Sunday, October 07, 2012
SEBAIKNYA SAIN KEDOKTERAN MERUJUK PADA AL QUR’AN
Kita telah berduka atas kepergian Menteri
Kesehatan dr. Endang Rahayu Sedyaningsih MPH.DR.PH pada Rabu siang 2 Mei 2012
yang lalu. Duka tadi menyisakan
pertanyaan bagi kita. Rasanya pernyataan, itu sudah takdir, terlalu naif dan syarat ironi mengingat posisi
beliau sebagai seorang petinggi yang memimpin segala hal yang berkaitan dengan
kesehatan di negeri ini disamping beliau sebagai salah seorang pakar bidang
kesehatan. Para kampiun di bidang kesehatan dan ditopang oleh tekhnologi mutakhir bidang kedokteran tidak diragukan telah bekerja keras dan
maksimal menolong beliau melawan kanker yang menggerogoti paru-parunya, tetapi
tidak berhasil. Banyak kasus serupa atau
mirip yang diderita oleh orang awam yang tidak diexpose ke permukaan.
Mungkin juga ada diantara kita yang yakin
bahwa sain di bidang kedokteran sudah memasuki usia senja dan stagnan seperti
anggapan sejumlah pihak, sehingga mandul ketika berhadapan dengan sejumlah
kasus penyakit.
Memandang
manusia secara utuh
Sain
bidang kedokteran dengan para ahli/pakarnya di bidang tersebut merupakan satu
kesatuan yang tidak terpisahkan. Apa yang dilakukan oleh para pakar tadi dalam
menangani berbagai kasus penyakit yang diderita oleh pasien tidak boleh keluar
dari text book sain bidang kedokteran. Persoalannya banyak kasus penyakit di
masyarakat belum ada di text book tadi, kalaupun ada penggambaran dan cara
penanganannya tidak akurat.
Dasar pandangan yang dianut oleh sain kedokteran
bahwa manusia adalah salah satu jasad hidup seperti makhluq hidup lainnya. Atas
dasar ini sain kedokteran memandang segala aktivitas yang terjadi pada jasad
manusia lebih dititik beratkan sebagai proses fisis. Kerusakan dan kelainan sel
sampai ke jaringan dan organ-organ tubuh yang dibangunnya dipandang sebagai
proses fisis belaka, sehingga pengobatan yang dilakukan lebih bertumpu pada
pembedahan dan pemberian obat sebagai proses fisis dalam upaya memperbaiki
kerusakan dan kelainan tadi. Memang tidak ada yang salah penanganan semacam ini
selama penyebabnya murni fisis.
Persoalan akan muncul ketika penyebab
kerusakan atau kelainan tidak mampu dideteksi dengan peralatan kedokteran yang
paling canggih sekalipun. Jadilah pakar atau dokter mendiagnosis penyakit hanya
bermodalkan prediksi dari gejala yang muncul pada diri pasien. Mungkin untuk
kasus sederhana yang tidak terlalu membahayakan pasien cara seperti ini tidak
apa-apa dan lazim, tetapi untuk kasus berat yang menentukan hidup mati seorang
pasien sangat mahal taruhannya untuk dilakukan. Cukup banyak kasus semacam ini
saya temui selama menggeluti pengobatan
nonmedis tiga puluh tahun lebih.
Satu kasus pernah saya tangani menimpa
seorang gadis, mahasiswi Perguruan
Tinggi Negeri. Pasien sudah berbaring selama 24 hari di sebuah rumah sakit
papan atas di Jakarta. Dia putri seorang dokter senior yang bertugas disitu.
Tim dokter yang dibentuk khusus untuk menangani pasien tadi memeriksa setiap 10
menit, tapi bapaknya tidak masuk tim karena begitu aturan disitu. Diagnosis
dokter menurut bapaknya, putrinya terserang typhus, tetapi diberi anti thypus
selama 24 hari tidak ada perubahan apa-apa sebagai tanda kearah kesembuhan.
Malah tim dokter meminta izin untuk cuci darah putrinya. Saya tanyakan padanya,
apakah tidak salah mengambil tindakan medis sebelum diagnosisnya jelas dan
terang. Dan saya tegaskan lagi bahwa putrinya menderita penyakit nonmedis.
Pengalaman saya dalam menangani kasus nonmedis, tindakan medis yang salah
seperti itu akan sangat fatal, pasien tidak akan tertolong jiwanya. Dokter
senior tadi penasaran bercampur khawatir mendengar pertanyaan dan penegasan
saya. Dia bertanya dan berdiskusi selama berjam-jam tentang dasar pemahaman
saya yang mendasari pengobatan yang saya lakukan.
Saya tegaskan bahwa saya memandang
manusia secara utuh seperti yang diajarkan oleh Al Qur’an. Manusia terdiri dari komponen utama yaitu, jasad, jiwa dan ruh. Ilmu kedokteran lebih fokus mempelajari jasad, sementara jiwa
seperti diabaikan. Ada juga upaya sain kedokteran mempelajari jiwa manusia
lewat psychology, tetapi sifatnya hanya meraba-raba melalui gejala aktivitas
manusia, tetapi tidak pernah sama sekali menyentuh jiwa sebagai materi pokok. Padahal penyakit
nonmedis dan sebahagian penyakit medis disebabkan karena terjadi error pada
jiwa atau bahagian jiwa manusia.
Memahami manusia sebagai makhluk hidup
secara utuh bukanlah memahaminya sebagai jasad yang hidup seperti pandangan
sain kedokteran, tetapi pemahaman yang mendasar bahwa didalam jasadnya ada jiwa
dan ruh yang membuat dia jadi hidup, bisa beraktivitas apapun baik yang kelihatan
maupun yang tidak kelihatan. Jiwa yang membuat manusia merasakan sakit, nikmat,
senang, gembira dan sebagainya. Apa yang dilakukan atau yang tidak dilakukan
oleh jasad, semua atas perintah dari jiwa. Kalau jiwa atau bahagian jiwa
seorang anak manusia error, maka error juga perintah yang diberikannya ke
jasad. Tanpa memperbaiki bahagian jiwa yang error dan menjadi penyebab penyakit
pasien, tidak mungkin pasien itu sembuh.
Dokter senior tadi percaya dan yakin
dengan pendapat dan pemahaman saya, dia tidak memberi izin cuci darah putrinya
kemudian mengikuti konsep pengobatan yang saya paparkan. Beberapa hari kemudian
putrinya sembuh total.
Mengenal
jiwa manusia
Al Qur’an mengajarkan kita banyak sekali
tentang jiwa manusia baik tersurat maupun tersirat. Dalam setiap jasad manusia
ada satu jiwa yang terikat disitu sebagai jiwa utama atau jiwa pertama. Jiwa
inilah yang pertama diciptakan oleh Allah sebelum jasad diciptakan. Jiwa
pertama ini yang memerintahkan jasad sampai ke bahagian paling kecil dari jasad
untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Disamping itu ada jiwa sekunder
yang jumlahnya sangat banyak untuk setiap orang yang biasanya keluar masuk jasad. Jiwa
sekunder inilah yang berinteraksi dengan jiwa sekunder makhluq lain, apakah
yang kasat mata seperti manusia lain, binatang dan tumbuh-tumbuhan atau jin dan
syetan yang tidak kasat mata.
Umumnya penyakit nonmedis disebabkan oleh
interaksi jiwa sekunder ini dengan pihak lain, pihak lain yang menyiksanya atau
membuatnya tersiksa karena berbagai sebab. Siksaan ini dirasakan oleh jiwa
pertama yang melekat di jasad dan lebih ekstrim lagi jiwa pertama yang
merasakan siksaan tadi memberi order yang error pada sel atau kelenjar untuk
berbuat sesuatu seperti membuat sel
kanker dan tumor atau tidak berbuat sesuatu seperti tidak memproduksi atau
membatasi produksinya seperti insulin pada penderita diabetes. Perintah yang
error ini sangat bertentangan dengan system keseimbangan atau pertahanan dalam
tubuh anak manusia yang bersangkutan. Tanpa membenahi jiwa sekunder yang error
tadi tidak mungkin si pasien bisa disembuhkan.
Sayangnya jiwa-jiwa sekunder ini hanya
bisa dijangkau dan ditata oleh orang yang piawi menggunakan jiwa-jiwa sekunder
mereka seperti orang-orang yang mendalami dan aktif dalam kegiatan olah
spiritual bukan dalam pengertian klenik dan mistik atau semacamnya.
Aktivitas jiwa-jiwa sekunder terjadi di
dimensi dan sub dimensi lain dari alam semesta ini. Tetapi bukan
dimensi-dimensi yang diyakini keberadaannya oleh ahli fisika pada
dimensi-dimensi ruang waktu lengkung dalam konsep formulasi metamatika yang
tidak bisa dibayangkan dan tidak bisa dihayalkan
sama sekali. Dimensi yang saya maksud adalah suatu realitas yang hanya bisa
dideteksi dan dijangkau oleh kita secara sadar maupun tidak sadar pada tingkat kepekaan tertentu dalam
merasakan jiwa-jiwa kita sendiri dam
jiwa-jiwa pihak lain.
Ada baiknya para pakar atau ilmuwan di
bidang kedokteran membuka diri dalam penelitian tentang jiwa manusia ini, bukan
dalam hal perdukunan, mistik atau klenik, tetapi suatu ilmu jiwa terapan yang
akurat berpijak pada pengajaran Al Qur’an dan fakta empiris yang valid dan
begitu banyak. Kita berharap apabila dasar pemahaman yang akurat tentang jiwa
disusun menjadi suatu standar baku dalam penanganan kasus nonmedis, maka akan
lebih banyak kasus penyakit yang masih gelap dan jadi misteri selama ini bisa
disingkap, tanpa hanya bisa berkilah dengan kata takdir dalam menyikapi
kematian seorang pasien.
Jatiasih, 8 Juni 2012
Jusuf Hakim
Monday, June 11, 2012
PENGALAMAN PEMBACA BUKU TERAPI ALIF
JH Alifulhaq Terapi Alif
Pada
suatu acara hajatan tetangga kebetulan salah seorang bapak muda umurnya sekitar
30 th., karyawan swasta, tetangga masih satu RT dengan saya duduk disisi kiri
saya. Dia bercerita, setelah beberapa hari membaca buku saya yang berjudul
SEMBUH SEKETIKA BUKAN MIKJIZAT ATAU KEAJAIBAN, dia terserang flu dan demam. Kemudian
dia ke dokter, setelah diukur tekanan darahnya dokter menanyakan apakah dia ada
riwayat tekanan darah rendah. Tetangga saya ini kaget, kemudian dia jelaskan
kepada dokter tadi bahwa dia penderita hypertensi/tekanan darah tinggi sebagai
penyakit keturunan menurut dokter langganan perusahaan tempat dia bekerja dan
harus rutin minum obat, tanpa boleh berhenti. Dokter yang memeriksanya jadi
bingung, kemudian mengukur ulang tekanan darahnya sampai tujuh kali, hasilnya
tetap sama, tekanan darahnya tetap rendah.
Besoknya
dia ke dokter langganan perusahaannya untuk dicek lagi tekanan darahnya, memang
tekanan darahnya sudah turun malah cenderung rendah. Dokter tadi merasa heran,
apa yang menyebabkan tekanan darahnya jadi turun. Tapi pesan dokter
langganannya ini agar dia jangan menghentikan secara drastis minum obatnya,
sebaiknya dikurangi sedikit demi sedikit.
Atas
kejadian yang dialaminya ini bapak muda ini bertanya pada saya, apakah dengan
membaca buku tadi berpengaruh pada penyakit dia. Sebelum saya menjawab
pertanyaan dia tadi, saya bertanya padanya tentang apa yang dia paham dan dia
tangkap di buku saya yang dia baca. Setelah dia jelaskan pemahamannya dan menurut
saya pemahamannya benar, kemudian saya jawab bahwa penyakit yang dideritanya
adalah penyakit nonmedis sehingga berpengaruh pada penyakitnya setelah memahami
secara benar buku saya.
Percakapan
saya dengan tetangga tadi rupanya disimak oleh tetangga saya yang lain yang
duduk di sisi kanan saya. Tetangga yang ini tetangga satu RT juga dengan saya,
seorang bapak pensiunan perusahaan swasta dan umurnya sekitar 60 th. Dia
mengaku setelah membaca dua buku saya, dia diam-diam terapkan apa yang dia
paham dari kedua buku tadi. Beberapa lama setelah itu dia cek kandungan gula
darah ke dokter langganannya, dokter tersebut heran karena kandungan gula
darahnya turun drastis mendekati normal. Tetangga yang satu ini senang karena
dia sudah divonis oleh dokter sebagai penderita penyakit diabetes keturunan
yang tidak mungkin disembuhkan. Setelah itu berbagai pantangan dalam urusan
makan tidak lagi dia hiraukan.
Tetangga
saya yang ini, salah seorang putrinya kuliah di fakultas kedokteran universitas
swasta di Jakarta. Ceritanya, setelah dia membeli buku saya yang pertama belum
selesai membacanya, putrinya meminjam buku tadi, di bawa ke kampusnya. Di
kampus teman-temannya se fakultas meminjam buku tadi, kemudian tidak
mengembalikannya ke putri teman saya dengan permintaan untuk disimpan di
perpustakaan agar mereka bisa baca bergilir. Tetangga yang teman saya tadi
mengalah terpaksa dia cari lagi buku tadi di toko buku GRAMEDIA.
TOP SELING BUKU TERAPI ALIF
Thursday, July 28, 2011
TANYA JAWAB DENGAN PEMBACA BUKU SAYA 2
JH Alifulhaq Terapi Alif
Pertanyaan :
Saya sedih mendengar kabar bahwa tidak ada lagi yang bisa mengaplikasikan konsep pengobatan Terapi Alif selain Pak Jusuf.
Saya sudah bingung dan hampir putus asa mencari pengobatan untuk anak saya yang sudah berbulan-bulan berbaring sakit.
Saya tahu, banyak yang nasibnya seperti anak saya. Tapi saya ingin sekali anak saya sembuh.
Mengapa Pak Jusuf berhenti mengobati? Apakah Bapak juga sedang sakit? Kalau dipaksa kali ini saja, benar-benar tidak bisa, Pak? Atau saya harus menunggu bbrp bulan lagi?
Paling tidak, mungkin Pak Jusuf bisa berkunjung ke rumah saya untuk menjenguk dan mendiagnosa penyakit anak saya dulu? Sekalian 'kenalan/ngobrol' dengan saya dan suami. Nanti Insya Allah kami jemput.
Siapa tahu kasusnya cukup 'simple' untuk Bapak obati (tapi tidak untuk saya karena saya tak berbakat).
Kalau terlalu berat kasusnya, ya saya tidak memaksa. (Walaupun sejujurnya saya tetap berharap untuk ditolong karena saya sudah bingung).
Keluarga kami, Insya Allah bersih dari kegiatan spiritual yang menyimpang seperti mengikuti olah pernapasan, menggunakan ilmu hitam untuk tujuan apa pun, dan semacamnya.
Kami sekeluarga berjanji akan kooperatif, jujur sejujur-jujurnya, transparant menjawab pertanyaan, supaya tidak merugikan Bapak.
Walaupun saya bukan millioner, namun berapa pun biaya atau apa pun syarat pengobatannya, Insya Allah saya usahakan untuk dipenuhi, asalkan anak saya sembuh dan bisa melanjutkan kuliahnya lagi. Dia anak pertama dari empat bersaudara, paling mengerti, perhatian dan patuh pd orang tua makanya saya pun 'berjuang' untuk kesembuhannya.
Kasihan anak saya, dia sangat berharap bisa selesai kuliah S1 di usia nya yang sudah 1/4 abad, kemudian bisa bekerja.
Aduh! Maaf, Pak. Bukan maksud curhat. Saya hanya bingung dan berharap anak saya diterima sebagai pasien Terapi Alif.
Allah SWT Maha Kaya, pertolongan Nya bisa datang dari arah mana saja. Tetapi, kelemahan dan logika saya sebagai manusia, masih berpikir bahwa Terapi Alif lah solusinya. Saya masih blm menemukan solusi lainnya. Ya Allah, mungkin saya salah, tp sebagai Ibu, saya tidak tega anak saya hanya bisa berbaring.
Atau mungkin Bapak kenal seseorang yg biasa mengobati juga?
Mohon maaf atas "pemaksaan" nya.
Terima kasih sebelum dan sesudahnya.
Jawaban saya :
Terima kasih atas perhatian, kepercayaan dan penghargaannya. Saya ikut
prihatin atas penderitaan ibu sekeluarga. Fisik saya segar bugar, tapi
jiwa saya masih memikul beban yg berat akibat kesalahan dan
ketidaktahuan saya mengobati orang yg seharusnya tidak boleh saya
obati dan beban tadi merupakan ganjaran dari Allah Yang Maha Belas Kasih yg
harus saya pikul dan sebagai teguran atas kesalahan tadi. Jadi saya
tidak boleh mengulangi kesalahan yg sama karena akan berakibat fatal
bagi saya. Beberapa bulan yg lalu saya coba menolong keponakan saya
sendiri, meskipun dia sembuh seketika tetapi akibatnya menambah beban
bagi saya. Saat ini yg saya rasakan aman hanya mengobati cucu2 saya,
anak2 saya dan isteri saya. Mungkin sebatas itulah yg diijinkan oleh
Allah yg bisa saya lakukan dalam pengobatan saat ini, disamping menulis buku
untuk berbagi ilmu disisiNya. Fokus saya selama dua tahun terakhir
sampai saat ini adalah memohon ampun pada Rabbku Yang Maha Pengampun
agar beban di jiwa saya dihilangkan sama sekali. Saya tidak tahu
kapan saya dijinkan kembali mengobati orang lain. Kalau beban di jiwa
saya dihilangkan sama sekali mungkin itu tanda bagi saya untuk kembali
mengobati orang disamping tanda lainnya. Kalaupun saya dijinkan,
insyaAllah saya akan menerapkan syarat yg sangat ketat. Mudah2an
dengan penjelasan ini ibu bisa memahami posisi saya.
Balasan dari penanya :
Terima kasih untuk penjelasannya. Mohon maaf kalau saya memaksa. Tapi sekarang saya bisa mengerti.
Terlepas dari sakitnya anak saya, Insya Allah saya akan turut mendoakan Pak Jusuf semoga beban jiwanya diangkat Allah SWT.
CATATAN :
Saya telah membahas secara mendalam dan detail tentang syetan, jin dan Iblis, seperti apa mereka, bagaimana kehidupan mereka dan dimana mereka hidup, bagaimana interaksinya dengan setiap diri anak manusia yang mengakibatkan berbagai masalah bagi setiap anak manusia.
Saya juga membahas secara mendalam dan detail tentang jiwa setiap anak manusia, apa yang dimaksudkan dengan jiwa manusia, dimana keberadaan mereka, perannya yang sentral bagi setiap diri anak manusia, persoalan yang dialami oleh anak manusia ketika jiwanya error terutama kaitannya dengan penyakit nonmedis atau medis, apa yang membuatnya error dan bagaimana cara atau upaya memperbaikinya dalam arti penyembuhannya.
Semuanya saya bahas menggunakan fakta empiris yang saya peroleh selama menggeluti penyakit nonmedis 30 tahun lebih.
Untuk informasi tentang kedua buku tersebut silahkan klik ini BUKU TERAPI ALIF
Pertanyaan :
Saya sedih mendengar kabar bahwa tidak ada lagi yang bisa mengaplikasikan konsep pengobatan Terapi Alif selain Pak Jusuf.
Saya sudah bingung dan hampir putus asa mencari pengobatan untuk anak saya yang sudah berbulan-bulan berbaring sakit.
Saya tahu, banyak yang nasibnya seperti anak saya. Tapi saya ingin sekali anak saya sembuh.
Mengapa Pak Jusuf berhenti mengobati? Apakah Bapak juga sedang sakit? Kalau dipaksa kali ini saja, benar-benar tidak bisa, Pak? Atau saya harus menunggu bbrp bulan lagi?
Paling tidak, mungkin Pak Jusuf bisa berkunjung ke rumah saya untuk menjenguk dan mendiagnosa penyakit anak saya dulu? Sekalian 'kenalan/ngobrol' dengan saya dan suami. Nanti Insya Allah kami jemput.
Siapa tahu kasusnya cukup 'simple' untuk Bapak obati (tapi tidak untuk saya karena saya tak berbakat).
Kalau terlalu berat kasusnya, ya saya tidak memaksa. (Walaupun sejujurnya saya tetap berharap untuk ditolong karena saya sudah bingung).
Keluarga kami, Insya Allah bersih dari kegiatan spiritual yang menyimpang seperti mengikuti olah pernapasan, menggunakan ilmu hitam untuk tujuan apa pun, dan semacamnya.
Kami sekeluarga berjanji akan kooperatif, jujur sejujur-jujurnya, transparant menjawab pertanyaan, supaya tidak merugikan Bapak.
Walaupun saya bukan millioner, namun berapa pun biaya atau apa pun syarat pengobatannya, Insya Allah saya usahakan untuk dipenuhi, asalkan anak saya sembuh dan bisa melanjutkan kuliahnya lagi. Dia anak pertama dari empat bersaudara, paling mengerti, perhatian dan patuh pd orang tua makanya saya pun 'berjuang' untuk kesembuhannya.
Kasihan anak saya, dia sangat berharap bisa selesai kuliah S1 di usia nya yang sudah 1/4 abad, kemudian bisa bekerja.
Aduh! Maaf, Pak. Bukan maksud curhat. Saya hanya bingung dan berharap anak saya diterima sebagai pasien Terapi Alif.
Allah SWT Maha Kaya, pertolongan Nya bisa datang dari arah mana saja. Tetapi, kelemahan dan logika saya sebagai manusia, masih berpikir bahwa Terapi Alif lah solusinya. Saya masih blm menemukan solusi lainnya. Ya Allah, mungkin saya salah, tp sebagai Ibu, saya tidak tega anak saya hanya bisa berbaring.
Atau mungkin Bapak kenal seseorang yg biasa mengobati juga?
Mohon maaf atas "pemaksaan" nya.
Terima kasih sebelum dan sesudahnya.
Jawaban saya :
Terima kasih atas perhatian, kepercayaan dan penghargaannya. Saya ikut
prihatin atas penderitaan ibu sekeluarga. Fisik saya segar bugar, tapi
jiwa saya masih memikul beban yg berat akibat kesalahan dan
ketidaktahuan saya mengobati orang yg seharusnya tidak boleh saya
obati dan beban tadi merupakan ganjaran dari Allah Yang Maha Belas Kasih yg
harus saya pikul dan sebagai teguran atas kesalahan tadi. Jadi saya
tidak boleh mengulangi kesalahan yg sama karena akan berakibat fatal
bagi saya. Beberapa bulan yg lalu saya coba menolong keponakan saya
sendiri, meskipun dia sembuh seketika tetapi akibatnya menambah beban
bagi saya. Saat ini yg saya rasakan aman hanya mengobati cucu2 saya,
anak2 saya dan isteri saya. Mungkin sebatas itulah yg diijinkan oleh
Allah yg bisa saya lakukan dalam pengobatan saat ini, disamping menulis buku
untuk berbagi ilmu disisiNya. Fokus saya selama dua tahun terakhir
sampai saat ini adalah memohon ampun pada Rabbku Yang Maha Pengampun
agar beban di jiwa saya dihilangkan sama sekali. Saya tidak tahu
kapan saya dijinkan kembali mengobati orang lain. Kalau beban di jiwa
saya dihilangkan sama sekali mungkin itu tanda bagi saya untuk kembali
mengobati orang disamping tanda lainnya. Kalaupun saya dijinkan,
insyaAllah saya akan menerapkan syarat yg sangat ketat. Mudah2an
dengan penjelasan ini ibu bisa memahami posisi saya.
Balasan dari penanya :
Terima kasih untuk penjelasannya. Mohon maaf kalau saya memaksa. Tapi sekarang saya bisa mengerti.
Terlepas dari sakitnya anak saya, Insya Allah saya akan turut mendoakan Pak Jusuf semoga beban jiwanya diangkat Allah SWT.
CATATAN :
Saya telah membahas secara mendalam dan detail tentang syetan, jin dan Iblis, seperti apa mereka, bagaimana kehidupan mereka dan dimana mereka hidup, bagaimana interaksinya dengan setiap diri anak manusia yang mengakibatkan berbagai masalah bagi setiap anak manusia.
Saya juga membahas secara mendalam dan detail tentang jiwa setiap anak manusia, apa yang dimaksudkan dengan jiwa manusia, dimana keberadaan mereka, perannya yang sentral bagi setiap diri anak manusia, persoalan yang dialami oleh anak manusia ketika jiwanya error terutama kaitannya dengan penyakit nonmedis atau medis, apa yang membuatnya error dan bagaimana cara atau upaya memperbaikinya dalam arti penyembuhannya.
Semuanya saya bahas menggunakan fakta empiris yang saya peroleh selama menggeluti penyakit nonmedis 30 tahun lebih.
Untuk informasi tentang kedua buku tersebut silahkan klik ini BUKU TERAPI ALIF
TOP SELLING BUKU TERAPI ALIF
TANYA JAWAB DENGAN PEMBACA BUKU SAYA 1
JH Alifulhaq Terapi Alif
Sejumlah pembaca buku saya dan penderita penyakit nonmedis mengajukan sejumlah pertanyaan kepada saya lewat email mengenai buku saya, terapi alif, penyakit nonmedis dan belum bisanya saya melayani pengobatan. Saya memandang perlu menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut secara terbuka agar pertanyaan-pertanyaan yang sama tidak diajukan berulang kali pada saya. Disamping itu tanya jawab seperti itu saya yakin banyak manfaatnya bagi siapapun yang ingin memperbaiki diri dalam kehidupan ini dalam arti menghilangkan beban, paling tidak mengurangi beban yang dipikul.
Pertanyaan-pertanyaan tersaebut saya kutip kemudian saya jawab seluruhnya.
Pertanyaan :
Di buku Bapak dijelaskan bahwa salah satu penyebab suatu penyakit tidak bisa disembuhkan adalah karena durhaka/kesalahan kepada kedua orang tua atau pun orang lain dan tidak sempat meminta maaf sebelum mereka meninggal.
1. Bagaimana dengan kesalahan yang diperbuat terhadap orang lain yang ketemu di jalan, yang tidak kita kenal, tidak tahu tinggalnya di mana, bahkan tidak ingat mukanya seperti apa? Rasanya sulit untuk meminta maaf pada mereka secara langsung. Apakah dalam hal ini, cukup memohon ampun pada Allah SWT dan mendoakan orang yang pernah kita sakiti? (Kesalahannya bukan karena menghajar orang lain dengan ilmu hitam, tapi contohnya memaki orang lain karena parkir sembarangan atau mengendarai motor melawan arah yang mengganggu kelancaran lalu lintas).
2. Menurut pengalaman Bapak, bagaimana mendeteksi sistem dalam jaringan tubuh yang sudah rusak total? Apakah ada gejala-gejala tertentu?
3. Apakah Sindrom Kelelahan Kronis bisa disembuhkan dengan methode Terapi Alif? Penyakit ini sampai sekarang blm bisa ditangani secara medis dan di banyak negara (termasuk Indonesia) masih disepelekan sehingga penderitanya dianggap hipokondria/stress berat. Para peneliti barat masih berspekulasi mengenai penyebab dan treatmentnya. Ada yang berpendapat, penyakit ini disebabkan oleh menurunnya fungsi sel untuk memproduksi energi/ATP, sehingga kerja organ-organ yang lain termasuk syaraf, otak dan sistem hormon pun terganggu. Namun sayangnya, belum ada standard treatment yg berhasil diaplikasikan dunia kedokteran berdasarkan teori, dalam kehidupan nyata. Penanganan penyakit ini masih bersifat experimental. Kerusakan fisik organ-organ tubuh tidak ditemukan.
Menurut pendapan Bapak, apakah jiwa juga yang mengatur produksi ATP/Energi dan hormon ?
Saya baca di buku Bapak, bahwa penyakit yang sudah jadi takdir Allah SWT tidak bisa disembuhkan. Biasanya ini karena rapalan, wirid, dzikir atau olah pernapasan tertentu yang bukan diniatkan karena Allah SWT (durhaka/ingkar pada Allah SWT).
4. Bagaimana kalau orang tersebut bertaubat dan berdoa? Apakah taubatnya tidak bisa diterima lagi sehingga penyakitnya tidak bisa sembuh? Saya pernah baca hadits yang isi nya, doa bisa merubah takdir seseorang.
5. Bagaimana cara taubat dan doa yang baik sehingga Insya Allah cepat dikabulkan permohonannya? Terus terang, saya masih belum terlalu paham dengan maksud dari 'berdoa dengan ilmu yang ada di Al Qur'an'.
Apakah berdoa diawali dengan memuji Allah SWT termasuk berdoa dengan ilmu?
6. Jika begitu, mengapa doa sebagian kecil orang lebih cepat dikabulkan dibanding yang lain? Contohnya, ada orang yang sakit non medis walaupun dia rajin beribadah dan tidak mengamalkan rapalan macam-macam, sudah berdoa sendiri berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun namun belum sembuh juga. Tp begitu diobati dengan Terapi Alif, dia sembuh total? Apakah yang membedakan doa sendiri dengan doa saat diterapi?
7. Bolehkah memohon kepada Allah SWT agar ditunjukkan apa penyebab sakit saya? Kalau para Nabi seperti Ayyub, kan memang manusia pilihan, jadi mungkin karena itu akhirnya diberitahu oleh Allah SWT bahwa dia diganggu Syaithan.
Saya tidak bisa melihat makhluk ghaib atau pun dimensi lain, sehingga saya tidak tau apa yang terjadi dengan jiwa saya (primer dan sekunder)
8. Bolehkah saya berdoa minta kepada Allah SWT supaya jiwa-jiwa saya diselamatkan/dibebaskan dari 'penjara' syetan/iblis/jin, walaupun saya tidak bisa melihat bahwa jiwa saya saat ini sedang ditawan mereka?
9. Dan meminta Allah SWT supaya jiwa-jiwa saya yang error diperbaiki supaya kembali harmonis hingga saya sembuh?
Setelah membaca buku-buku Bapak, saya jadi berpikir, jangan-jangan saat ini jiwa sekunder saya sedang disiksa dengan cara dipasangkan beban amat sangat berat dipundak, tangan dan seluruh bagian belakang tubuh saya, sehingga dalam kehidupan nyata, saya merasakan kelelahan yang teramat sangat (karena badan terasa berat) dan kesakitan, tidak bebas bergerak.
Saya takut kalau doa-doa saya pun bisa 'ditunggangi' syaithan sehingga makin memperburuk penyakit saya.
10. Masih dari buku Bapak juga, tentang seorang anak muda yang tidak pernah absen sholat tahajud. Apa sebab dia dibisikkan syaithan hingga bisa melihat ke mana depan, sedangkan yang saya baca di sumber lain, sholat tahajud mendekatkan Allah SWT dengan hamba Nya. Apakah itu karena Sholat Tahajudnya tidak ikhlas karena Allah SWT?
Yang terakhir, maaf kalau saya lancang, namun saya penasaran ingin tahu, mengapa Terapi Alif tidak melayani pengobatan lagi? Apakah Bapak sedang sakit?
Terima Kasih sebelumnya. Maaf Emailnya terlalu panjang. Saya berharap bisa sembuh dalam waktu dekat, namun doa-doa saya dan kedua orang tua untuk sembuh belum dikabulkan, karena itu, saya mulai berpikir, mungkin ada kesalahan-kesalahan dalam berdoa yang menghalangi dikabulkannya doa saya untuk sembuh.
Jawaban saya:
1. Kesalahan yg saya maksud adalah dg sengaja menghajar orang dg
kekuatan supra natural dilakukan sendiri atau pertolongan orang lain,
apapun bentuk kekuatan itu.
2. Kerusakan total diketahui dari tidak berfungsinya sama sekali jaringan tsb.
3. Kalau memang itu kasus nonmedis insyaAllah bisa disembuhkan dg
terapi alif. Apa yg dilakukan atau tidak dilakukan tubuh, organ tubuh
sampai ke sel2 semuanya atas order jiwa pertama.
Orang yg tidak tahu atau tidak sengaja berbuat musyrik insyaAllah
diampuni kalau dia sadar akan kesalahannya kemudian segera taubat.
Tetapi mereka yg dg sengaja dan sadar tidak akan diampuni. Setahu saya
takdir adalah ketepan Allah yg tidak dirubahNya. Hanya nasib yg
dirubahNya.
5. Do"a seseorang sangat pribadi sifatnya karena menyangkut hubungan
yg sangat khusus dia dg Allah. Kalau dia kenal sangat baik dg Allah
kemudian dia senantiasa mendekatkan diri sedekat-dekatnya pdNya,
merupakan salah satu faktor cepat dikabulkan doanya. Faktor lainnya berdo'a dg ilmu dlm pengertian ybs tahu persis persoalan yg dihadapinya dan apa yg dimintanya. Apa yg
diminta tidak boleh bertentangan dg hukum2 Allah.
6. Jawaban sama dg no 5. Kebanyakan anak manusia sulit jujur pd
dirinya sendiri sehingga pd Allahpun tidak jujur. Ini menjadi
penghalang bagi kedekatan seseorang dg Allah.
7. Boleh.
8. Boleh. Persoalannya apakah anda tahu persis bahwa jiwa2 anda
dipenjara oleh mereka karena mereka tidak mungkin berbuat semena-mena
pd anak manusia. Pasti ada sebabnya sehingga jiwa2 anda dijinkan oleh
Allah utk dipenjara oleh mereka.
9. Ya meminta lewat do'a dg ilmu. Apapun tindakan seseorang sekecil
apapun penyimpangannya dari pengajaran Allah pasti ditunggangi syetan.
10. Saya tidak tahu bagaimana tahajjud anak muda tsb, tetapi yg saya
tangkap terjadi pencemaran dlm dirinya akibat amal yg menyimpang.
Fisik saya sehat dan segar bugar, tetapi beban nonfisik saya masih
berat akibat berbagai hal yg menumpuk selama menggeluti
pengobatan nonmedis karena kesalahan saya akibat
ketidak tahuan saya, ketidak jujuran dan keingkaran pasien2 saya.
Mengenai kesalahan berdo'a seharusnya anda sendiri yg paling tahu dan
Allah tentunya. Kalau seseorang senantiasa akrab dg kebenaran disisi
Allah dlm setiap amal perbuatannya, maka bisa dipastikan bahwa ybs
akan mudah menemukan kesalahan dirinya. Mudah2an jawaban ini bisa
membantu anda.
CATATAN :
Saya telah membahas secara mendalam dan detail tentang syetan, jin dan Iblis, seperti apa mereka, bagaimana kehidupan mereka dan dimana mereka hidup, bagaimana interaksinya dengan setiap diri anak manusia yang mengakibatkan berbagai masalah bagi setiap anak manusia.
Saya juga membahas secara mendalam dan detail tentang jiwa setiap anak manusia, apa yang dimaksudkan dengan jiwa manusia, dimana keberadaan mereka, perannya yang sentral bagi setiap diri anak manusia, persoalan yang dialami oleh anak manusia ketika jiwanya error terutama kaitannya dengan penyakit nonmedis atau medis, apa yang membuatnya error dan bagaimana cara atau upaya memperbaikinya dalam arti penyembuhannya.
Semuanya saya bahas menggunakan fakta empiris yang saya peroleh selama menggeluti penyakit nonmedis 30 tahun lebih.
Untuk informasi tentang kedua buku tersebut silahkan klik ini BUKU TERAPI ALIF
Sejumlah pembaca buku saya dan penderita penyakit nonmedis mengajukan sejumlah pertanyaan kepada saya lewat email mengenai buku saya, terapi alif, penyakit nonmedis dan belum bisanya saya melayani pengobatan. Saya memandang perlu menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut secara terbuka agar pertanyaan-pertanyaan yang sama tidak diajukan berulang kali pada saya. Disamping itu tanya jawab seperti itu saya yakin banyak manfaatnya bagi siapapun yang ingin memperbaiki diri dalam kehidupan ini dalam arti menghilangkan beban, paling tidak mengurangi beban yang dipikul.
Pertanyaan-pertanyaan tersaebut saya kutip kemudian saya jawab seluruhnya.
Pertanyaan :
Di buku Bapak dijelaskan bahwa salah satu penyebab suatu penyakit tidak bisa disembuhkan adalah karena durhaka/kesalahan kepada kedua orang tua atau pun orang lain dan tidak sempat meminta maaf sebelum mereka meninggal.
1. Bagaimana dengan kesalahan yang diperbuat terhadap orang lain yang ketemu di jalan, yang tidak kita kenal, tidak tahu tinggalnya di mana, bahkan tidak ingat mukanya seperti apa? Rasanya sulit untuk meminta maaf pada mereka secara langsung. Apakah dalam hal ini, cukup memohon ampun pada Allah SWT dan mendoakan orang yang pernah kita sakiti? (Kesalahannya bukan karena menghajar orang lain dengan ilmu hitam, tapi contohnya memaki orang lain karena parkir sembarangan atau mengendarai motor melawan arah yang mengganggu kelancaran lalu lintas).
2. Menurut pengalaman Bapak, bagaimana mendeteksi sistem dalam jaringan tubuh yang sudah rusak total? Apakah ada gejala-gejala tertentu?
3. Apakah Sindrom Kelelahan Kronis bisa disembuhkan dengan methode Terapi Alif? Penyakit ini sampai sekarang blm bisa ditangani secara medis dan di banyak negara (termasuk Indonesia) masih disepelekan sehingga penderitanya dianggap hipokondria/stress berat. Para peneliti barat masih berspekulasi mengenai penyebab dan treatmentnya. Ada yang berpendapat, penyakit ini disebabkan oleh menurunnya fungsi sel untuk memproduksi energi/ATP, sehingga kerja organ-organ yang lain termasuk syaraf, otak dan sistem hormon pun terganggu. Namun sayangnya, belum ada standard treatment yg berhasil diaplikasikan dunia kedokteran berdasarkan teori, dalam kehidupan nyata. Penanganan penyakit ini masih bersifat experimental. Kerusakan fisik organ-organ tubuh tidak ditemukan.
Menurut pendapan Bapak, apakah jiwa juga yang mengatur produksi ATP/Energi dan hormon ?
Saya baca di buku Bapak, bahwa penyakit yang sudah jadi takdir Allah SWT tidak bisa disembuhkan. Biasanya ini karena rapalan, wirid, dzikir atau olah pernapasan tertentu yang bukan diniatkan karena Allah SWT (durhaka/ingkar pada Allah SWT).
4. Bagaimana kalau orang tersebut bertaubat dan berdoa? Apakah taubatnya tidak bisa diterima lagi sehingga penyakitnya tidak bisa sembuh? Saya pernah baca hadits yang isi nya, doa bisa merubah takdir seseorang.
5. Bagaimana cara taubat dan doa yang baik sehingga Insya Allah cepat dikabulkan permohonannya? Terus terang, saya masih belum terlalu paham dengan maksud dari 'berdoa dengan ilmu yang ada di Al Qur'an'.
Apakah berdoa diawali dengan memuji Allah SWT termasuk berdoa dengan ilmu?
6. Jika begitu, mengapa doa sebagian kecil orang lebih cepat dikabulkan dibanding yang lain? Contohnya, ada orang yang sakit non medis walaupun dia rajin beribadah dan tidak mengamalkan rapalan macam-macam, sudah berdoa sendiri berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun namun belum sembuh juga. Tp begitu diobati dengan Terapi Alif, dia sembuh total? Apakah yang membedakan doa sendiri dengan doa saat diterapi?
7. Bolehkah memohon kepada Allah SWT agar ditunjukkan apa penyebab sakit saya? Kalau para Nabi seperti Ayyub, kan memang manusia pilihan, jadi mungkin karena itu akhirnya diberitahu oleh Allah SWT bahwa dia diganggu Syaithan.
Saya tidak bisa melihat makhluk ghaib atau pun dimensi lain, sehingga saya tidak tau apa yang terjadi dengan jiwa saya (primer dan sekunder)
8. Bolehkah saya berdoa minta kepada Allah SWT supaya jiwa-jiwa saya diselamatkan/dibebaskan dari 'penjara' syetan/iblis/jin, walaupun saya tidak bisa melihat bahwa jiwa saya saat ini sedang ditawan mereka?
9. Dan meminta Allah SWT supaya jiwa-jiwa saya yang error diperbaiki supaya kembali harmonis hingga saya sembuh?
Setelah membaca buku-buku Bapak, saya jadi berpikir, jangan-jangan saat ini jiwa sekunder saya sedang disiksa dengan cara dipasangkan beban amat sangat berat dipundak, tangan dan seluruh bagian belakang tubuh saya, sehingga dalam kehidupan nyata, saya merasakan kelelahan yang teramat sangat (karena badan terasa berat) dan kesakitan, tidak bebas bergerak.
Saya takut kalau doa-doa saya pun bisa 'ditunggangi' syaithan sehingga makin memperburuk penyakit saya.
10. Masih dari buku Bapak juga, tentang seorang anak muda yang tidak pernah absen sholat tahajud. Apa sebab dia dibisikkan syaithan hingga bisa melihat ke mana depan, sedangkan yang saya baca di sumber lain, sholat tahajud mendekatkan Allah SWT dengan hamba Nya. Apakah itu karena Sholat Tahajudnya tidak ikhlas karena Allah SWT?
Yang terakhir, maaf kalau saya lancang, namun saya penasaran ingin tahu, mengapa Terapi Alif tidak melayani pengobatan lagi? Apakah Bapak sedang sakit?
Terima Kasih sebelumnya. Maaf Emailnya terlalu panjang. Saya berharap bisa sembuh dalam waktu dekat, namun doa-doa saya dan kedua orang tua untuk sembuh belum dikabulkan, karena itu, saya mulai berpikir, mungkin ada kesalahan-kesalahan dalam berdoa yang menghalangi dikabulkannya doa saya untuk sembuh.
Jawaban saya:
1. Kesalahan yg saya maksud adalah dg sengaja menghajar orang dg
kekuatan supra natural dilakukan sendiri atau pertolongan orang lain,
apapun bentuk kekuatan itu.
2. Kerusakan total diketahui dari tidak berfungsinya sama sekali jaringan tsb.
3. Kalau memang itu kasus nonmedis insyaAllah bisa disembuhkan dg
terapi alif. Apa yg dilakukan atau tidak dilakukan tubuh, organ tubuh
sampai ke sel2 semuanya atas order jiwa pertama.
Orang yg tidak tahu atau tidak sengaja berbuat musyrik insyaAllah
diampuni kalau dia sadar akan kesalahannya kemudian segera taubat.
Tetapi mereka yg dg sengaja dan sadar tidak akan diampuni. Setahu saya
takdir adalah ketepan Allah yg tidak dirubahNya. Hanya nasib yg
dirubahNya.
5. Do"a seseorang sangat pribadi sifatnya karena menyangkut hubungan
yg sangat khusus dia dg Allah. Kalau dia kenal sangat baik dg Allah
kemudian dia senantiasa mendekatkan diri sedekat-dekatnya pdNya,
merupakan salah satu faktor cepat dikabulkan doanya. Faktor lainnya berdo'a dg ilmu dlm pengertian ybs tahu persis persoalan yg dihadapinya dan apa yg dimintanya. Apa yg
diminta tidak boleh bertentangan dg hukum2 Allah.
6. Jawaban sama dg no 5. Kebanyakan anak manusia sulit jujur pd
dirinya sendiri sehingga pd Allahpun tidak jujur. Ini menjadi
penghalang bagi kedekatan seseorang dg Allah.
7. Boleh.
8. Boleh. Persoalannya apakah anda tahu persis bahwa jiwa2 anda
dipenjara oleh mereka karena mereka tidak mungkin berbuat semena-mena
pd anak manusia. Pasti ada sebabnya sehingga jiwa2 anda dijinkan oleh
Allah utk dipenjara oleh mereka.
9. Ya meminta lewat do'a dg ilmu. Apapun tindakan seseorang sekecil
apapun penyimpangannya dari pengajaran Allah pasti ditunggangi syetan.
10. Saya tidak tahu bagaimana tahajjud anak muda tsb, tetapi yg saya
tangkap terjadi pencemaran dlm dirinya akibat amal yg menyimpang.
Fisik saya sehat dan segar bugar, tetapi beban nonfisik saya masih
berat akibat berbagai hal yg menumpuk selama menggeluti
pengobatan nonmedis karena kesalahan saya akibat
ketidak tahuan saya, ketidak jujuran dan keingkaran pasien2 saya.
Mengenai kesalahan berdo'a seharusnya anda sendiri yg paling tahu dan
Allah tentunya. Kalau seseorang senantiasa akrab dg kebenaran disisi
Allah dlm setiap amal perbuatannya, maka bisa dipastikan bahwa ybs
akan mudah menemukan kesalahan dirinya. Mudah2an jawaban ini bisa
membantu anda.
CATATAN :
Saya telah membahas secara mendalam dan detail tentang syetan, jin dan Iblis, seperti apa mereka, bagaimana kehidupan mereka dan dimana mereka hidup, bagaimana interaksinya dengan setiap diri anak manusia yang mengakibatkan berbagai masalah bagi setiap anak manusia.
Saya juga membahas secara mendalam dan detail tentang jiwa setiap anak manusia, apa yang dimaksudkan dengan jiwa manusia, dimana keberadaan mereka, perannya yang sentral bagi setiap diri anak manusia, persoalan yang dialami oleh anak manusia ketika jiwanya error terutama kaitannya dengan penyakit nonmedis atau medis, apa yang membuatnya error dan bagaimana cara atau upaya memperbaikinya dalam arti penyembuhannya.
Semuanya saya bahas menggunakan fakta empiris yang saya peroleh selama menggeluti penyakit nonmedis 30 tahun lebih.
Untuk informasi tentang kedua buku tersebut silahkan klik ini BUKU TERAPI ALIF
TOP SELLING BUKU TERAPI ALIF
Sunday, July 24, 2011
JAWABAN TERBUKA ATAS PERTANYAAN LEWAT EMAIL PADA SAYA
Assalamu alaikum wr wb.
Sejumlah pertanyaan yang diajukan pada saya lewat emal tentang buku saya, terapi alif, penyakit nonmedis dan belum bisanya saya melayani pengobatan serta berbagai pertanyaan lainnya. Pertanyaan-pertanyaan tadi banyak yang sama dari sejumlah pengirim email. Kedepannya saya memandang perlu menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi secara terbuka di blog ini dengan mengutip pertanyaan-pertanyaan tersebut agar tidak diajukan pertanyaan yang sama pada saya oleh pengirim email berikutnya.
Kalau pengirim email keberatan akan identitasnya dimunculkan dalam kutipan pertanyaan-pertanyaannya tadi, maka identitasnya akan saya hapus.
Pertimbangan saya, dengan mempublikasikan tanya jawab semacam ini akan lebih bermanfaat bagi sekian banyak pengunjung blog ini.
Bagi anda yang tidak ingin dimunculkan pertanyaannya di blog, tolong beri catatan yang jelas yang menyatakan tidak bersedia dimuat pertanyaannya.
Pertanyaan-pertanyaan yang menyangkut buku saya, penyakit nonmedis, terapi alif dan keterkaitannya dengan diri saya, akan dijawab secara terbuka diblog ini.
Terima kasih atas perhatiannya.
Sejumlah pertanyaan yang diajukan pada saya lewat emal tentang buku saya, terapi alif, penyakit nonmedis dan belum bisanya saya melayani pengobatan serta berbagai pertanyaan lainnya. Pertanyaan-pertanyaan tadi banyak yang sama dari sejumlah pengirim email. Kedepannya saya memandang perlu menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi secara terbuka di blog ini dengan mengutip pertanyaan-pertanyaan tersebut agar tidak diajukan pertanyaan yang sama pada saya oleh pengirim email berikutnya.
Kalau pengirim email keberatan akan identitasnya dimunculkan dalam kutipan pertanyaan-pertanyaannya tadi, maka identitasnya akan saya hapus.
Pertimbangan saya, dengan mempublikasikan tanya jawab semacam ini akan lebih bermanfaat bagi sekian banyak pengunjung blog ini.
Bagi anda yang tidak ingin dimunculkan pertanyaannya di blog, tolong beri catatan yang jelas yang menyatakan tidak bersedia dimuat pertanyaannya.
Pertanyaan-pertanyaan yang menyangkut buku saya, penyakit nonmedis, terapi alif dan keterkaitannya dengan diri saya, akan dijawab secara terbuka diblog ini.
Terima kasih atas perhatiannya.
TOP SELLING BUKU TERAPI ALIF
Thursday, February 17, 2011
Sembuh Seketika Bukan Mukjizat Atau Kejaiban

Syukur pada Allah Ta’ala, buku saya yang kedua tentang penyakit nonmedis, covernya diatas terbit bulan Maret 2011, diterbitkan juga oleh PT Elex Media Komputindo ( grup KOMPAS GRAMEDIA ), bertepatan dengan ulang tahun saya yang ke-59. Saya sangat lega dengan terbitnya buku ini, mengingat saya belum bisa melayani pengobatan nonmedis ( holistic ) seperti sebelumnya. Buku ini saya maksudkan untuk melengkapi buku saya sebelumnya yang berjudul MENDIAGNOSIS PENYAKIT NONMEDIS, sehingga siapapun yang membaca dan mempelajari secara mendalam kedua buku tadi mendapatkan pengetahuan dan ilmu yang utuh tentang kasus penyakit nonmedis, mulai dari cara mengenali dan mendiagnosisnya sampai ke cara penyembuhannya secara akurat. Saya berharap dengan kedua buku ini, mereka yang menderita penyakit nonmedis bisa menyelesaikan sendiri kasus nonmedis yang dideritanya secara tepat, atau dapat menolong keluarga dan kerabat yang menderita penyakit nonmedis secara akurat.
Buku ini juga menyingkap berbagai misteri tentang anak manusia yang tersembunyi dibalik kefanaan yang kasat mata, hubungannya dengan makhluk lain di dimensi dan sub dimensi lain yang tidak terjangkau oleh panca indera anak manusia, misalnya dengan jin dan syetan yang sangat dekat dengan anak manusia. Seperti apa sebenarnya jin dan bangsa jin, dimana tempat mereka hidup, bagaimana cara hidupnya, seperti apa sosoknya, bagaimana hubungannya dengan manusia dan sebagainya. Demikian pula halnya dengan syetan, mana yang disebut syetan, seperti apa mereka, bagaimana sosok mereka, bagaimana mereka memperdaya anak manusia, dari mana asal muasal mereka, dimana mereka adanya serta bagaimana cara hidupnya, perannya bagi jin dan manusia dan sebagainya.
Pertanyaan-pertanyaan tadi saya jawab dalam buku ini disamping membeberkan misteri dibalik tokoh yang sangat terkenal yaitu IBLIS, tokoh yang telah ditetapkan oleh Allah Ta’ala sebagai MUSUH ABADI ANAK MANUSIA. Seperti apa tampang dan sosok tokoh ini, seberapa kuatnya dia, seperti apa imperium yang dimilikinya, seberapa takaran kekuatan imperium kekuasaan Iblis, bagaimana cara dia dan imperiumnya mendikte setiap anak manusia yang lahir di muka bumi ini dan berbagai hal yang berkaitan dengan Iblis dan impeiumnya. Semuanya saya singkap dalam buku ini.
TOP SELLING BUKU TERAPI ALIF
Saturday, October 02, 2010
MENDIAGNOSIS PENYAKIT NONMEDIS

JH Alifulhaq Terapi Alif
MENDIAGNOSIS PENYAKIT NONMEDIS
Sampai saat ini saya belum bisa melayani permohonan untuk pengobatan. Tetapi untuk menolong penderita penyakit nonmedis, saya menulis buku yang membahas tentang penyakit nonmedis.
Buku saya yang pertama ini dengan judul diatas ( MENDIAGNOSIS PENYAKIT NON MEDIS ) insyaAllah diterbitkan oleh PT Elex Media Komputindo grup Kompas Gramedia pada bulan Oktober ini. Sub judulnya SEBUAH KAJIAN DAN METODE TERAPI ALIF ( Pengobatan Holistik ). Pembahasan dalam buku ini saya lakukan secara jelas dan terang serta populer sehingga gampang dipahami oleh siapapun dan saya anggap sebagai suatu ilmu pengetahuan populer yang sangat bermanfaat bagi siapa saja.
Dengan mempelajari buku ini saya berharap siapa saja bisa menentukan secara tepat dan akurat apakah penyakit yang diderita seseorang kasus nonmedis atau bukan. Diagnosa awal semacam ini merupakan bahagian yang mendasar untuk pengobatan yang tepat agar penderita atau pasien tidak dirugikan. Lebih dari itu, setelah mengetahui secara tepat dan akurat faktor-faktor penyebab penyakit nonmedis, sebenarnya untuk kasus-kasus sederhana, si penderita atau keluarga penderita bisa menyembuhkan sendiri penyakit nonmedis yang dideritanya dengan bermodalkan apa yang tulis dalam buku ini.
Dalam buku ini saya bahas secara rinci metode untuk menentukan secara tepat dan akurat faktor-faktor penyebab penyakit nonmedis yang diderita oleh seseorang, dilengkapi dengan contoh penerapan metode tersebut dalam berbagai kasus yang saya tangani.
Buku ini saya tulis berdasarkan sejumlah ayat Al Qur’an dan Al Hadits yang saya bahas secara mendalam, dilengkapi dengan hukum-hukum dan rumus-rumus fisika, fakta dan informasi di bidang kedokteran dan biologi, ditambah dengan pengalaman dan pengamalan yang saya lakukan dalam menggeluti pengobatan nonmedis selama tiga puluh tahun lebih. Semuanya saya jadikan bahan pembahasan tentang segala aspek manusia dalam upaya memahami persoalan kasus-kasus nonmedis yang menimpa anak manusia.
Sejumlah pertanyaan yang mungkin menggelitik kita selama ini saya jawab dalam buku ini, misalnya pertanyaan kenapa Iblis yang telah diusir dari surga bisa menipu Adam as dan isterinya yang berada dalam surga. Bagaimana cara memahami kejadian yang diterangkan oleh Al Qur’an, bukit yang berada dihadapan Musa as hancur luluh ketika Allah Ta’ala menampakkan diri padanya, mengapa pembesar Nabi Sulaiman as bisa memindahkan singgasana Ratu Bulqis yang berada di Yaman ke Yerusalem dalam waktu sekejap.
Dalam buku ini juga saya menyingkap misteri kekuatan luar biasa yang dimiliki oleh setiap anak manusia, tetapi kebanyakan anak manusia tidak tahu dan tidak sadar akan hal ini, apalagi tentang cara penggunaan atau pemanfaatan keuatan yang luar biasa ini.
Ini baru buku pertama saya tentang penyakit nonmedis, fokus pada cara mendiagnosis penyakit nonmedis, insyaAllah saya akan singkapkan juga cara dan metode penyembuhan yang saya lakukan dengan dasar-dasar ilmu dan pemahamannya dalam buku-buku saya selanjutnya.
Menurut pihak penerbit, mereka juga melayani penjualan langsung atau pesan langsung, disamping melalui toko buku Gramedia. Penjualan langsung atau pesan langsung dibuka pada minggu kedua bulan Oktober 2010 ini, setelah tanggal 11. Alamat penerbit, PT ELEX MEDIA KOMPUTINDO, Gd. KOMPAS GRAMEDIA – Tower lt 2, Jl. Palmerah Barat 29 – 37 Jakarta Pusat 10270, telp 021 – 53650110 & 53650111. Untuk preview sebahagian isi buku ini silahkan klik disini MENDIAGNOSIS PENYAKIT NONMEDIS
TOP SELLING BUKU TERAPI ALIF
Subscribe to:
Posts (Atom)
