnya lagi dokter langganan perusahaan tempat dia bekerja yang terus memantau pengobatan dia, masih juga memberi obat dan menyuruh pasiennya yang sudah keracunan obat ini untuk terus minum obat.
Sewaktu ketemu saya di rumah si sakit, dokter muda tersebut dengan sinis mengatakan pada saya bahwa dia tidak percaya ada sihir dan santet.
Karena dia mengaku Islam dan membaca Al Qur’an, saya katakana dia tidak beriman pada isi Al Qur’an sebagai salah satu rukun iman. Saya tambahkan, dalam AlQur’an, Allah memberi tahu kita tentang adanya sihir.
Saya katakana pada dokter muda tersebut : “ Kalau memang anda benar, kenapa anda dan pihak kedokteran tidak bisa menyembuhkannya, malah terus diberi obat pada dia yang sudah sangat menderita karena keracunan obat, apa maksudnya “.
Muka sang dokter jadi merah padam dan malu.
Banyak saya temui orang keracunan obat begini karena dokter tidak tahu lagi apa yang diperbuat.
Kunjungan saya kesitu biasanya dihadiri oleh sejumlah tetangga si sakit.
Tiba-tiba seorang ibu minta tolong diobati penyakitnya disitu juga. Keluhannya dia sering merasa sakit diseluruh tubuhnya. Tetapi kalau dipijit dukun langganannya, dia merasa enak. Untuk itu dia sering ke dukun, tiga hari sekali, paling tidak sekali seminggu. Lebih dari itu dia sangat menderita.
Dia juga pernah diberi keris oleh dukunnya. Sebelum menerima keris, dia bersama suaminya dimandi air kembang oleh dukunnya dan dibayar cukup mahal.
Setelah menjalani terapi dengan berdo’a dan minum air yang telah saya do’akan, tiba-tiba dia melihat seorang laki-laki. Si ibu langsung berseru, “ Dia ini yang sering mendatangi saya”.
Si ibu cerita, kalau dia sendirian jaga warung, laki-laki ini datang mendekatinya. Kalau sendirian di rumah , laki-laki yang dilihatnya itu muncul tiba-tiba memeluknya dari belakang dengan birahi.
Malam-malam dia yakin suaminya yang menidurinya, tetapi begitu bangun subuh untuk mandi sebelum shalat subuh, dia tanya suaminya kenapa tidak mandi. Malah suaminya merasa heran kenapa harus mandi karena malamnya si suami tidak merasa menyentuh isterinya.. Menurut pengakuan si ibu, ini sering terjadi.
Mendengar penuturan si ibu yang blak2an ini, yang ada disitu tertawa geli.
Si ibu minta tolong pada saya untuk menghilangkan gangguan itu.
Saat itu si ibu melihat sendiri bahwa laki-laki yang sering mengerjainya itu adalah syetan peliharaannya si dukun. Entah apa yang diminta oleh si ibu dan suaminya pada dukun, si syetan minta sejumlah syarat diantaranya menyetubuhi si ibu, tetapi rupanya si ibu tidak tahu syarat yang satu ini.
Alhamdulillah, dengan pertolongan Allah Taala, saya usir syetan itu setelah pertarungan cukup seru yang disaksikan sendiri oleh si ibu.
Si ibu juga ikhlas melepas kerisnya, kemudian diberikan pada saya. Keris tersebut saya musnahkan karena disitu ada kekuatan jahat. Saya minta pada ibu agar tidak ke dukun lagi, karena bisa sangat parah akibatnya kalau dia ulangi lagi.
Setelah sekian tahun kejadian itu, saya tidak pernah mendengar keluhan si ibu.
Pengalaman saya mengobati orang, banyak sekali penderita berbagai penyakit disebabkan oleh keris, jimat, susuk, wirid , dzikir, latihan tenaga dalam dan sejenisnya, serta banyak lagi lainnya.
Insyaallah saya akan publish kasus-kasus tersebut, tidak lain maksudnya untuk berbagi agar kita bisa waspada, tidak terjerumus dalam kegelapan.

Si Kakek Mau Dijadikan Tumbal ( sangat penting diketahui sebagai bekal menghadapi ajal )

Habis shalat Taraweh di Masjid, seorang teman minta tolong pada saya untuk menengok bapak mertuanya yang sakit keras. Mertuanya memang sudah sangat tua ( kakek-kakek ) hanya berbaring di tempat tidur.

Si kakek memberi tahu saya bahwa sejak beberapa hari sebelumnya, dia melihat orang-orang dekatnya yang telah meninggal seperti bapak, ibu, isteri dan lain-lainnya melambai-lambaikan tangan kearahnya dari jauh, mengajaknya ikut mereka.

Saya tegaskan pada si kakek, jangan sampai ikut mereka. Mereka itu syetan.

Belasan menit kemudian si kakek koma/sekarat, anak-cucu mengerubunginya sambil berdo'a.
Tiba-tiba napasnya terhenti agak lama, anak-anak dan cucunya menangis, saya larang mereka menangis, saya minta mereka terus berdo'a.

Akhirnya si kakek bernapas kembali. Begitu sadar dia menoleh ke saya dan mengucapkan terimakasih pada saya. Saya heran, kenapa si kakek berterimakasih pada saya.

Si kakek bercerita, sewaktu koma, dia diajak pergi oleh mereka yang telah mengajaknya sejak beberapa hari sebelumnya, si kakek ikut karena mungkin merasa sangat dekat dengan mereka.
Setelah berjalan agak jauh, mereka sampai di suatu tempat, semacam tempat untuk upacara ritual yang sangat penting dan sakral. Segala sesuatunya sudah siap. Si kakek hanya menyaksikan.

Setelah dia tahu bahwa upacara itu untuk dirinya, untuk dijadikan tumbal, si kakek ingat apa yang saya katakan, kemudian dia lari melepaskan diri dari mereka dan kembali ke rumah.

Menurut pengakuan si kakek, dia pernah mengamalkan sejumlah mantera dalam bahasa daerahnya yang diajarkan oleh orangtuanya. Saya minta si kakek melepaskan amalan-amalan itu dan diapun melepaskannya.

Beberapa hari kemudian si kakek sembuh dan kalau tidak salah dia meninggal dua tahun kemudian.

Kalau si kakek tidak lari dan upacara tersebut berlangsugng sempurna, maka jiwanya itu akan menjadi hamba sahaya yang mengabdi pada iblis dan syetan sampai akhir zaman.

Gampang Lupa Diri dan Melanggar Karena Sembuh Dengan Sangat Mudah

Pengalaman saya menolong sejumlah orang sakit, kebanyakan diantara mereka menganggap enteng penyembuhan yang mereka jalani. Mungkin juga mereka menganggap penyakitnya enteng saja karena sembuh dengan cara yang sangat gampang, atau mungkin juga mereka anggap sebenarnya penyakitnya bisa disembuhkan sendiri tanpa pertolongan saya karena mereka disuruh berdoa sendiri dan sangat mudah. Sikap ini tercermin dari banyaknya diantara mereka yang tidak mematuhi atau menganggap sepele apa yang saya minta mereka lakukan atau larangan yang saya tentukan. Banyak sekali kasus semacam ini, dua diantaranya saya ungkapkan disini.
Seorang penderita kanker, pasien sebuah Rumah Sakit khusus kanker di Jakarta datang minta tolong pada saya, di dorong di kursi roda. Kemana-mana kalau nggak pakai kursi roda, dia digotong. Selama dua tahun lebih menderita kanker dan menjadi pasien tetap rumah sakit tadi, dia hanya bisa berbaring dan duduk bersender, tidak bisa berdiri. Dia juga telah menjalani kemo terapi berkali-kali sehingga kondisi fisiknya sangat parah.
Beberapa menit setelah menjalani terapi yang saya terapkan, tiba-tiba dia berdiri tegak sendiri tanpa dibantu dan menyatakan sakitnya hilang seketika dan pulangnyapun tidak lagi didorong pakai kursi roda, dia jalan sendiri ke mobil. Biasanya setelah terapi saya wanti-wanti ingatkan penderita ( minimal tiga kali, tetapi kebanyakan lebih ) hal-hal yang dilarang dan apa saja yang harus dia lakukan agar penyakitnya tidak kambuh lagi dan sembuh secara tuntas. Pada penderita kanker ini saya larang untuk sementara pergi ke kantornya. Kalau ada hal yang sangat mendesak dan diharuskan ke kantor minta izin dulu pada saya. Dia juga saya larang untuk berobat lagi ke dukun, tabib, kiyai dan semacamnya. Ke rumah sakit saya bolehkan asal dia mau.
Setelah terapi pertama dia sembuh sekitar satu bulan lebih, tiap pagi dia jogging, ke pasar dan kemana-mana jalan kaki atau naik ojek. Ke rumah sakit pergi sendiri naik bus kota untuk kontrol dan menurut cerita dia, dokter dan perawat yang menanganinya heran melihat perubahan yang drastis pada dirinya. Dia telah kembali melakukan aktivitas normal sebagai orang sehat, tetapi dia melanggar semua yang saya larang. Penyakitnyapun kambuh lagi, dan setelah menderita berbulan-bulan dia meninggal meskipun saya terus berupaya menolongnya.
Kasus lainnya, seorang bapak diantar isteri keduanya datang pada saya dengan keluhan sakit kepala manahun. Isterinya ini bekas pasien saya yang telah sembuh. Bapak ini kalau sakit kepalanya kambuh dia harus menenggak 12 bungkus puyer obat sakit kepala sekaligus agar sakitnya hilang. Belakangan frekwensi sakitnya makin sering dan dosis obat puyernya makin tinggi. Setelah menjalani terapi dia sembuh seketika sampai beberapa minggu kemudian dia tidak pernah sakit. Pada terapi pertama saya haruskan dia sholat dan menjadi guru ngaji lagi yang telah ditinggalkannya selama puluhan tahun dan dia menyatakan akan mematuhinya. Selama beberapa minggu sehat, dia tidak pernah sholat, diapun jatuh sakit, tetapi tidak datang ke saya. Dia ke rumah sakit dan dirawat selama delapan bulan di tiga rumah sakit yang berbeda. Selama masa perawatan itu dia seperti lumpuh total, bisanya hanya berbaring dan menurut pengakuannya mengangkat kepala tidak bisa. Setelah rumah sakit terakhir menyerah, dia dipulangkan ke rumahnya. Isteri keduanya datang lagi pada saya minta suaminya ditengok dan diobati. Sebenarnya saya keberatan menolong orang ini karena dia keras kepala, sombong, pintar sendiri, menang sendiri dan merasa benar sendiri. Saya dibujuk isterinya selama berjam-jam sampai pakai tangisan segala dengan alasan si sakit selama seharian terus menyebut nama saya dan ingin saya tengok, " mungkin dia mau meninggal ", kata isterinya.
Akhirnya saya datang juga menengoknya. Begitu ketemu saya, dia langsung bersumpah sendiri dengan sumpah yang sangat berat menurut pemahaman Islam yang isinya akan mematuhi apa yang saya suruh. Tiba-tiba dia bangun sendiri dan duduk tegak di tempat tidur membuat puluhan keluarga dan kerabatnya yang menyaksikan terheran-heran. Setelah selesai berdoa seperti yang saya minta kemudian saya suruh dia minum air yang telah saya doakan, diapun saya suruh berdiri, tetapi malah mendebat saya merasa tidak mungkin dia bisa berdiri setelah lumpuh total selama delapan bulan. Saya mengingatkan dia dengan keras agar tidak lagi membantah. Diapun berdiri tegak dan dengan jujur mengaku bahwa sifat sombongnya mulai menjalari dirinya. Kemudian saya minta dia berjalan, masih juga mau bantah, tetapi dia jalan juga dan bisa jalan mondar-mandir sambil ngoceh tentang rasa sombongnya yang mulai terbit lagi. Akhirnya saya suruh pergi sendiri ke kamar mandi tanpa bantuan untuk wudhu. Dia menawar lagi dengan menyatakan bahwa dia ingin mulai sholat pada sholat subuh besoknya. Setelah saya ingatkan sumpahnya sendiri, diapun terpaksa melakukan apa yang saya suruh dengan baik dan sholat isya dia jalani dengan tertib seperti orang sehat. Kebanyakan sanak keluarganya menangis haru menyaksikan dia sholat. Beberapa hari kemudian saya diminta lagi untuk menengoknya karena dia tidak bisa berdiri. Begitu ketemu lagi saya tidak mau banyak komentar hanya mengingatkan sumpahnya sendiri yang dilakukan sendiri dengan kesadaran sendiri tanpa saya minta. Setelah itu saya tidak pernah mendengar kabarnya lagi.
Mungkin bagi si penderita apa yang saya minta mereka lakukan atau larangan yang saya tetapkan itu sepele, tidak ada pengaruhnya pada sakitnya, padahal dalam alam jiwa sangat besar pengaruhnya.

Anak Dokter Yang Sering Pingsan

Seorang dokter spesialis mengantar puteranya pada saya. Puteranya siswa SMAN di Jakarta, sering pingsan di sekolahnya. Dia juga sudah minta tolong ke sejumlah koleganya dokter spesialis yang diperkirakan terkait dengan penyakit puteranya. Berbagai bentuk pemeriksaan dan penelitian bidang medis dan dibantu alat canggih sudah dilakukan, tidak juga ditemukan juga penyakit remaja ini.
Dokter tersebut bingung dan khawatir dengan penyakit puteranya. Setelah menjalani dua kali terapi dengan saya, remaja tersebut tidak pernah pingsan lagi.
Kasus yang sama pernah saya tangani, yang menimpa seorang gadis muda pegawai sebuah perusahaan swasta, namun prosesnya sangat lama, sekitar dua tahun lebih baru tuntas. Meskipun kasusnya sama, tetapi tingkat kerumitannya berbeda. Akar persoalan si gadis tersembunyi sangat dalam sehingga sulit untuk mendeteksinya.
Penderita yang sering pingsan tadi penyebabnya adalah kombinasi antara konflik internal dan eksternal. Setan atau jin yang ada di lingkungan mereka baik di rumah, sekolah, kantor dan sebagainya benci dan marah pada diri si penderita karena perilakunya tidak berkenan bagi mereka. Setan yang menyatu dengan diri penderita sama juga kelakuannya, sehingga setan-setan dan jin yang marah dan benci tadi menyiksa diri penderita bersama setannya karena mereka lebih kuat dan lebih berkuasa. Siksaan terhadap setan penderita diteruskan ke diri si penderita, siksaanpun jadi sangat berat sampai dia tidak tahan, pingsan.
Pengobatan medis apapun tidak bisa menyelesaikan kasus semacam ini.
Kembali pada dokter tadi, setelah terbukti puteranya sembuh, diapun mengantar puterinya yang lebih tua. Kasusnya sepele, jerawatan yang tidak bisa hilang selama enam bulan lebih meskipun telah diberi berbagai macam obat jerawat yang dia ketahui. Tiga hari setelah menjalani terapi, jerawat gadis itu hilang, beberapa hari kemudian bekas jewatnya hilang, mukanya kembali mulus.
Dari penglaman saya menolong orang sakit, kita harus waspada dan hati-hati menjalani terapi. Apabila pada pengobatan pertama kita tidak merasakan hasilnya jangan teruskan pengobatan tersebut, apapun alasannya karena bukan kesembuhan yang kita dapat, tetapi penyakit kita tambah parah karena diagnosa tidak tepat dengan sendirinya terapinyapun pasti tidak tepat. Pada pengobatan pertama kalaupun kita tidak sembuh, paling tidak kita merasakan kearah kesembuhan dengan tanda-tanda penyakit yang diderita berkurang.
Sejumlah kasus salah diagnosa dan salah terapi baik dari bidang medis maupun pengobatan alternatif yang datang terlambat pada saya, tidak bisa lagi ditolong.
Langkah pertama yang aman adalah mencari tahu apakah penyakit kita persoalan medis atau non medis. Kalau persoalan murni medis, silahkan dituntaskan dengan medis. Tetapi kalau kasusnya non medis, harus dituntaskan dengan non medis. Kalau gabungan keduanya, yang pertamakali diselesaikan adalah faktor non medisnya baru ke medis

Menapaki Jejak Allah Untuk Meraih Bukti

Bagiku hidup ini adalah pencarian yang tidak pernah berakhir. Awal masa kanak-kanakku sering bertanya tentang Allah, bicara padaNya, menanyakan bukti keberadaan dan kekuasaanNya.
Lucu juga rasanya waktu kanak-kanak bicara padaNya waktu aku tertahan hujan tidak bisa pulang habis bermain :” Ya Allah, Engkau yang menurunkan hujan. Sekarang aku mau pulang, hentikan dulu hujannya, biar aku bisa pulang “.
Anehnya, hujanpun berhenti, aku senang sekali.
Seringkali aku lakukan hal-hal seperti itu. Mungkin kalau aku cerita pada orang lain, aku dianggap sinting.
Perjalanan hidupku selama puluhan tahun dalam pencarian bukti dengan berpedoman pada Al Qur’an dan Al Hadith, secara tidak sengaja dan tidak direncanakan membawa aku ke bidang pengobatan. Aku tidak pernah belajar dan tidak bercita-cita terjun ke bidang ini. Mereka yang kuobati kebanyakan sembuh seketika. Awalnya aku mengira itu adalah mistik.
Banyak yang aku tolong dan berhasil sembuh adalah mereka yang tidak bisa disembuhkan oleh pengobatan medis, psikologi, pengobatan oreantal ( pengobatan Cina Kuno ), pengobatan alternative dan lain-lain.
Akupun jatuh bangun selama menapaki jalan ini, mengikuti jejak Allah, kadang-kadang sakit hampir mati, keluarga juga sakit.
Setelah menggeluti pengobatan ini selama puluhan tahun, Allah Taala membukakan ilmuNya, memberi pemahaman padaku tentang pengobatan ini sebagai bukti tentang kebenaran yang diajarkanNya lewat Al Qur’an dan Rasulullah SAW.
Akhirnya kupahami konsep, methode dan tekhnik pengobatan yang aku namakan Terapi Alif, bukan lagi sesuatu yang bersifat mistis, tetapi bisa dimengerti dan diterima logika sebagai ilmu pengetahuan.
Hasil pencarianku selama 50 tahun, Insyaallah aku berbagi di grup ini sebagai jurnal.
Kami harap, anda yang bergabung dalam grup ini bisa berpartipasi dalam arti tukar-menukar informasi dan ilmu pengetahuan yang bisa memperkaya khazanah pengetahuan yang telah saya peroleh. Paling tidak, siapapun yang bergabung di grup ini mendapatkan manfaatnya dari informasi dan pengetahuan yang disajikan, dalam arti bisa mengatasi sendiri persoalan-persolan kesehatan diri dan keluarga yang sederhana. Minimal bisa tahu persoalan kesehatan dan penyakit yang sesungguhnya, agar tidak dirugikan oleh pengobatan yang ada.
 
Free Blog CounterEnglish German Translation