Custom Search
Link

Friday, July 01, 2016

ITU KUCING BENARAN APA JIN

JH Alifulhaq Terapi Alif
Seorang Kiyai sudah tua duduk sendirian di ruang tamu rumah kami pas magrib. Tiba-tiba seekor kucing jantan melompat dari teras, menerkam kaki Kiayai tersebut. Kiyai teriak ketakutan sambil mengangkat dua kakinya, diletakkan diatas jok kursi.
Saya dan keluarga sedang shalat berjama'ah di ruang tengah ketika kejadian tersebut berlangsung, saya dengar teriakan Kiyai tersebut.
Kiyai dan pengantarnya tiba saat kami sedang shalat magrib, memang dibiarkan sendiri disitu oleh pengantarnya sambil menunggu kami selesai shalat, sementara pengantarnya sudah terbiasa ke tempat kami, makanya dia ikut shalat dengan kami. Pengantar ini memang sudah dekat dengan kami karena dia hampir setiap hari membawa pasien untuk saya obati, kadang2 sampai tiga kali sehari dia datang mengantar pasien, ada keluarganya, kerabat dan temannya dibawa ke rumah kami untuk diobati. Kiyai yang diantar kali ini adalah keluarga suaminya.
Selesai shalat, saya menemui Kiyai yang masih duduk meringkuk di sofa, kakinya tidak berani diturunkan seperti ketakutan sambil memandang kearah kucing jantan yang berada di teras. Diapun bertanya sambil menujuk kucing tersebut :"Itu kucing benaran apa jin". Saya jawab bahwa itu kucing benaran, kecing jantan peliharaan kami. Tetapi dia seperti tidak percaya, terus bertanya:"Kenapa dia menerkam kaki saya". Sejenak saya terdiam memikirkan harus jawab apa. Kemudian saya jelaskan:" Banyak nyamuk yang gigit kaki Bapak, kemudian cecak yang bersembunyi dibawah kursi keluar untuk menerkam nyamuk2 yang ada di kaki Bapak. Kucing itu sebenarnya menerkam cecak tersebut".
Mendengar penjelasan ini, Kiyai kelihatan agak lega, baru dia menurunkan kakinya. Pengantarnya membimbingnya agar shalat magrib di ruang tengah. Pengantarnya bingung, kenapa Kiyai di rumah kami bisa shlat berdiri, padahal di rumahnya shalat duduk saja susah, sering shalat dalam posisi tidur.Saya tidak mau komentari hal ini karena takut dia salah paham.
Setelah shalat, Kiyai kembali ke kamar tamu, pengantarnya menjelaskan keluhan Kiyai tersebut.
Setelah tahu apa keluhan Kiyai tersebut, sayapun membaca beberapa ayat Al Qur'an. Tiba2 Kiyai tersebut bicara:"Anak muda ini tahu penyakit saya". Sebernarnya saya melakukan seperti itu untuk menjaga kehormatan Kiyai tersebut, karena kalau saya beberkan hasil diagnosis penyakitnya di depan pengantarnya, Kiyai tersebut akan malu sehingga saya tidak inginkan hal ini terjadi. Tinggal pengantarnya bingung sambil melongo dengan pertanyaan seperti yang ditanyakan ke saya di lain kesempatan, dari mana Kiyai tahu kalau saya tahu penyakitnya.
Kiyai tersebut punya banyak jema'ah dan pelanggannya kalangan atas. Orang2 yang datang padanya adalah orang2 yang minta tolong agar dapat jabatan atau jabatan naik, jabatannya tetap, bisnisnya bagus, dapat jodol yang bagus, dapat kerjaan yang bagus, mengisi benda2 perhiasan dan benda lain agar punya kekuatan atau bertuah untuk kegunaan2 tertentu dan sebagainya. Diapun ahli membuat rajahan atau jimat.
Kemudian saya tegaskan, kalau mau selamat dunia akhirat, tinggalkan semua praktek seperti apa yang dia lakukan tadi.
Tetapi Kiyai tersebut sepertinya tidak mau terima dengan argumen bahwa dia punya dasar yang sangat kuat sebagai landasan atas semua yang dia lakukan, "ada kitabnya ", tambah dia.
Saya membeberkan isi kitabnya, membuat dia penuh keheranan dengan tanda tanya darimana saya tahu isi kitabnya padahal dia tidak pernah memberi tahu judul kitabnya dan pengarangnya.
Tetapi Kiyai masih tetap ngeyel, tidak menerima nasehat saya, masih terus bertahan bahwa kitabnya adalah kitab yang sangat bagus. Kemudian saya tanya dengan tegas :"Bagus mana kita itu atau Al Qur'an ". Agak lama baru dia jawab, "bagusan Al Qur'an",
Saya melihat dia masih agak ragu menerima nasehat saya, kemudian saya tafsir dan ta'wil salah satu ayat surah Al Fatihah. Selesai saya bicara dia menangis sambil berkata:" Belasan tahun saya belajar agama di Mekkah, saya tidak pernah dapat apa yang didapat anak muda ini ". Dia terdiam sejenak masih menyucurkan airmata kemudian melanjutkan :"Saya malu jadi kiyai, yang pantas jadi kiyai anak muda ini".
Setelah agak reda, Kiyai itu bicara lagi :"Kalau dengar anda bicara, saya merasa seperti mendengar guru saya di Mekkah dulu sedang bicara pada saya". Kemudian saya tanya, siapa gurunya, dia menjelaskan bahwa gurunya dari Bima juga, dia sebutkan namanya. Saya katakan pada Kiyai tersebut bahwa itu adalah Paman saya.
Paman saya dari Bapak saya memang sejak muda mukim di Mekkah untuk mendalami ilmu agama Islam, belajar pada Syekh yang ada di Masjidil Haram. Setelah tamat, Paman saya minta izin pada Syech yang mengajarnya untuk buka pengajaran di Masjidil Haram seperti yang dilakukan gurunya itu. Gurunya mendukung sepenuhnya, dan muridnyapun banyak, tidak hanya dari Indonesia, tetapi di negara2 lain termasuk dari Arab Saudi.
Suatu ketika dalam suatu acara resmi di Bima yang dihadiri oleh sejumlah pejabat tinggi dari Jakarta, tiba2 Duta Besar Arab Saudi yang ikut hadir mencium tangan Paman saya sambil mengingatkan bahwa dia adalah salah satu muridnya di Masjidil Haram dulu. Paman saya cerita pada saya bahwa beliau tidak bisa ingat satu2 murid2nya waktu di Masjidil Haram dulu karena banyak dan asalnya dari mana2.

TOP SELLING BUKU TERAPI ALIF

MENDIAGNOSIS PENYAKIT NONMEDIS

SEMBUH SEKETIKA BUKAN MUKJIZAT ATAU KEAJAIBAN

MEMBURU IBLIS SAMPAI KE SARANGNYA


Post a Comment
 
Free Blog CounterEnglish German Translation