Custom Search
Link

Tuesday, August 08, 2006

Cure Instantly

One night, a family visited me for a business matter, not for therapy, they were husband-wife and two grownup kids. The wife works for the most popular newspaper Indonesia. Her husband walks with a crock, because his right legs were in pain. Finally, beside talked about our business, he also told me about his leg. Eight month ago, after played tennis, suddenly he felt a very strong pain in his leg, so strong I even made him unconscious. The doctors said, his right leg muscle was broken, and in order to fix the problem, they need to do a surgery. He followed the doctor’s advice, but after eight month, he’s here, sits in front of me with the same condition. I convince him that the doctors had a wrong diagnostic, because if it’s true his muscle was broken, the surgery supposed to cure him.
Then I diagnosed his disease, but he doesn’t believe me. I asked him to do a therapy; he cured instantly and walks normally without a crock. And you know what? He even drove his own car when they get back home (before, he sons did!).
Hundred of people cure instantly after I told them to do some therapy, most of them think about what I did as a miracle, only a few of them understood about the diagnosis and the therapy result I told them (mostly doctors who came for a therapy, or brought their family for a therapy).

Diagnosis
In the case mention above, I successfully diagnosed the disease after revealed some important thing that I need to know about him self by asking some questions. I explained to him that his disease wasn’t cost by any broken muscle, there’s disintegration inside, and so it has made a conflict between few parts within him. The conflict has made the neuron and muscle not function normally. This disintegration happened because he joins a group of a martial exercise to increase his inhaler ability.

Therapy
The right therapy for him was to permanently dump the main cost of his disease, by the time the therapy finished, the disease off from him, cured instantly!!
Even though the therapy process only happened in few minutes, but how I pull out and dump the diseases not as simple as it was seen outside. It’s very complicate to verbally explain, even in writing, because most of the techniques done practically in others side of life which is abstract for most of human being, just as abstracts as time dimension theory by EINSTEIN for the physicians.

To make you easily understand the alif therapy, I will make a comparison with other medications that already exist.
TOP SELLING BUKU TERAPI ALIF

Cure Instantly With The Alif Therapy

There's a public opinion that non medic healing or we used to named "alternative medication" is something extra ordinary as a miracle. There's even certain healer who claims that they power of healing as a prophecy gift. They simply claims that because they used prays, meditation or any other methods that related to God. (Of course we all know that prophecy thing only given by God to the prophets)

For those who understand, this alternative medication as mention is not something extra ordinary, miracle, nor a prophecy gift, it’s something ordinary. But so far, since there's no knowledge or science studied about it, for most people it can't be described or even worse, it can't be fully understand in the right way. Most of the healer doesn’t understand precisely how the healing process works is. Most of them could only diagnose the patient by predicted or guessing, and this could make them miss-diagnosed few cases sometimes. That’s why the healing process looks like coincidence and mostly it doesn't even works.

TOP SELLING BUKU TERAPI ALIF

Palming Allah’s Track to Gain Evidences

For me, life is a never ending search. In my early childhood years I often asked about Allah, talk to Him, and asked for evidences in His existence and His jurisdiction. It’s still funny to remember how I was asking Him like this, when it was raining heavily and I can’t go home, “Allah, it is You who pour the rain. Please stop the rain so I can go home”. Strangely the rain stopped, and I was so happy because of it. Later on I did it more often, but I didn’t brave enough to tell it to anyone, afraid that they might think of me as someone going crazy.

It’s been decades of my life journey in searching for evidences with Al-Qur’an and Al-Hadist as my perceptions, and it brings me to this therapy without even arranged or wittingly. I never learn or aspired to do something in this field. Most of them who had my therapy were cure instantly, and I even thought about it as a mystical power in the very beginning.

Most of the people I helped were those who cannot be cured by medical treatment, physiological, oriental medication (ancient Chinese), other alternative medications, and etc. I has my rise and my fall when I’m palming this road to follow Allah tracks, sometimes I got ill and nearly get killed, and so was my family.

After intensively in this treatment for decades, Allah open His knowledge, He gave me comprehension that this treatment as the evidences about the truth that He thought us by Al-Qur’an and His prophet Muhammad, SAW. Finally, I understand the concepts, the methods, and the techniques of the treatment that I called The Alif Therapy. It’s no longer something mystic for me, but it’s understandable and acceptable with logical thinking as a new science. This article titled “Cure Instantly with the Alif Therapy” is the first part of my searching for the last 50 years until now.

TOP SELLING BUKU TERAPI ALIF

Sunday, August 06, 2006

Menjelajah Alam Jin Dan Syetan ( bagian 6 )

Setelah selesai mengobati si gadis, saya tidak lagi berurusan dengan pengobatan sampai beberapa bulan setelah itu karena saya banyak kesibukan. Tetapi keberhasilan mengobati si gadis tersebar dari mulut ke mulut, orang-orangpun mulai berdatangan setelah waktu saya agak longgar minta tolong diobati penyakitnya, malah ada yang dari jauh-jauh. Pernah juga waktu itu ada yang ngantri sampai pagi.
Menjelajah alam jin dan syetan awalnya tidak sengaja seperti pernah saya tulis, saya sendiri tidak paham kenapa si sakit bisa melihat alam itu dan menjelajahnya dengan kawalan saya. Belakangan baru saya tahu bahwa hal itu berkaitan sangat erat dengan pengobatan yang bersangkutan.

Syetan-syetan yang mengganggu harus ditundukkan dengan cara apapun agar tidak bisa mengganggu lagi.
Lewat penglihatan si sakit, Allah Taala mengajarkan saya banyak hal tentang alam jin dan syetan, terutama yang berkaitan langsung dengan pengobatan. Lewat media ini saya juga jadi tahu cara kerja sihir dan santet sebenarnya. Tipuan-tipuan dan trik-trik yang hebat di alam itupun saya jadi tahu lika-likunya.

Tipuan-tipuan yang telah banyak menjerumuskan orang-orang shaleh sejak jaman dulu sebelum Rasulullah diutus sampai sesudahnya, juga saya tahu dan paham cara jin dan syetan melakukannya.

Kadang-kadang orang sakit yang mau sembuh yang bisa melihat alam jin dan syetan, mereka minta piknik menjelajah alam itu yang penuh pesona dengan daya pukau yang sangat kuat tapi kaya tipu muslihat. Saya bolehkan dan selalu dalam pengawasan saya, asal jangan sampai ngeluyur sesuka sendiri dan memberitahu hendak kemana dan mau melihat apa. Apakah kerajaan yang ada di langit, di gunung, di laut, dasar laut atau dibawah permukaan bumi. Apa yang dia lihat, yang dia rasakan dan dia lakukan harus beri tahu saya semuanya secara detail. Kalau tidak, dia bisa masuk perangkap tipuan ataupun diculik walaupun akhirnya bisa diatasi akan tetapi butuh waktu dan tenaga.
Kebanyakan mereka yang sudah sembuh total tidak bisa melihat lagi alam itu.

Tidak sengaja bertandang ke istana Nyi Roro Kidul Di Dasar Laut.
Seorang teman datang minta tolong pada saya untuk mengobati penyakitnya. Keluhannya macam-macam dainataranya sakit pinggang yang sudah bertahun-tahun.
Setelah diterapi, dia bisa lihat alam jin dan syetan, dia lihat sendiri apa penyebab penyakitnya. Rupanya dia disantet oleh bekas isteri yang telah diceraikannya dengan bantuan sejumlah dukun.

Di alam itu dia melihat saya bertarung menyelesaikan satu-satu dukun yang terlibat dalam urusannya, sampai terakhir bertarung di gua pinggir pantai, bawahnya air laut, di langit-langitnya batu cadas. Disitu pelarian terakhir syetan yang berwujud kalong setelah kejar-kejaran dimana-mana. Satu pemimpinnya diantara begitu banyak kalong. Setelah pemimpinnya dihajar habis, yang lainpun hancur dan hilang.

Setelah kalong ini diselesaikan teman yang sakit ini melihat dirinya dan saya berada di suatu pantai berpasir. Disitu ada rumah dari papan. Saya ajak dia memeriksa rumah itu dan masuk, pasti ada kaitannya dengan penyakit dia.

Di tengah rumah itu ada tangga ke bawah. Tiba-tiba disitu ada tiga wanita cantik, satu pakai semacam mahkota, dua lainnya tidak. Begitu ditanya siapa mereka, yang bermahkota hanya menunjuk suatu arah, kemudian kelihatan oleh teman saya ini ombak laut yang tinggi bergulung-gulung. Belakangan baru saya tahu bahwa itu lambang bagi Nyi Roro Kidul dan kerajaannya, siapapun yang melihat lambang itu baik di dalam mimpi, waktu sadar atau terbayang dibenaknya, itu menunjukkan yang bersangkutan ada urusan dengan Nyi Roro Kidul.

Waktu itu saya bingung, tanya-jawab dengan mereka membuat saya tambah bingung. Kata si teman ini yang bermahkota itu memberi tahu namanya ( lupa saya karena sudah lama ), tetapi tidak memberi tahu apa maksud kemunculan mereka, apa arti laut yang bergelombang tadi, tidak juga diberitahu.

Akhirnya dia mengajak kami turun tangga cukup lama, beberapa putaran kebawah. Di ujung tangga paling bawah adalah dasar laut. Kami diajak berjalan melewati semacam terowongan dari kaca yang memanjang diatas dasar laut.

Saya tidak tahu karena tidak bisa melihat, rupanya tiga wanita tadi menunggu kami yang berlambat-lambat. Teman saya yang bisa lihat ini sebentar-sebentar berhenti untuk memandang penuh kekaguman pada berbagai macam mahluk yang hidup di dasar laut.

Terowongan itu cukup panjang, agak lama kami menempuhnya. Dari terowongan itu teman saya melihat istana yang sangat megah dengan atap berbentuk kubah.

Sampai di ujung terowongan, petugas membukakan pintu buat kami. Setelah melewati beberapa pintu yang semuanya di jaga, semua wanita penjaganya, kami sampai di ruang aula yang luas. Disitu sudah menunggu seorang wanita cantik, anggun, menawan dan berwibawa. Tiga wanita yang mengantar kami sujud memberi hormat pada wanita tadi, kami disambut oleh dia.

Dari gambaran yang diceritakan teman saya yang melihat, saya menduga-duga, siapa wanita ini.

Saya tanya siapa dia, namanya disebut, saya tidak ingat lagi, yang saya ingat nama panggilan yang sangat terkenal itu, Nyi Roro Kidul. Saya kaget dan penasaran, tidak disangka dan tidak direncanakan kami sampai di tempat yang begitu terkenal di kalangan masyarakat Indonesia, terutama yang mendiami pulau Jawa.

Saya ditawarkan mau langsung ke singgasana atau mau lihat-lihat istana dulu. Saya bilang lihat-lihat dulu.

Keluar dari ruang aula itu kami diajak ke suatu taman yang isinya tumbuhan laut yang indah-indah terkumpul semua disitu. Tidak habis-habisnya teman saya mengungkapkan kekagumannya.

Habis dari situ kami diajak ke taman yang isinya binatang laut yang indah dan menarik, semua dihimpun disitu. Saya sudah tidak ingat lagi apa komentar teman saya waktu itu.

Setelah itu kami diajak ke taman yang isinya mutiara semuanya. Segala bentuk, ukuran dan warna semua ada disitu dan banyak sekali, masih dalam cangkangnya ( kulitnya ). Teman saya sangat takjub dan ngiler melihat harta kekayaan yang melimpah itu, kemudian bilang pada saya setengah berbisik : “: Boleh nggak minta satu biji saja”. Saya langsung jawab dengan tegas : “ Jangan macam-macam “. Diapun tidak berani lagi minta macam-macam.

Dari situ kami dibawa ke ruang penjara dan ruang penyiksaan. Teman saya melihat banyak sekali orang yang dipenjara dan disiksa disitu laki-laki dan perempuan. Saya tidak mau banyak tanya, takut salah dan menimbulkan persoalan karena saya belum begitu mengerti seluk-beluk alam jinh dan syetan. Lama setelah itu baru saya tahu, siapa-siapa yang disiksa dan dipenjara disitu.

Kemudian kami diajak ke ruangan yang isinya permata-permata berupa mata manusia, banyak sekali. Setelah itu pindah lagi ke ruangan lain juga berisi permata dari batu-batu yang indah-indah dan mahal dengan macam bentuk dan warna. Teman saya eterus saja takjub dan ngiler, tetapi tidak berani lagi minta.

Selanjutnya kami diajak ke kamar tidur pribadi si Nyai yang sangat indah. Ruang riasnyapun di tunjukkan.

Terakhir kami diajak ke ruang semedi tempat dia bersemedi. Di ruang itu ada semacam kaca cermin, dari situ kita bisa lihat keadaan di segala penjuru, dimanapun tempat itu. Teman saya sempat mencobanya.

Setelah itu kami diaajak ke ruang tempat singgasananya dia. Nyi Roro Kidul mempersilahkan kami duduk di kursi semacam singgasana juga disamping singgasana dia. Letak singgasana itu agak tinggi, tampaknya semua penghuni istana, perempuan semuanya kumpul disitu duduk bersimpuh dihadapan kami.

Diatas meja di depan kami sudah tersedia buah-buahan seperti apel dan anggur, disamping minuman di gelas.
Teman saya tiba-tiba saja mau minum air diatas meja itu karena dia merasa haus luar biasa. Kalau tidak diizinkan rasanya dia akan mati kehausan. Mulanya saya takut juga, takut terjadi apa-apa dengan dia karena saya buta sama sekali tentang tempat itu. Saya kasihan, saya izinkan. Diapun merasa terobati hausnya, kemudian minta makan buah yang diatas meja. Saya bilang padanya, makan saja apel, satu biji saja.
Dia menikmati apel itu, menurut pengakuannya waktu itu lebih enak dari apel biasa yang kita makan.
Saya segan tanya-tanya kenapa kami sampai kesitu, apa artinya semua itu. Belakangan baru saya paham, sakitnya teman saya ada andil yang sangat dominan dari Nyi Roro Kidul yang mendukung dukun-dukun yang saya hajar sebelumnya. Rupanya kunjungan kami kesitu, tanpa kami ketahui sebenarnya untuk melepas penyakit teman saya itu.

Teman itu bisik-bisik pada saya, dia lihat Nyi Roro Kidul seperti jatuh cinta pada saya.

Saya langsung tegaskan pada dia, jangan macam-macam dan jangan bikin persoalan, sangat berbahaya akibatnya.

Saya pamit, kemudian diantar oleh Nyi Roro Kidul ke pintu keluar istana, tetapi bukan pintu tempat kami masuk. Pintu keluar itu langsung menuju permukaan laut dekat pantai. Kamipun pulang, teman saya sembuh sejak saat itu.

Pada kesempatan lain dengan pelihat lainnya, saya sempat diajak di istana dia yang lain, jauh dari situ tersembunyi jauh di dasar samudera yang dalam. Menurut pengakuan Nyi Roro Kidul, istana itu berada di samudera Pasifik.

Istananya tidak besar, tetapi sangat indah. Yang menonjol disitu kamar tidur yang indah dan kolam tempat mandi di tengah taman yang indah. Di kolam ada air mancurnya.

Menurut pengakuan Nyi Roro Kidul waktu itu, dia selalu sendiri datang kesitu kalau ingin menyendiri, tidak ada yang tahu tempat itu dan tidak pernah mengajak siapapun. Hanya kami yang diajak kesitu.

Awalnya tidak pertengkaran antara saya dengan Nyi Roro Kidul hubungan dengan saya baik-baik saja dalam arti tidak ada permusuhan dan ketegangan diantara kami. Rupanya urusan santet-santet menyantet, jimat, susuk dan semacamnya hampir selalu melibatkan dia. Setiap saya mengobati orang sakit, seringkali akhirnya berhadapan dengan dia karena dia kuncinya. Saya minta baik-baik pada dia agar menyingkir dari kasus yang tengah saya tangani, dia mengiyakan dan mau mengalah. Tetapi rupanya dia sering menipu saya, menusuk dari belakang. Katanya sudah melepaskan penyakit yang diderita oleh orang yang saya tolong, tetapi di kesempatan lain dibelakang saya, dia masukkan lagi penyakit itu. Saya marah dibohongi seperti itu, dia juga tidak mau kalah membela kepentingannya sendiri. Akhirnya saya sering bertarung dengan dia, menghajar dia habis-habisan. Kadang-kadang dia menangis minta maaf atau bersujud tetapi lain kali diulangi lagi menusuk dari belakang. Meskipun dia tahu bahwa dia pasti kalah melawan saya, tetapi tetap saja tidak pernah kapok, sama seperti syetan lainnya. Begitulah mereka, jangan gampang percaya

CATATAN :
Saya telah membahas secara mendalam dan detail tentang syetan, jin dan Iblis, seperti apa mereka, bagaimana kehidupan mereka dan dimana mereka hidup, bagaimana interaksinya dengan setiap diri anak manusia yang mengakibatkan berbagai masalah bagi setiap anak manusia.
Saya juga membahas secara mendalam dan detail tentang jiwa setiap anak manusia, apa yang dimaksudkan dengan jiwa manusia, dimana keberadaan mereka, perannya yang sentral bagi setiap diri anak manusia, persoalan yang dialami oleh anak manusia ketika jiwanya error terutama kaitannya dengan penyakit nonmedis atau medis, apa yang membuatnya error dan bagaimana cara atau upaya memperbaikinya dalam arti penyembuhannya.
Semuanya saya bahas menggunakan fakta empiris yang saya peroleh selama menggeluti penyakit nonmedis 30 tahun lebih.
Untuk informasi tentang kedua buku tersebut silahkan klik ini
BUKU TERAPI ALIF

TOP SELLING BUKU TERAPI ALIF

Menjelajah Alam Jin Dan Syetan ( bagian 5 )

Saya harus kembali mengobati si gadis, keadaannya kalau kena serangan makin parah sering pingsan, kadang nafasnya tersendat sekarat. Syetan yang menyerangnya makin banyak. Muncul syetan-syetan dari dukun-dukun lain selain si Abah A dan konconya.
Saya harus menghadapi dengan sabar dan tabah tanpa sempat istirahat lagi.

Isteri pejabat tinggi kesambet
Suatu siang Omnya si gadis yang pejabat tinggi datang bersama isterinya menengok si gadis yang sakit. Menurut cerita keluarga si gadis, isteri Om nya ini merupakan kerabat dekat tokoh sufi terkenal di Jawa Barat, sehingga pagar yang dibekali oleh sufi itu untuk menjaga diri si ibu ini sangat kuat. Pagar itu untuk melindungi diri dari gangguan syetan dan jin.

Begitu sampai di rumah itu, isteri pejabat ini kentara sekali sinis pada saya yang menunggui si gadis agar tidak diserang. Hanya sebentar mereka disitu.

Isteri pejabat itu terus menasehati si gadis dengan kata-kata seperti ini : “ Ingat yang satu itu saja, jangan percaya yang lain, tidak ada yang bisa ganggu “.
Kata-kata itu diucapkan sambil melirik sinis pada saya. Sebenarnya hati saya tidak enak waktu itu, sudah menolong orang mati-matian tanpa imbalan apapun, malah dihina seperti itu. Ingin saya terbang meninggalkan tempat itu.
Saya mohon pada Allah agar diri saya diberi kesabaran dan ketabahan menghadapi cobaan itu.

Saya hanya diam saja dan menunduk waktu itu, terserah Allah.
Begitu pamit, diulangi lagi kata-kata tadi, lebih tegas lagi dengan sikap seperti menghina saya.

Begitu dia bersama suaminya keluar rumah mau pulang, baru sampai di pintu pagar, tiba-tiba isteri pejabat itu kesurupan. Dia menangis atau tertawa, tidak jelas. Kata orang dia kesambet.

Si gadis juga teriak-teriak kesakitan karena serangan mendadak. Pejabat menggotong isterinya dibantu kakaknya ( bapaknya si gadis ) ke teras rumah, sementara ibunya si gadis mengambil tikar, digelar di teras, kemudian isteri pejabat dibaringkan disitu.

Saya tetap sibuk menolong si gadis, sementara bapak si gadis dengan panik langsung pergi mencari paranormal yang pernah mengobati si gadis.

Isteri pejabat itu masih terlentang di teras sambil menangis dan tertawa yang bercampur aduk. Suaminya membisik-bisikkan sesuatu di telinganya, tidak juga membuatnya sadar.

Ibunya si gadis minta tolong saya agar isterinya pejabat itu yang ditolong dulu. Awalnya saya tidak hiraukan karena mengkhawatirkan keadaan si gadis kalau ditinggal. Saya juga tidak mau menolongnya karena dia telah merendahkan saya sebelumnya. Si gadis juga terus teriak kesakitan karena kena hajar.

Setelah kejadian itu berlangsung sekitar sepuluh menit, ibunya si gadis sambil menangis minta saya berulangkali untuk menolong isteri pejabat itu, terpaksa saya tolong juga akhirnya.

Beberapa menit kemudian setelah saya obati, si ibu itu sadar, kemudian saya minta mereka langsung pulang, jangan masuk lagi ke rumah, mereka mematuhi.

Rumah ustadzah jadi sangat menyeramkan
Setelah kejadian itu, tetangga yang biasanya ramai datang mendengarkan laporan pandangan mata jiwa si gadis tidak berani lagi datang, mungkin takut kesambet seperti isteri pejabat tadi.

Besoknya pejabat dan isterinya langsung pergi ke tokoh sufi di Jawa Barat yang cukup jauh jaraknya dari Jakarta. Mereka merasa heran, mengapa isteri pejabat itu yang punya pagar diri sangat kuat itu bisa diganggu jin dan syetan. Mereka yakin, syetan dan jin yang mengganggu si gadis sangat kuat, kalau tidak, kenapa bisa menembus pagar yang sangat kuat, begitu jalan pikiran mereka.

Saya sendiri bingung karena tidak tahu menahu urusan pagar begitu. Rumah si gadis terasa menyeramkan, kedengaran suara macam-macam terus menerus yang tidak jelas sumbernya. Rasanya juga sudah lain bila berada disitu.

Si gadis dibawa mengungsi ke rumah saya, tetapi seluruh anggota keluarga ikut ngungsi juga ke rumah saya. Tidak ada yang berani tidur di rumah mereka, termasuk bapak dan saudara laki-laki si gadis yang sudah dewasa.
Kalau ada keperluan untuk mengambil pakaian ganti misalnya, mereka masuk ke rumah siang hari, tidak berani sendirian, harus ditemani. Sebulan mereka mengungsi di rumah saya.

Saya mulai memikirkan strategi untuk menyelesaikan persoalan ini. Yang dihadapi makin banyak dan kuat-kuat.
Akhirnya saya putuskan, mendatangi mereka satu-satu di sarangnya masing-masing, tidak menunggu mereka datang menyerang.

Awalnya saya ajak si gadis mendatangi tokoh yang di gunung Semeru. Di alam itu si gadis melihat dirinya dan saya terbang kearah puncak gunung. Disitu ada semacam pondok pertapaan, didalamnya tokoh yang sadis dan menyeramkan ini sedang bersemedi. Dia kaget melihat kehadiran kami. Saya juga tidak mau basa-basi dan panjang lebar, langsung menghajarnya sampai tidak bangun-bangun dan hancur, termasuk pondoknya dimusnahkan.
Dia muncul lagi berulangkali, saya tidak beri ampun terus menghajarnya, sampai yang tersisa asapnya yang naik keatas.

Begitu juga dengan konco Abah A lainnya, saya datangi satu-satu di sarang mereka masing-masing bersama si gadis. Saya hajar seperti yang saya lakukan pada tokoh di gunung Semeru tadi.

Giliran berikutnya Abah A. Menurut si gadis, Abah A ini dukun, pernah datang ke rumah mereka sebagai peminta-peminta. Mereka sempat beri makan dan uang karena kasihan melihat kakek-kakek serenta itu mengitari komplek untuk minta-minta. Sorot mata si kakek ini sangat tajam dan menakutkan, begitu penuturan mereka yang melihatnya termasuk si gadis. Abah A yang dilihat si gadis di alam jin dan syetan adalah kakek tadi.

Tempat abah ini banyak, ada di pondok di daerah persawahan, kebun dan rumah juga ada di beberapa tempat, di gua juga ada. Saya tidak peduli, saya datangi semuanya menghancurkannya dengan tempat-tempatnya sekalian.

Setelah dihajar dengan cara seperti itu, kekuatan syetan si Abah A cs tidak begitu kuat lagi, serangannya pada si gadis tidak begitu terasa lagi.

Sementara pejabat dan isterinya sudah kembali dari tokoh sufi, lewat saudaranya mengirim air do’a di botol yang katanya langsugng dari tokoh sufi itu. Si gadis minum air itu, diusapkan juga di kepala dan dahinya.
Mulanya cukup manjur, syetan yang mengganggu si gadis teriak kepanasan kalau kena air itu. Tetapi lama-lama tidak mempan lagi.

Beberapa hari kemudian tokoh sufi itu mengirim orang untuk mengeluarkan barang sihir yang ada di rumah si gadis. Menurut orang yang melihatnya, caranya pakai bakar kemenyan segala dan didapat lagi bungkusan kain putih yang berisi silet, paku, jarum dan lain-lain, begitu cerita yang menyaksikannya. Keluarga si gadis dimintai uang cukup banyak untuk beli kambing jantan yang besar sebagai kurban.

Setelah itu keadaan si gadis tidak berubah, pekerjaan saya jadi lebih berat dengan munculnya syetan dukun dari Jakarta, Sumatera dan Bogor dengan cara dan gaya masing-masing. Mereka ini sangat sulit dikalahkan.

Saya terus berdo’a dan minta petunjuk. Kalau sudah terdesak, mereka berlindung pada syetan berupa sesuatu terbungkus kain putih, ada kepala dan matanya. Syetan ini yang menjadi tameng mereka dan syetan ini tidak mempan dihajar. Saya merasa lelah jadinya.
Lebih dari seminggu begitu terus. Saya terus berdo’a mohon petunjuk pada Allah.

Suatu sore menjelang magrib, ketika saya duduk di kamar kerja sambil berdo’a, dalam keadaan setengah tidur, sesuatu yang putih tiba-tiba menghajar saya. Tidak sakit tapi sangat mengagetkan.

Saya terus berpikir, apa sebenarnya yang menghajar saya, kemudian saya kaitkan dengan syetan putih yang dilihat si gadis.

Seharian saya berpikir, akhirnya saya seperti dapat ilham dan petunjuk bahwa yang putih itu sebenarnya jimat milik bapaknya si gadis.
Memang benar, setelah jimat itu dikembalikan kepada paranormal yang meminjamkannya, termasuk yang dipegang si gadis, ibunya dan saudaranya dikembalikan semua, tidak muncul lagi syetan putih tempat syetan dukun tadi berlindung. Syetan-syetan dari dukun yang tampak terus saya hajar tanpa ampun.

Kemudian saya berpikir lagi, kalau barang-barang semacam itu jadi penghalang, berarti benda-benda pusaka yang ada di rumah si gadis harus disingkirkan juga karena mungkin menjadi salah satu penghalang. Sayapun minta benda-benda pusaka itu disingkirkan dari rumah, mereka pindahkan ke rumah saudara mereka.

Memang benar ada pengaruhnya, syetan-syetan itu dengan gampang kena hajar.

Syetan-syetan dukun lain tidak begitu berarti lagi, tinggal syetan pasangan suami-isteri si nenek dan si kakek tokoh ilmu hitam dari Bogor. Melawan mereka berdua cukup lama. Tempatnya pindah dimana-mana, banyak sekali. Wujudnya juga berubah-ubah berupa binatang antara lain kelelawar dan burung gagak.

Burung gagak diatap rumah saya.
Saat seru-serunya pertarungan melawan dukun daerah Bogor ini, tetangga sebelah rumah yang keluar rumah sebelum subuh, melihat seekor burung gagak bertengger diatas atap rumah saya. Sampai siang burung itu masih bertengger disitu.
Burung gagak tersebut mungkin terbang kesitu tengah malam, dan sangat mengherankan burung gagak bisa terbang malam-malam, padahal dia bukan jenis burung malam.

Menurut kepercayaan banyak orang, apabila di atap rumah yang ada orang sakit kena sihir atau santet dihinggapi burung gagak, disitu ada kematian, kalau bukan si sakit yang mati, yang mengobatinya yang mati.

Saya tidak hiraukan burung gagak itu, tidak saya usir. Saya tidak ingin menghubung-hubungkan kepercayaan orang-orang seperti tadi, saya takut pada Allah, saya pasrah padaNya. Mau sakit, mau mati, itu hak Dia membuat saya sakit atau mati, itu saja yang saya pegang. Saya juga takut musyrik kalau saya percaya tahyul tadi. Alhamdulilah tidak terjadi apa-apa dengan si gadis dan saya sekeluarga.

Setelah selesai si kakek dan si nenek yang di Bogor ini, muncul yang paling akhir, syetan yang terus menawan di gadis, tidak mau dilepasnya sama sekali. Dilawan juga tidak mempan.

Ketika saya tanya si gadis siapa dia, rupanya itu syetan ustadz dari Bogor, guru mereka sekeluarga yang mengajarkan dzikir dan wirid.

Menurut penuturan ibunya si gadis yang ustadzah, suatu waktu si ustadz datang ke rumah mereka minta uang. Ketika ibunya si gadis mengatakan tidak punya uang, ustadz itu langsung membantahnya bahwa di lemari mereka di kamar ada uang tujuh ratus lima puluh ribu rupiah. Ibunya si gadis terperangah, kok tahu ada uang di lemari jumlah memang sebanyak itu, terpaksa uang itu dikasih ke ustadz.

Saya terus berpikir mencari cara untuk menuntaskan persoalan si gadis. Berhari-hari syetannya si ustadz ini tidak tersentuh sedikitpun oleh serangan yang saya lakukan, sementara si gadis tidak dilepaskan sekejappun. Saya berdo’a dan minta petunjuk pada Allah. Waktu itu saya berpikir, kemungkinannya syetan itu tidak bisa kena serangan karena selalu bersama si gadis. Saya kemukakan pada si gadis hal ini.

Begitu dicoba, si gadis harus melepaskan diri dari syetan si ustadz di alam itu , tetapi sangat sulit. Tetapi begitu saya suruh dia berdo’a sesuai saya tunjukkan, diapun lepas, syetan itu saya hajar tanpa ampun. Sayapun menggempur dan mengejarnya sampai ke sarang-sarangnya yang bertebaran di berbagai tempat. Sarang-sarangnya juga dihancurkan sama sekali. Setelah itu si gadis aman, sembuh total, pengobatan yang melelahkan itu selesai.;
Seri berikutnya ( bagian 6 ), TIDAK SENGAJA BERTANDANG KE ISTANA NYI RORO KIDUL DI DASAR LAUT.

CATATAN :
Saya telah membahas secara mendalam dan detail tentang syetan, jin dan Iblis, seperti apa mereka, bagaimana kehidupan mereka dan dimana mereka hidup, bagaimana interaksinya dengan setiap diri anak manusia yang mengakibatkan berbagai masalah bagi setiap anak manusia.
Saya juga membahas secara mendalam dan detail tentang jiwa setiap anak manusia, apa yang dimaksudkan dengan jiwa manusia, dimana keberadaan mereka, perannya yang sentral bagi setiap diri anak manusia, persoalan yang dialami oleh anak manusia ketika jiwanya error terutama kaitannya dengan penyakit nonmedis atau medis, apa yang membuatnya error dan bagaimana cara atau upaya memperbaikinya dalam arti penyembuhannya.
Semuanya saya bahas menggunakan fakta empiris yang saya peroleh selama menggeluti penyakit nonmedis 30 tahun lebih.
Untuk informasi tentang kedua buku tersebut silahkan klik ini
BUKU TERAPI ALIF

TOP SELLING BUKU TERAPI ALIF

Menjelajah Alam Jin Dan Syetan ( bagian 4 )

Badan saya terasa sakit setelah mengobati si gadis selama seminggu. Saya tidak sempat berpikir mendalam dan merenung karena tidak ada kesempatan.
Saat saya shalat, makan dan di kamar mandi tidak bisa lama-lama karena seringkali saat seperti itu si gadis dihajar syetan si Abah A dan teman-temannya sampai pingsan dan sekarat, hampir-hampir napasnya berhenti. Saya khawatir kalau terlambat sedikit si gadis tidak tertolong. Saya tidak tega melihatnya.

Bapaknya beberapa kali menangis melihat penderitaan putrinya, padahal sejak remaja sampai setua itu tidak pernah menangis meskipun pada saat orangtuanya meninggal.

Praktis selama seminggu boleh dikatakan saya tidak tidur, hanya pulas beberapa menit di kursi kemudian terbangun lagi. Hal yang terus membingungkan saya, kok mereka tidak mati atau lemah padahal menurut penglihatan si gadis, mereka dihajar sampai hancur berantakan. Mereka terus muncul setiap saat dengan kondisi dan kekuatan utuh menyakiti si gadis.

Waktu itu saya berpikir, apa mungkin bisa mengalahkan mereka secara tuntas dalam arti si gadis sembuh total.
Biasanya begitu mereka kalah atau kabur setelah bertarung dengan saya, si gadis tidak merasakan sakit sedikitpun, keadaannya biasa saja seperti orang sehat.

Ancaman yang mengguncang hati dan perasaan.
Saya ingat waktu itu pukul 20.00 setelah seminggu saya obati si gadis. Si Abah A bersama teman-temannya marah besar pada saya yang selalu menghalangi hajat mereka untuk membunuh si gadis. Saat itu si gadis baru saja sekarat karena digorok lehernya dengan golok oleh syetan si Abah A. Saya datang tepat pada waktunya untuk menolong si gadis sehingga si Abah A gagal malaksanakan hajat jahatnya.

Si gadis sadar setelah ditolong, melihat ke si Abah A dan ketiga tamannya yang masih ada dihadapannya. “ Abah mau bicara Om “, begitu kata si gadis pada saya. Kemudian dia lanjutkan :” Om disuruh pilih, mau bicara langsung atau lewat perantaraan saya “.

Setelah Tanya-jawab lewat perantaraan si gadis, baru saya paham maksudnya, kalau bicara langsung, syetan si Abah A masuk ke diri si gadis dan bicara langsung dengan saya. Kalau lewat perantaraan si gadis, si Abah A bicara pada si gadis kemudian si gadis menyampaikan pada saya apa yang dikatakan si Abah A.

Kemudian saya sepakat dengan syetannya si Abah A, bicara langsung dengan syarat tidak boleh main curang dalam arti dia tidak menghajar si gadis saat dia ada dalam dirinya.

Si Abah A bicara pada saya seperti seorang kakek yang sangat bijaksana dan sangat sabar kepada seseorang yang tingkatnya jauh dibawah dia, menganggap saya seperti anak kecil sehingga saya dipanggil Ujang.

Pertama kali dia memperkenalkan diri sebagai tokoh tua yang baik dan penuh pengertian, tetapi dia menyatakan tidak mampu menahan ketiga temannya yang ganas. Saya hanya ingat salah satu diantara teman yang diperkenalkan itu, tokoh dari puncak Gunung Semeru yang sangat haus darah, minumnya darah manusia, makanannya organ tubuh manusia dan saat itu sedang kelaparan.

Kata si Abah A, teman-temannya sudah tidak sabar untuk menghabisi saya, tetapi ditahan oleh dia, mau dirundingkan dulu dengan saya.

Si Abah A berkata pada saya : “ Ujang masih muda, punya kedudukan bagus di kantor, isteri sangat cantik dan muda, anak-anaknya pintar-pintar dan manis-manis masih kecil. Kalau Ujang mati, siapa yang urus mereka, siapa yang kasih makan mereka. Ujang nggak kasihan sama mereka. Sebaiknya Ujang jangan ikut campur lagi dalam urusan Abah ini “.

Semua yang ada di rumah dan ikut mendengarkan jadi diam, seperti bergidik ngeri dan seram, menatap saya dengan perasaan khawatir. Untung isteri dan anak saya tidak ada disitu.

Saya masih diam, belum menjawab. Hati dan perasaan saya terguncang hebat, karena apa yang dikatakan si Abah A kena benar pada diri saya. Kalau saya mati, tidak mungkin orang yang saya tolong mati-matian dengan taruhan nyawa ini bisa dan mau mengurus dan menghidupi anak-isteri saya.

Waktu itu isteri saya belum punya penghasilan apa-apa, karena dia hanya ibu rumahtangga dan kebutuhan keluarga hanya mengandalkan penghasilan saya.
Buat saya, itu benar-benar sulit, kalaupun mati artinya mati konyol.

Si Abah A mendesak : “ Bagaimana Jang “.

Orang-orang yang ada disitu memandang saya dengan tatapan tidak tega dan penuh khawatir. Apalagi keluarga si gadis merasa tidak enak waktu itu. Saya masih diam mempertimbangkan. Terbayang wajah isteri dan anak-anak yang sangat saya sayangi dan manjakan. Hati saya tergetar, betapa berat pilihan ini, betapa berat cobaan ini. Dibenak saya menggaung pertanyaan, “ akankah isteri dan anak-anak saya menyesali saya sepanjang hayat mereka kalau saya mati konyol karena menolong orang lain, sementara mereka jadi korban “.

Si Abah A terus mendesak : “ Bagaimana Jang, mundur apa terus.”

Tiba-tiba seperti ilham yang menyadarkan saya bahwa kehidupan ini pemberian Allah dan pengobatan yang tengah saya lakukan ini adalah ketetapan Allah, tanpa saya minta tanpa saya cita-citakan sebelumnya. Saya harus kembalikan semuanya pada Dia, terserah apa ketetapannya kali ini.

Akhirnya saya jawab dengan tegas : “ Saya tawakkal pada Allah, saya terus, apapun yang terjadi “.

Si Abah berkata dengan sabar dan bijaksana : “ Begini Jang. Abah kasih waktu untuk berpikir, jangan buru-buru. Jam dua nanti Abah datang lagi bersama teman-teman.”

Si Abah A keluar dari si gadis, bersamaan dengan itu si gadis sadar, sehat walafiat, tidak ada keluhan apapun. Si gadis cerita, memang ketiga teman si Abah A itu seram dan sadis serta sangat menakutkan.

Si Abah A keluar dari si gadis jam sembilan kurang. Menunggu jam dua dini hari waktu sangat menyiksa bagi saya. Rumah itu terasa seperti tempat yang sangat menyeramkan dan mengerikan. Siapapun yang ada disitu tidak ada yang mengeluarkan suara keras masing-masing larut dalam suasana ketakutan yang mendalam.
Menatap wajah mereka satu-satu membuat saya makin tidak enak, wajah-wajah yang penuh ketakutan dan ngeri, terutama keluarga si gadis. Ada juga yang sampai meneteskan air mata.

Mereka tidak ada yang berani bicara dan menegur saya yang tengah larut dalam suasana hati pasrah dan bicara pada Allah. Saya telah memilih garis nasib saya sendiri dari sekian pilihan yang dibentangkan oleh Allah dihadapanku. Saya yakinkan diri saya, pilihan saya tadi karena Allah, pasti Dia menolong saya seperti yang telah dilakukanNya sejak saya kecil.

Sekitar sejam kemudian, muncul seorang ibu tetangga jauh ustadzah, tetapi sering mengikuti pengajiannya. Ibu itu mengajak serta seorang pemuda lajang, usianya dibawah saya. Rupanya pemuda itu anak pesantren, paham dan bisa mengusir syetan.

Kami berdua berunding bagaimana menghadapi si Abah dan ketiga temannya. Walaupun pemuda itu lebih tahu dari saya tentang cara melawan jin dan syetan, dia rendah hati dan sopan. Pendapat saya diturutinya. Apa-apa yang akan dilakukannya dia Tanya saya dulu.

Pemuda menentukan garis batas yang melintang di depan si gadis sambil komat-kamit membaca sesuatu, saya tidak dengar. Menurut dia, kalau si Abah A cs datang, dihajarnya setelah melewati garis batas itu. Saya iyakan saja. Si gadis juga diingatkan kalau mereka melewati garis batas itu, cepat kasih tahu kami.

Setelah kehadiran pemuda ini, suasana tidak lagi setegang sebelumnya.
Saya tidak paham sama sekali, bagaimana cara pemuda ini bertarung, apa saja yang dibacanya dan gunanya apa, saya merasa tidak enak untuk menanyakannya.

Waktu terasa begitu lama berjalan menunggu jam 02.00. Makin dekat ke batas waktu, suasana kembali mencekam. Saya larut dalam do’a dan dzikir, pemuda itu juga begitu, dia terus komat-kamit. Keluarga si gadis tidak terkecuali, mereka kelihatan sangat sungguh-sungguh dalam do’a dan dzikir.

Sebentar-sebentar kami menoleh ke jam dinding yang tergantung menghitung waktu yang tersisa. Dada saya mulai berdebar, jantung mulai berdetak kencang. Tiba-tiba saja saya terserang perasaan tidak tenang. Meskipun terus berdo’a, tidak bisa juga menenangkan diri. Tapi saya kuatkan diri dan berjanji dalam diri akan bertarung mati-matian, apakah mereka yang hancur, atau saya yang mati.

Tepat jam 02.00 si gadis melaporkan bahwa si Abah A cs telah datang. Si Abah A bertanya lewat si gadis, apakah saya mau bicara langsung atau pakai perantara si gadis.
Waktu itu saya pikir saya harus hati-hati dan keputusan yang diambil harus tepat, salah sedikit bisa fatal, karena keadaan genting seperti itu. Agak lama saya pertimbangkan baik buruknya kedua pilihan itu.

Akhirnya saya putuskan bicara dengan perantaraan si gadis saja. Kalau langsung berarti si Abah A masuk ke diri si gadis, bisa-bisa si gadis disandera dan merajalela menyiksa si gadis.

Si Abah A Tanya keputusan saya, terus atau mundur. Saya tegaskan saya tidak berubah pendirian, saya persilahkan dia mulai.

Si Abah mencoba menteror saya lagi untuk melemahkan saya dengan , mengingatkan isteri dan anak-anak saya di rumah, apa tidak sayang pada mereka.

Tapi saya sudah tidak sabar dan sudah tidak peduli karena saya ingin segera lepas dari suasana hati, perasaan dan pikiran yang sangat tidak enak akibat terror si Abah A.

Si Abah A minta saya yang mulai, alasannya dia yang tua dan lebih tinggi tingkatannya tidak pantas menyerang duluan anak ingusan seperti saya.

Saya jawab, dia yang menginginkan pertarungan ini, dia yang harus memulai. Pertimbangan saya, kalau kami yang memulai, berarti mereka tidak sempat melewati garis batas yang telah ditetapkan oleh pemuda tadi, berarti saya melanggar kesepakatan dengan si pemuda karena ini bahagian dari strategi untuk mengalahkan mereka.

Saat bolak-balik tawar-menawar itu salah seorang konco si Abah A tidak sabar langsung maju menyerang. Melewati garis batas tadi. Si gadis langsung teriak memberitahu kami.
Pemuda yang sejak tadi konsentrasi penuh menunggu moment ini, langsung mendorong kedua telapak tangannya yang terbuka kedepan seperti mengerahkan pukulan jarak jauh.

Si gadis melapor, syetan yang kena hajar itu jatuh terguling dan kondisinya sangat parah. Si gadis sangat semangat menyampaikan laporan apa yang dilihatnya.

Si Abah A rupanya marah-marah dan terus bertanya siapa lagi yang ikut campur. Kami tidak menghiraukannya, kami terus menggempur mereka secara berbareng.
Si gadis melihat terjadi pertarungan mati-matian antara kami dengan si Abah cs. Mereka tidak melarikan diri seperti biasa. Tidak terlalu lama pertarungan ini, mereka jatuh bergelimpangan, tidak bangun-bangun kemudian hilang dari penglihatan si gadis. Untuk sementara kami semua bernapas lega.

Pihak keluarga si gadis merasa tidak enak terus membebani saya. Setelah berunding dengan ibu tetangga jauh tadi, mereka sepakat membawa si gadis ke seorang kiyai terkenal di Jakarta yang menjadi langganan ibu itu.
Habis shalat subuh kami ramai-ramai mengantar si gadis kesana, menunggu berjam-jam disana. Rupanya hari itu hari libur kiyai itu, tidak terima tamu, kiyai tidur, istirahat setelah berhari-hari meladeni tamu yang sangat banyak.

Si ibu tetangga jauh tadi mencoba membujuk isteri kiyai agar bisa ketemu kiyai sebentar saja, tidak bisa juga meskipun permintaan itu disertai tangisan si ibu.

Akhirnya si gadis dibawa ke tempat Pak Haji, tidak jauh dari situ, orang disekitar situ juga yang kasih tahu. Pak Haji itu mengobati orang juga, tetapi tidak sepopuler kiyai tadi.

Cara Pak Haji mengobati, bagi saya sangat unik dan menarik. Satu gelas air putih diletakkan diatas meja jauh di depannya, satu air putih lagi diletakkan diatas meja di depan si gadis. Pak Haji menatap tajam gelas di depannya, bergantian dengan menatap gelas di depan si gadis.

Saya kagum pada Pak Haji itu. Setelah dia menatap, baru mengungkapkan apa-apa yang diketahuinya tentang apa saja yang ada pada si gadis dan keluarganya. Apa yang diungkapkannya, semua benar, tidak sedikitpun yang salah. Dia bilang si gadis dan keluarganya mengamalkan wirid tanpa kepala, maksudnya wirid yang tidak didahului dengan membaca Al Fatihah, mereka juga pakai jimat dan di rumah si gadis ada benda pusaka.
Pak Haji berjanji ke rumah si gadis besoknya dan memang dia datang..

Saya jadi lega, tidur seharian untuk memulihkan kondisi. Saya pikir sudah tidak ada masalah lagi, Pak Haji itu bisa menuntaskannya.
Tetapi kenyataannya, bertolak belakang dengan perkiraan saya. Sehari setelah Pak Haji ke situ, si gadis dihajar lagi oleh syetan, teriak-teriak kesakitan lagi sampai pingsan.

Sayapun dipanggil dan dimintai tolong lagi. Rupanya porsoalan sakitnya si gadis lebih berat dan rumit dari sebelumnya, sampai-sampai isteri pejabat Omnya si gadis kesambet waktu menjenguk si gadis, rumah si ustadzah jadi seram dan angker, si gadis bersama seluruh keluarga mengungsi ke tempat saya

CATATAN :
Saya telah membahas secara mendalam dan detail tentang syetan, jin dan Iblis, seperti apa mereka, bagaimana kehidupan mereka dan dimana mereka hidup, bagaimana interaksinya dengan setiap diri anak manusia yang mengakibatkan berbagai masalah bagi setiap anak manusia.
Saya juga membahas secara mendalam dan detail tentang jiwa setiap anak manusia, apa yang dimaksudkan dengan jiwa manusia, dimana keberadaan mereka, perannya yang sentral bagi setiap diri anak manusia, persoalan yang dialami oleh anak manusia ketika jiwanya error terutama kaitannya dengan penyakit nonmedis atau medis, apa yang membuatnya error dan bagaimana cara atau upaya memperbaikinya dalam arti penyembuhannya.
Semuanya saya bahas menggunakan fakta empiris yang saya peroleh selama menggeluti penyakit nonmedis 30 tahun lebih.
Untuk informasi tentang kedua buku tersebut silahkan klik ini
BUKU TERAPI ALIF

TOP SELLING BUKU TERAPI ALIF

Menjelajah Alam Jin Dan Syetan ( bagian 3 )

Sampai dengan berakhirnya kasus seperti saya paparkan pada seri artikel ini ( bagian 2 ) sebelumnya, saya tidak berani dan tidak mau mengobati orang lain selain dari lingkungan keluarga sendiri. Masalahnya saya belum tahu persis kenapa yang sakit bisa sembuh setelah saya obati, bagaimana bekerjanya pengobatan ini, bagaimana proses terusirnya syetan dan jin dari diri seseorang, bagaimana proses kalahnya syetan dan jin setelah saya berdo'a dan mengerahkan kekuatan.

Saya juga tidak tahu bagaimana cara jin dan syetan membuat orang jadi sakit, bagaimana cara kerja sihir dan santet sehingga bisa mencelakakan orang. Pertanyaan-pertanyaan itu terus menghantui saya. Ada yang saya tahu sedikit dari penuturan orang dan dibaca, tetapi bagi saya masih belum jelas.

Tetapi saya mengerti sedikit tentang kedokteran karena sewaktu kuliah bergaul dengan teman-teman mahasiswa kedokteran, sama-sama di organisasi kemahasiswaan. Setelah bekerja juga banyak bergaul dengan dokter disamping saya baca buku tentang medis.

Psikologi juga saya tertarik dan paham, karena waktu kuliah ada mata kuliah psikologi dan baca buku tentang psikologi. Tetapi bagi saya, psikologi itu suatu ilmu yang tidak jelas dasar berpijaknya, hanya meraba-raba. Sarjana psikologi yang mengajar mata kuliah psikologi tidak bisa menjawab banyak pertanyaan saya. Dalam buku-buku psikologi yang saya baca termasuk bukunya Sigmund Freud, tidak saya dapatkan apa yang saya cari.

Dalam perjalanan hidup saya berikutnya, banyak kasus kejiwaan tidak bisa diselesaikan oleh psiater, kenapa saya bisa selesaikan dengan baik dan tuntas.
Hal ini menambah keyakinan saya bahwa dasar berpijak psikologi itu tidak jelas.

Meskipun saya telah berketetapan sangat kukuh tidak akan mengobati orang lain, tetapi saya tidak bisa berbuat apa-apa setelah Allah menetapkan apa yang dikehendakiNya.

Heboh, putri ustadzah kesurupan
Waktu itu saya sangat sibuk. Saya ada pekerjaan sambilan diluar kantor, karena di kantor belum ada kegiatan, dan pekerjaan itu baru separuhnya selesai.
Tiba-tiba isteri mengajak saya untuk menengok putri ustadzah yang sakit. Awalnya saya keberatan karena saya memang sedang sibuk sampai-sampai tidurpun jarang.
Tetapi saya tidak tega melihat ekspresi kecewa di wajahnya. Ustadzah ini guru ngajinya dan dia hormat padanya. Hal lain saya khawatirkan, dia telah janji pada ustadzah, saya yang akan mengobati puterinya, pengakuannya dia tidak menjanjikan itu.

Akhirnya saya mau dengan perjanjian, saya tidak akan mengobati.

Kasus putri ustadzah ini memang aneh. Gadis itu perutnya buncit seperti orang hamil.
Menurut pihak keluarga, setelah dibedah oleh dokter, isi perut si gadis berupa cairan hitam seperti comberan sebanyak dua atau tiga liter ( saya lupa ).

Setelah dioperasi, gadis itu merasakan sakit yang tiba-tiba saja datangnya, hilangnya juga tiba-tiba. Rasa sakit biasanya timbul sekitar magrib dan matahari terbit. Bapaknya si gadis kembali pada dokter yang mengoperasi putrinya, minta dicek lagi, takut ada yang salah. Dokter datang ke rumah si gadis memeriksanya. Dokter menyatakan tidak ada masalah dengan medis, malah disuruh cari orang pintar untuk menyelesaikan masalah non-medisnya.

Pergilah bapak si gadis ke salah seorang paranormal yang menjadi langganan tetap kalangan atas di Jakarta ( pejabat tinggi ). Paranormal itu telah mengobatinya beberapa kali, malah dia sudah menggali lantai ubin dalam rumah ustadzah itu di beberapa tempat yang konon ada jarum, paku, silet, rambut dan sebagainya tertanam disitu, sudah dikeluarkan. Tetapi si gadis tidak sembuh-sembuh.

Habis shalat magrib saya bersama isteri berkunjung ke rumah ustadzah itu. Si gadis sedangf bercengkerama dengan adik-adik dan ibunya di ruang tamu. Diapun ikut menyambut kami yang datang. Sekitar sepuluh menit setelah dia masuk ke kamarnya dari ruang tamu, penyakitnya kambuh.

Saat itu saya benar-benar berada dalam kebimbangan yang luar biasa antara mengobati si gadis dan tidak. Kalau tidak saya obati, saya takut pada Allah yang telah melimpahkan segala sesuatu yang tak ternilai pada diri saya dan kemampuan mengobati, saya yakin sebagai karunia Allah. Bagaimana saya mempertanggung-jawabkannya dihadapan Allah di akherat nanti.

Akhirnya saya putuskan mengobatinya. Saya berdo'a sambil memegang dahi si gadis, tidak ada reaksi, si gadis tetap mengerang kesakitan. Saya lakukan lagi, tidak juga membuahkan hasil. Setelah saya ulangi kali ketiga, tiba-tiba dari mulut si gadis keluar suara kakek-kakek sangat tua dengan logat bahasa Banten, yang intinya minta minum karena lelah dan haus habis dari perjalanan jauh. Kontan seisi rumah itu, saudara dan kedua orangtua si gadis membentak dan menyampaikan sumpah-serapah kepada si kakek yang menyebut dirinya Abah A.

Rumah jadi sangat gaduh, ribut dan tidak keruan. Tetangga berdatangan. Suasana tambah ramai dan berisik. Dalam rumah sampai teras depan dan jalan depan rumah penuh oleh tetangga.
Perkiraan saya ada dua hal yang membuatnya begitu heboh.
1. Ustadzah ibunya si gadis pada pengajian mingguan ibu-ibu di komplek perumahan itu
sering mengatakan dengan keyakinan penuh bahwa jin dan syetan tidak mungkin dan
tidak bisa mengganggu orang-orang yang rajin ibadah seperti shalat, puasa, berdzikir
dan sebagainya.
2. Mereka bertanya-tanya apa iya Pak JH yang tampang dan gayanya antara seniman dan
preman itu bisa mengobati orang.

Mengenai hal kedua ini diakui oleh bapaknya si gadis. Malam itu sekitar tengah malam waktu saya istirahat sebentar, bapaknya si gadis minta maaf pada saya, karena waktu saya mau mengobati si gadis, dalam hatinya berkata, masa tampang kayak gini bisa mengobati anak saya. Paranormal hebat dan terkenal saja nggak bisa.

Suasana di rumah itu tambah ribut dan berisik saja. Orang-orang di komplek perumahan itu berdatangan.

Rupanya syetan yang masuk ke si gadis kesal juga dibentak dan dicaci-maki, diapun mengancam akan masuk ke yang membentak dan yang mencaci makinya. Ancaman ini sangat ampuh, mereka diam ketakutan.

Si Abah A menanyakan barangnya, maksudnya yang digali oleh paranormal, dia minta dikembalikan. Dia juga menanyakan bapaknya si gadis yang hendak dibunuhnya. Si Abah A mengatakan saya mengganggu dia dan menanyakan siapa saya yang berani ikut campur urusannya. Saya tidak jawab karena tidak tahu harus jawab apa. Saya sendiri bingung, bagaimana menghadapi situasi ini, kenapa si gadis kesurupan setelah saya obati.

Saya terus berdo'a dan berpikir. Kesimpulan saya tidak ada jalan lain kecuali mencoba pengalaman yang secuil, bertarung dengan berdo'a dan mengerahkan kekuatan. Sudah kepalang tanggung, apa yang terjadi, terjadilah, begitu yang ada di benak saya waktu itu.

Laporan pandangan mata jiwa dari alam jin dan syetan
Beberapa kali upaya ini membuahkan hasil. Si gadis jadi sadar, tetapi dia bisa melihat jelas alam jin dan syetan. Dia melihat syetan yang mengaku si Abah A dari Banten itu bersama tiga konconya yang seram-seram. Saya makin heran dan bingung, apa yang telah saya lakukan sehingga membuat si gadis bisa melihat alam jin dan syetan. Jujur, saya tidak tahu sama sekali waktu itu, tambah bingung dan penasaran saya.

Suasana jadi tambah menarik karena yang hadir bisa mengetahui apa yang terjadi di alam jin dan syetan lewat laporan si gadis. Dia melihat saya dibantu paranormal yang pernah mengobatinya, bertarung melawan keempat orang itu. Pertarungan seperti perkelahian biasa, memukul, menonjok dan menangkis, adakalanya dengan pukulan jarak jauh dengan cahaya yang memancar dari kedua telapak tangan yang terbuka ke depan. Begitu si gadis melihat saya jatuh di alam itu, dia menangis khawatir menyuruh saya cepat bangun dan mohon agar saya jangan sampai jatuh. Dia juga teriak kesakitan kalau kena serangan.

Rupanya di rumah saya sendiri terjadi hal yang menyeramkan. Anak-anak kami yang masih kecil mendengar suara-suara yang menyeramkan. Untung mereka tidak takut.

Sayapun terus berkonsentrasi dalam pertarungan, baju sampai basah kuyup. Si gadis melihat saya menghajar syetan-syetan itu dengan sinar putih, kadang-kadang bergantian dengan sinar biru dan ungu. Saya mulai memahami sedikit tentang pengerahan kekuatan dari diri saya dan wajudnya di alam jin dan syetan serta akibat-akibat yang ditimbulkannya. Saya jadi semangat.

Setelah pertarungan berlangsung sekitar dua jam, keempat syetan itu kalah dan melarikan diri.

Sampai pada tahap ini saya sangat senang dan bahagia, bersyukur pada Allah Taala. Beberapa hal mulai terbuka bagi saya. Saya mulai belajar mengatur pengerahan kekuatan yang efektif dan efisien. Sesuatu yang saya kerahkan dari dalam diri saya, kelihatan jelas oleh si gadis dan dilaporkan secara detail, termasuk akibgat-akibat yang ditimbulkannya.
Apa yang saya rasakan di fisik, kelihatan jelas oleh si gadis, misalnya saya kena senjata di alam itu saya merasakan sedikit di tubuh saya. Meskipun saya lelah dan capek, tetapi saya tetap semangat mendapati kenyataan seperti itu.

Saya bilang pada gadis, kita kejar terus mereka yang melarikan diri itu, sementara paranormal yang pernah mengobati si gadis tidak mau ikutan lagi.

Si gadis melihat dirinya terbang bersama saya menuju sebuah gua. Saya ingatkan si gadis selalu ambil posisi dibelakang saya agar tidak kena serangan.
Saya mulai tidak takut dan tidak canggung, malah mulai marasa asyik pada hal baru yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya.

Penonton makin asyik mendengarkannya, tambah ramai mereka.
Setelah sampai di depan gua, saya minta si gadis meneliti secara cermat apa yang ada di sekitar gua dan di dalam gua dan melaporkannya secara detail. Di sekitar gua tidak ada apa-apa yang membahayakan, tetapi dia tidak bisa melihat jelas kedalam gua yang samar-samar.

Saya putuskan masuk ke gua, kemudian kami melangkah masuk dengan hati-hati. Saya wanti-wanti pada si gadis, cepat laporkan apa yang terjadi dan apa yang dilihatnya.

Si gadis melihat dalam gua yang agak gelap dan samar-samar itu, si Abah A bersama tiga temannya menghadapi dupa yang tengah membara. Si gadis mencium bau asap kemenyan yang tajam, membuatnya merasa takut dan seram.

Tiba-tiba bara api dari dupa itu dilemparkan oleh mereka kearah kami, si gadis melaporkan cepat-cepat dengan perasaan sangat takut. Kemudian dia melihat saya menangkis serangan itu dengan kedua telapak tangan yang terbuka kedepan, kemuidan bara-bara yang dilempar tadi kembali ke mereka sendiri dan menghajar mereka. Keempatnya melolong kesakitan, si gadis tertawa, pendengar dan penontonpun ikut tertawa. Keempat syetan itu menghilang dari panglihatan si gadis. Kamipun istirahat sejenak karena tidak ada serangan dari mereka.

Pertarungan seperti ini terus terjadi, membuat saya tidak sempat tidur selama seminggu. Kalaupun tidur hanya beberapa menit saat duduk. Si gadis terus di hajar sampai pingsan dan sekarat.

Yang sangat mengherankan saya waktu itu, syetan-syetan itu tidak mati-mati, tidak juga lemah setelah dihajar babak-belur dan dihancurkan. Mereka juga tidak kapok-kapok.

Ustadzah sekeluarga sering membaca ayatul Kursi keras-keras kemudian ditiupkan pada si gadis.

Suatu waktu syetan yang ada dalam diri si gadis membentak mereka dengan mengatakan : " Gua lebih fasih baca ayatul Kursi daripada lu lu. Masa mau ngusir gua dengan ayatul Kursi ".

Setelah berlangsung seminggu pengobatan itu, datanglah ancaman dari syetan di dalam diri si gadis yang mengguncang hati dan perasaan saya. Insyaallah, ini yang akan diangkat dalam seri berikutnya

CATATAN :
Saya telah membahas secara mendalam dan detail tentang syetan, jin dan Iblis, seperti apa mereka, bagaimana kehidupan mereka dan dimana mereka hidup, bagaimana interaksinya dengan setiap diri anak manusia yang mengakibatkan berbagai masalah bagi setiap anak manusia.
Saya juga membahas secara mendalam dan detail tentang jiwa setiap anak manusia, apa yang dimaksudkan dengan jiwa manusia, dimana keberadaan mereka, perannya yang sentral bagi setiap diri anak manusia, persoalan yang dialami oleh anak manusia ketika jiwanya error terutama kaitannya dengan penyakit nonmedis atau medis, apa yang membuatnya error dan bagaimana cara atau upaya memperbaikinya dalam arti penyembuhannya.
Semuanya saya bahas menggunakan fakta empiris yang saya peroleh selama menggeluti penyakit nonmedis 30 tahun lebih.
Untuk informasi tentang kedua buku tersebut silahkan klik ini
BUKU TERAPI ALIF

TOP SELLING BUKU TERAPI ALIF
 
Free Blog CounterEnglish German Translation